<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Richardus Sendjaja &#187; Opinion</title>
	<atom:link href="http://richardus.com/category/opinion/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://richardus.com</link>
	<description>All about me, family, friend, and my jobs</description>
	<lastBuildDate>Tue, 10 Jan 2012 09:06:25 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Kodok Tuli</title>
		<link>http://richardus.com/2011/12/kodok-tuli/</link>
		<comments>http://richardus.com/2011/12/kodok-tuli/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Dec 2011 09:00:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Richardus Sendjaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Joke]]></category>
		<category><![CDATA[Motivation]]></category>
		<category><![CDATA[Opinion]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://richardus.com/?p=313</guid>
		<description><![CDATA[Sekelompok kodok sedang berjalan-jalan melintasi hutan.   
Malangnya dua diantara kodok tersebut jatuh kedalam sebuah lubang. 
Kodok-kodok yang lain  mengelilingi lubang tersebut. 
Ketika melihat betapa dalamnya lubang tersebut, mereka berkata pada ke 2 kodok tersebut bahwa mereka lebih baik mati. 
Ke 2 kodok tersebut tidak memperdulikan komentar-komentar itu dan mencoba melompat keluar dari lubang itu dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Sekelompok kodok sedang berjalan-jalan melintasi hutan.  </strong> <strong></strong></p>
<p><strong>Malangnya dua diantara kodok tersebut jatuh kedalam sebuah lubang. </strong></p>
<p><strong>Kodok-kodok yang lain  mengelilingi lubang tersebut. </strong></p>
<p><strong>Ketika melihat betapa dalamnya lubang tersebut, mereka berkata pada ke 2 kodok tersebut bahwa mereka lebih baik mati. </strong></p>
<p><strong>Ke 2 kodok tersebut tidak memperdulikan komentar-komentar itu dan mencoba melompat keluar dari lubang itu dengan segala kemampuan yang ada. Kodok yang lainnya tetap mengatakan agar mereka berhenti melompat dan lebih baik mati. </strong></p>
<p><strong>Akhirnya, salah satu dari kodok yang ada dilubang itu mendengarkan kata-kata kodok yang lain dan menyerah. Dia terjatuh dan mati. Sedang kodok yang satunya tetap melanjutkan untuk melompat.</strong> <strong>Sekali lagi kerumunan kodok tersebut berteriak padanya agar berhenti berusaha dan mati saja. Dia bahkan berusaha lebih kencang dan akhirnya berhasil. </strong></p>
<p><strong>Dengan lompatan yang kencang, dia berhasil sampai diatas.</strong> <strong></strong></p>
<p><strong>Kodok lainnya takjud dengan semangat kodok yang satu ini dan bertanya</strong> <strong>&#8220;apa kau tidak mendengar teriakan kami?&#8221; Lalu kodok itu dengan dengan membaca gerakan bibir kodok yang lain menjelaskan bahwa ia tuli. </strong></p>
<p><strong>Akhirnya mereka sadar bahwa saat ini dibawah tadi mereka telah memberikan semangat</strong> <strong>kepada kodok tersebut. </strong></p>
<p><strong><em>Kata-kata positif  yang diberikan pada seseorang yang sedang &#8220;jatuh&#8221; </em></strong></p>
<p><strong><em>dapat membuat orang  tersebut  bangkit dan membantu mereka dalam menjalani hari-hari. </em></strong></p>
<p><strong><em>Sebaliknya , kata-kata buruk yang diberikan pada seseorang yang sedang jatuh dapat membunuh mereka. </em></strong></p>
<p><strong>Suarakan kata-kata kehidupan kepada mereka yang sedang menjauh dari jalur hidupnya. Kadang2 sulit dimengerti bahwa &#8220;kata-kata kehidupan &#8221; itu dapat membuat kita berpikir dan melangkah jauh dari yang kita perkirakan. </strong></p>
<p><strong>Semua orang dapat mengeluarkan &#8220;kata-kata kehidupan&#8221; untuk membuat rekan/ teman atau bahkan kepada yang tidak kenal sekalipun untuk membuatnya bangkit dari keputus-asaannya, kejatuhannya, kemalangannya. </strong></p>
<p><strong><em>Sungguh indah apabila kita dapat meluangkan waktu kita untuk</em></strong> <strong><em></em></strong></p>
<p><strong><em>memberikan spirit bagi mereka yang putus asa dan jatuh.</em></strong><strong></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://richardus.com/2011/12/kodok-tuli/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bersatu adalah Kekuatan</title>
		<link>http://richardus.com/2011/11/bersatu-adalah-kekuatan/</link>
		<comments>http://richardus.com/2011/11/bersatu-adalah-kekuatan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Nov 2011 09:00:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Richardus Sendjaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Opinion]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://richardus.com/?p=311</guid>
		<description><![CDATA[Alkisah disebuah kerajaan yang subur makmur, raja dicintai rakyatnya karena memerintah dengan bijaksana, sehingga rakyat hidup aman dan sejahtera.  Raja banyak mempunyai putra dan putri, namun sayang sejak kecil mereka tidak pernah akur. Dari bertengkat mulut hingga beradu fisik sering terjadi diantara mereka. Raja sangat gelisah dan tidak tenang memikirkan ketidakakuran anak-anaknya. Bila tercerai berai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Alkisah disebuah kerajaan yang subur makmur, raja dicintai rakyatnya karena memerintah dengan bijaksana, sehingga rakyat hidup aman dan sejahtera.  Raja banyak mempunyai putra dan putri, namun sayang sejak kecil mereka tidak pernah akur. Dari bertengkat mulut hingga beradu fisik sering terjadi diantara mereka. Raja sangat gelisah dan tidak tenang memikirkan ketidakakuran anak-anaknya. Bila tercerai berai krn tidak akur bagaimana jika harus bertempur melawan musuh, begitu pikir sang raja. </strong></p>
<p><strong>Berbagai upaya telah dilakukan untuk memberi pengertian kepada anak-anaknya agar jangan hanya memikirkan diri sendiri. Raja sangat menginginkan mereka akur sehingga bisa bahu membahu jika menghadapi serangan dari luar, serta agar bisa memberi contoh rakyatnya hidup rukun di negeri sendiri. </strong><strong></strong></p>
<p><strong>Suatu hari, saat berkumpul dimeja makan, sebelum acara makan dimulai, raja memerintahkan kepada mereka &#8220;Anakku, ambillah sebatang sumpit didepan kalian dan coba patahkan.&#8221;</strong> <strong>Walaupun  heran dengan dengan perintah sang ayah, mereka segera mematuhinya dan mematahkan sumpit itu dengan mudah.  </strong> <strong>Kemudian raja meminta sumpit tambahan kepada pelayan. &#8220;Sekarang patahkan sepasang sumpit didepan kalian itu.&#8221; Kembali mereka dengan senang hati memamerkan kekuatan fisik masing-masing dan segera patahlah sepasang sumpit tersebut. </strong></p>
<p><strong>Raja kemudian kembali meminta sumpit tambahan dan memerintahkan anak-anaknya mematahkan sumpit yang kali ini ada 3batang.  </strong> <strong>Dengan susah payah ada yang berhasil mematahkan, namun ada juga yang akhirnya menyerah. Salah seorang dari mereka lantas bertanya: &#8220;Ayah, mengapa kami harus mematahkan sumpit-sumpit ini dari satu batang hingga 3 batang. Untuk apa semua ini. ?” </strong></p>
<p><strong>“Pertanyaan bagus anakku. Sumpit-sumpit adalah sebuah perlambang kekuatan.  Jika satu batang mudah dipatahkan, maka jika beberapa batang sumpit disatukan, tidak akan mudah utk dipatahkan. Sama seperti kalian. Bila mau bersatu, maka tidak akan ada pihak luar atau musuh yg akan mengalahkan kita. Tapi bila kekuatan kita tercerai berai, maka musuh akan mudah mengalahkan kita. Ayah ingin kalian bersatu, bersama-sama membangun negara dan rakyat negeri ini. Jika kita mampu menjaga kekompakan  dan memberi contoh kepada seluruh rakyat negeri ini, maka kerajaan kita pasti akan tetap sejahtera dan semakin makmur ,jelas sang raja.  Anak-anakku usia ayah sudah lanjut. Kini saatnya ayah titipkan kerajaan ini ke tangan kalian semua.  </strong> <strong>Ayah percaya kalian akan mampu menyelesaikan masalah di negeri ini bila kalian bersatu. “</strong></p>
<p><strong>BERSATU ADALAH KEKUATAN .</strong><strong></strong></p>
<p><strong>Renungan &#8230;&#8230;</strong> <strong></strong></p>
<p><strong>Untuk membangun komunitas baik keluarga, perusahaan, pemerintah ataupun komunitas2 lainnya,mutlak diperlukan semangat kekompakan, kebersamaan dan persatuan. Tanpa kekompakan akan mudah retak rapuh dan tercerai berai. Adanya persatuan yg dibangun berlandaskan pengertian dan kepercayaan antar pribadi akan memunculkan kekuatan sinergi yg solid dan mantap. </strong><strong></strong></p>
<p><strong>Dengan modal tersebut sebuah komunitas akan bisa berkembang menuju keberhasilah yang mengagumkan.</strong><strong></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://richardus.com/2011/11/bersatu-adalah-kekuatan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Monyet vs Angin</title>
		<link>http://richardus.com/2011/10/monyet-vs-angin/</link>
		<comments>http://richardus.com/2011/10/monyet-vs-angin/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Oct 2011 09:00:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Richardus Sendjaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Joke]]></category>
		<category><![CDATA[Opinion]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://richardus.com/?p=308</guid>
		<description><![CDATA[Suatu ketika terjadihalah taruhan antara monyet dan angin. Monyet berkata sesumbar bahwa angin tidak akan sanggup menjatuhkan dirinya dari atar pohon.
Karena merasa ditantang sekaligus penasaran anginpun setuju. Tanpa banyak cakap angin segera mengeluarkan seluruh kekuatannyanya untuk meniup monyet agar  segera terhempas ke tanah. Tapi aneh, semakin kuat angin bertiup, semakin erat pula monyet berpegangan pada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Suatu ketika terjadihalah taruhan antara monyet dan angin. Monyet berkata sesumbar bahwa angin tidak akan sanggup menjatuhkan dirinya dari atar pohon.</strong></p>
<p><strong>Karena merasa ditantang sekaligus penasaran anginpun setuju. Tanpa banyak cakap angin segera mengeluarkan seluruh kekuatannyanya untuk meniup monyet agar  segera terhempas ke tanah. Tapi aneh, semakin kuat angin bertiup, semakin erat pula monyet berpegangan pada pohon. Angin kelelahan, sejauh ini ia gagal. Sedangkan  lawannya di monyet berteriak kegirangan sambil berjingkrak-jingkrak mengejek. </strong></p>
<p><strong>Untunglah angin tidak menyerah. Ia memutuskan untuk mengubah strategi  penyerangan. Jika tadi ia menggunakan kekerasan kini anginpun bertiup sepoi-sepoi .</strong> <strong>Karena merasa akan segera memenangkan pertandingan monyetpun lengah. Ia tidakmenyadari penyerangan diam-diam yang dilakukan oleh lawan. Tidak lama kemudian kelopak matanya mulai terasa berat. Rupanya angin sepoi-sepoi ini telah membuat ia mengantuk. Beberapa saat berlalu hingga rasa kantuk tak tertahan lagi olehnya, dan akhirnya &#8230;.. gubraaakkk !!!!! </strong></p>
<p><strong>Si monyetpun tersungkur , jatuh ditanah. </strong></p>
<p><strong>Renungan </strong><strong></strong></p>
<p><strong>Dari kisah diatas hikmah yang bisa kita ambil adalah :</strong> <strong></strong></p>
<p><strong>Kadang-kadang kita diuji dengan kesusahan&#8230;. dicoba dengan penderitaan didera.</strong> <strong></strong></p>
<p><strong>Kita kuat bahkan lebih kuat dari sebelumnya. </strong></p>
<p><strong>tapi jika kita diuji dengan </strong></p>
<p><strong>Kenikmatan&#8230;&#8230; </strong></p>
<p><strong>Kesenangan &#8230;.. </strong></p>
<p><strong>Kelimpahan&#8230;. </strong><strong></strong></p>
<p><strong>Jangan sampai kita terlena &#8230;.. kita harus tetap hati-hati.</strong><strong></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://richardus.com/2011/10/monyet-vs-angin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penyebab Kurang Baiknya&#8230;</title>
		<link>http://richardus.com/2011/08/penyebab-kurang-baiknya/</link>
		<comments>http://richardus.com/2011/08/penyebab-kurang-baiknya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Aug 2011 08:00:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Richardus Sendjaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opinion]]></category>
		<category><![CDATA[Religius]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://richardus.com/?p=304</guid>
		<description><![CDATA[Apa yang menjadi penyebab  &#8230;..
Apa yang menjadi penyebab kurang baiknya hubungan (perteman, kekasih, orang tua-anak, 
atasan-bawahan, saudara)? 
Kurang baiknya komunikasi menjadi salah satu penyebabnya. 
Ketika salah satu pihak hanya mau didengarkan, tanpa mau mendengarkan, 
hanya mau menggunakan mulut tanpa mau menggunakan telinga, 
hanya mau dimengerti tanpa mau dimengerti. 
Bangunlah komunikasi yang baik dengan lebih banyak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Apa yang menjadi penyebab  &#8230;..</strong><strong></strong></p>
<p><strong>Apa yang menjadi penyebab kurang baiknya hubungan (perteman, kekasih, orang tua-anak, </strong></p>
<p><strong>atasan-bawahan, saudara)? </strong></p>
<p><strong>Kurang baiknya komunikasi menjadi salah satu penyebabnya. </strong></p>
<p><strong>Ketika salah satu pihak hanya mau didengarkan, tanpa mau mendengarkan, </strong></p>
<p><strong>hanya mau menggunakan mulut tanpa mau menggunakan telinga, </strong></p>
<p><strong>hanya mau dimengerti tanpa mau dimengerti. </strong></p>
<p><strong>Bangunlah komunikasi yang baik dengan lebih banyak mendengar, </strong></p>
<p><strong>lebih banyak mengerti, lebih banyak gunakan telinga. </strong><strong></strong></p>
<p><strong>Renungan </strong><strong></strong></p>
<p><strong>Bagaimana komunikasi kita dengan Tuhan? </strong></p>
<p><strong>Ketika kita berdoa dan merasa Tuhan tidak menjawab doa kita, </strong></p>
<p><strong>apa  itu berarti hubungan kita dengan Tuhan kurang baik? </strong><strong></strong></p>
<p><strong>Kalau kita memutus doa kita berarti </strong></p>
<p><strong>sudah terjadi hubungan yang kurang baik dengan Tuhan . </strong><strong></strong></p>
<p><strong>(Karena dengan terus berdoa, kita menjaga komunikasi  yang baik dengan Tuhan) </strong></p>
<p><strong>Percayalah Tuhan akan selalu mendengarkan doa kita dan akan mengabulkannya </strong></p>
<p><strong>dengan cara NYA. </strong></p>
<p><strong>Semoga Tuhan kabulkan segala doa permohonan kita pada hari ini.</strong><strong></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://richardus.com/2011/08/penyebab-kurang-baiknya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tuhan Ubah Diri Kita Dahulu</title>
		<link>http://richardus.com/2011/07/tuhan-ubah-diri-kita-dahulu/</link>
		<comments>http://richardus.com/2011/07/tuhan-ubah-diri-kita-dahulu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Jul 2011 08:00:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Richardus Sendjaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opinion]]></category>
		<category><![CDATA[Religius]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://richardus.com/?p=302</guid>
		<description><![CDATA[Ketika kita berdoa minta Tuhan ubah hidup kita, dan 
ternyata ketika kita bangun dipagi hari, Matahari tetap terbit di timur, 
siang hari orang-orang yang kita temui tidak ada yang berubah, 
kita tetap menemui masalah setiap harinya. 
 Lalu apa yang berubah? 
Ternyata yang Tuhan ubah adalah diri kita sendiri. 
Tuhan ubah pemahaman dan cara pandang kita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Ketika kita berdoa minta Tuhan ubah hidup kita, dan </strong></p>
<p><strong>ternyata ketika kita bangun dipagi hari, Matahari tetap terbit di timur, </strong></p>
<p><strong>siang hari orang-orang yang kita temui tidak ada yang berubah, </strong></p>
<p><strong>kita tetap menemui masalah setiap harinya. </strong></p>
<p><strong> </strong><strong>Lalu apa yang berubah? </strong></p>
<p><strong>Ternyata yang Tuhan ubah adalah diri kita sendiri. </strong></p>
<p><strong>Tuhan ubah pemahaman dan cara pandang kita terhadap dunia dan </strong></p>
<p><strong>kehidupan secara keseluruhan. </strong></p>
<p><strong>Bersyukurlah untuk itu, bahwa yang Tuhan ubah adalah diri kita terlebih dahulu.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://richardus.com/2011/07/tuhan-ubah-diri-kita-dahulu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Angry and Smile</title>
		<link>http://richardus.com/2011/05/angry-and-smile/</link>
		<comments>http://richardus.com/2011/05/angry-and-smile/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 May 2011 08:00:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Richardus Sendjaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Motivation]]></category>
		<category><![CDATA[Opinion]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://richardus.com/?p=298</guid>
		<description><![CDATA[Biarlah kamu marah, tetapi jangan berbuat dosa berkata-katalah dalam hatimu ditempat tidurmu,tetapi tetaplah diam. Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat. 
Korek api mempunyai kepala tapi tidak mempunyai otak, oleh karena itu setiap kali ada gesekan kecil, sang korek api langsung terbakar. Kita mempunyai kepala &#38; juga otak; jadi kita tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Biarlah kamu marah, tetapi jangan berbuat dosa berkata-katalah dalam hatimu ditempat tidurmu,tetapi tetaplah diam. Hati yang gembira membuat muka berseri-seri,</strong> <strong>tetapi kepedihan hati mematahkan semangat. </strong><strong></strong></p>
<p><strong>Korek api mempunyai kepala tapi tidak mempunyai otak, oleh karena itu setiap kali ada gesekan kecil, sang korek api langsung terbakar.</strong> <strong>Kita mempunyai kepala &amp; juga otak;</strong> <strong>jadi kita tidak perlu kebakaran jenggot hanya karena gesekan kecil. Jadi dgn menggunakan otak kita dapat mengurangi stress. </strong><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em>Renungan </em></strong></p>
<p><strong>Tahukah kita bahwa untuk setiap detik yg diluangkan dalam bentuk kemarahan maka satu menit kebahagian telah terbuang.</strong> <strong>Mari belajar untuk mengendalikan diri, karna ketika kita bekerja dgn  emosi yg stabil,</strong> <strong>kita dapat menyingkapi kehidupan dgn lebih arif dan bijaksana.</strong> <strong></strong></p>
<p><strong>Semua yg dimulai dgn rasa marah akan berakhir dgn rasa malu dan menyesal..</strong></p>
<p><strong><em>Apakah bisa dgn hasil maksimal bila kita bekerja dengan cemberut? </em></strong></p>
<p><strong><em>Cobalah ganti cemberut kita dengan senyum , pasti hasilnya akan berbeda&#8230;</em></strong><strong>..</strong> <strong></strong></p>
<p><strong>S&#8230;&#8230;&#8230; see</strong> <strong></strong></p>
<p><strong>M &#8230;&#8230;. miracle</strong> <strong></strong></p>
<p><strong>I&#8230;&#8230;&#8230;. in </strong></p>
<p><strong>L &#8230;&#8230;.. life</strong> <strong></strong></p>
<p><strong>E&#8230;&#8230;&#8230; everyday</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://richardus.com/2011/05/angry-and-smile/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Uang Seribu dan Seratus Ribu</title>
		<link>http://richardus.com/2011/04/elang-dan-kalkun/</link>
		<comments>http://richardus.com/2011/04/elang-dan-kalkun/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Apr 2011 09:00:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Richardus Sendjaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opinion]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://richardus.com/?p=283</guid>
		<description><![CDATA[Uang seratus ribu dan seratus ribu sama-sama terbuat dari kertas, sama-sama dicetak dan diedarkan oleh dan dari Bank Indonesia. Pada saat bersamaan mereka keluar dan berpisah dari Bank dan beredar dimasyarakat. 
Empat ( 4)  bulan kemudian mereka bertemu secara tidak sengaja didalam dompet seorang pemuda. 
Kemudian terjadilah percakapan yang seratus ribu bertanya kepada yang seribu &#8220;kenapa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Uang seratus ribu dan seratus ribu sama-sama terbuat dari kertas, sama-sama dicetak dan diedarkan oleh dan dari Bank Indonesia. Pada saat bersamaan mereka keluar dan berpisah dari Bank dan beredar dimasyarakat. </strong><strong></strong></p>
<p><strong>Empat ( </strong><strong>4)  bulan kemudian mereka bertemu secara tidak sengaja didalam dompet seorang pemuda. </strong></p>
<p><strong>Kemudian terjadilah percakapan yang seratus ribu bertanya kepada yang seribu &#8220;kenapa badan kamu begitu lusuh, kotor dan bau amis &#8230;? dijawablah olehnya &#8220;karena aku begitu keluar dari bank langsung ditangan orang2 bawahan dari tukang becak, tukang sayur, penjual ikan dan ditangan pengemis&#8221;</strong></p>
<p><strong>Lalu seribu bertanya balik pada seratus ribu &#8220;kenapa kamu kelihatan begitu baru, rapi dan masih bersih?</strong> <strong>dijawabnya; &#8220;karena begitu aku keluar dari Bank, langsung disambut perempuan cantik dan beredarnyapun direstaurant mahal, di mall dan juga dihotel-hotel berbintang serta keberadaanku selalu dijaga dan jarang keluar dari dompet&#8221;</strong></p>
<p><strong>Lalu seribu bertanya lagi &#8220;pernahkah engkau mampir di tempat ibadah? dijawablah &#8220;belum pernah&#8221; </strong></p>
<p><strong>Seribupun berkata lagi ; &#8220;ketahuilah walaupun keadaanku seperti ini adanya, setiap jum&#8217;at atau minggu aku selalu mampir di mesjid2 atau digereja dan ditangan anak2 yatim,</strong> <strong>bahkah aku selalu bersyukur kepada Tuhan. Aku tidak dipandang manusia  bukan sebuah nilai tapi yang dipandang adalah sebuah manfaat &#8230;&#8230;&#8221;</strong></p>
<p><strong>Akhirnya  menangislah uang seratus ribu karena merasa besar, hebat, tinggi tapi tidak begitu bermanfaat selama ini. </strong></p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>Renungan </strong><strong></strong></span></p>
<p><strong>Jadi &#8230;&#8230;.</strong> <strong></strong></p>
<p><strong>bukan seberapa besar penghasilan kita, tapi seberapa bermanfaat penghasilan kita itu. Karena kekayaan bukanlah untuk kesombongan. </strong><strong></strong></p>
<p><strong>Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang selalu mensyukuri anugerah  dan memberkati yang lain. </strong><strong></strong></p>
<p><strong>Kita diberkati  untuk memberkati. </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://richardus.com/2011/04/elang-dan-kalkun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Petani dan Pengendara Mercy</title>
		<link>http://richardus.com/2011/03/petani-dan-pengendara-mercy/</link>
		<comments>http://richardus.com/2011/03/petani-dan-pengendara-mercy/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Mar 2011 08:00:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Richardus Sendjaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Motivation]]></category>
		<category><![CDATA[Opinion]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://richardus.com/?p=296</guid>
		<description><![CDATA[Seorang petani dan istrinya bergandengan tangan menyusuri jalan sepulang dari sawah sambil diguyur air hujan. Tiba-tiba lewat sebuah motor didepan mereka. Berkatalah petani kepada istrinya, &#8220;Lihat bu, betapa bahagianya suami istri yang naik motor itu meski mereka kehujanan, tapi mereka bisa cepat sampai dirumah tidak seperti kita yang harus lelah berjalan untuk sampai kerumah. 
Sementara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Seorang petani dan istrinya bergandengan tangan menyusuri jalan sepulang dari sawah sambil diguyur air hujan. Tiba-tiba lewat sebuah motor didepan mereka. Berkatalah petani kepada istrinya, &#8220;Lihat bu, betapa bahagianya suami istri yang naik motor itu meski mereka kehujanan, tapi mereka bisa cepat sampai dirumah tidak seperti kita yang harus lelah berjalan untuk sampai kerumah. </strong><strong></strong></p>
<p><strong>Sementara itu pengendara motor dan istrinya yang sedang berboncengan dibawah derasnya </strong><strong>air hujan melihat sebuah mobil pick up lewat didepan mereka. Pengendara motor itu berkata kepada istrinya .</strong> <strong>&#8220;Lihatlah bu, betapa bahagia orang yang naik mobil itu, mereka tidak perlu kehujanan seperti kita. </strong><strong></strong></p>
<p><strong>Didalam mobil pick up yg dikendarai sepasang suami istri terjadi perbincangan ketika sebuah sedan Mercy lewat , &#8220;Lihatlah bu, betapa bahagia orang yang naik mobil bagus itu, pasti nyaman dikendarai tidak seperti mobil kita yang sering mogok.&#8221;</strong> <strong></strong></p>
<p><strong>Pengendara mobil Mercy itu seorang pria kaya dan ketika dia melihat sepasang suami istri yg berjalan bergandengan tangan dibawah guyuran air hujan, pria kaya itu berkata dalam hati &#8220;betapa bahagianya suami istri itu, mereka dgn mesranya  berjalan bergandengan tangan sambil menyusuri indahnya jalan diperdesaan ini, sementara aku &amp; istriku tidak pernah punya waktu untuk berduaan karena kesibukan masing2.</strong></p>
<p><strong>Renungan </strong><strong></strong></p>
<p><strong>Kebahagiaan takkan pernah kita miliki jika kita hanya melihat kebahagiaan milik orang lain,dan selalu membandingkan hidup kita dengan hidup orang lain. </strong><strong></strong></p>
<p><strong>Bersyukurlah senantiasa atas hidup kita, </strong></p>
<p><strong>supaya kita tahu dimana kebahagiaan itu berada.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://richardus.com/2011/03/petani-dan-pengendara-mercy/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penguin Kaisar (Kasih)</title>
		<link>http://richardus.com/2011/02/penguin-kaisar-kasih/</link>
		<comments>http://richardus.com/2011/02/penguin-kaisar-kasih/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Feb 2011 08:00:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Richardus Sendjaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Motivation]]></category>
		<category><![CDATA[Opinion]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://richardus.com/?p=294</guid>
		<description><![CDATA[Penguin kaisar bertelur satu butir setiap musim kawin. Si jantan bertugas mengerami telur itu dengan menjepitnya diantara kaki dan lipatan lemak disekitar perutnya selama kira-kira 64 hari. Ia berada dalam kumpulan besar penguin  jantan yang berdempetan saling menghangatkan ditengah musim dingin Antartika. 
Sementara itu, si betina kembali kelaut untuk mencari makan. 
Ia akan kembali ke [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Penguin kaisar bertelur satu butir setiap musim kawin. Si jantan bertugas mengerami telur itu dengan menjepitnya diantara kaki dan lipatan lemak disekitar perutnya selama kira-kira 64 hari.</strong> <strong>Ia berada dalam kumpulan besar penguin  jantan yang berdempetan saling menghangatkan ditengah musim dingin Antartika. </strong></p>
<p><strong>Sementara itu, si betina kembali kelaut untuk mencari makan. </strong></p>
<p><strong>Ia akan kembali ke sarang menjelang anaknya menetas. </strong></p>
<p><strong>Apabila ia terlambat, si jantan dapat memberi makan anaknya dengan cadangan yang diambil </strong></p>
<p><strong>dari saluruan pencernaan sampai selama sepuluh hari. </strong></p>
<p><strong>Ia akan membuatnya kehilangan setengan bobot tubuhnya.</strong> <strong></strong></p>
<p><strong>Begitu di betina muncul, giliran si jantan pergi ke laut selanjutnya mereka bergantian mencari </strong></p>
<p><strong>makan untuk membesarkan si kecil. </strong></p>
<p><strong>Renungan </strong><strong></strong></p>
<p><strong>Kehidupan unggas kutub tersebut menggambarkan bahwa kasih itu bukan </strong></p>
<p><strong>konsep atau kata-kata manis belaka. </strong></p>
<p><strong>Kasih adalah kata kerja. </strong></p>
<p><strong>Kasih sejati diungkapkan melalui tindakan yang mengutamakan kesejahteraaan</strong> <strong></strong></p>
<p><strong>orang lain, bahkan perlu dengan mengorbankan kepentingan pribadi.</strong></p>
<p><strong>Tindakan berbicara lebih keras daripada kata-kata.</strong> <strong>Kasih tidak cukup hanya dinyatakan dengan perkataan, tetapi mesti diwujudkan dalam perbuatan</strong> <strong>sejauh mana tindakan kita mengungkapkan kasih kita bagi saudara-saudara kita. </strong></p>
<p><strong>Apakah kita bisa bermurah hati menyerahkan, waktu, tenaga, talenta, uang bagi saudara-saudara kita yang memerlukan pertolongan ?</strong></p>
<p><strong> </strong><strong>KASIH ADALAH MEMBERI DENGAN PENUH PENGORBANAN TANPA SYARAT DAN TANPA PAMRIH.</strong><strong></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://richardus.com/2011/02/penguin-kaisar-kasih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Elang Dan Kalkun</title>
		<link>http://richardus.com/2011/01/elang-dan-kalkun-2/</link>
		<comments>http://richardus.com/2011/01/elang-dan-kalkun-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 Jan 2011 08:40:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Richardus Sendjaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Joke]]></category>
		<category><![CDATA[Motivation]]></category>
		<category><![CDATA[Opinion]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://richardus.com/?p=290</guid>
		<description><![CDATA[Konon dahulu Elang dan Kalkun adalah burung yg menjadi teman yg baik.Dimanapun mereka berada, selalu pergi bersama-sama.  Tidak aneh bagi manusia untuk melihat Elang dan Kalkun terbang bersebelahan melintasi udara bebas. 
Suatu hari ketika mereka terbang, Kalkun berbicara pada Elang, &#8220;Mari kita turun dan mendapatkan sesuatu untuk dimakan. Perut saya sudah keroncongan nih!.Elang membalas, &#8220;kedengarannya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Konon dahulu Elang dan Kalkun adalah burung yg menjadi teman yg baik.Dimanapun mereka berada, selalu pergi bersama-sama.  Tidak aneh bagi manusia untuk melihat Elang dan Kalkun terbang bersebelahan melintasi udara bebas. </strong></p>
<p><strong>Suatu hari ketika mereka terbang, Kalkun berbicara pada Elang, &#8220;Mari kita turun dan mendapatkan sesuatu untuk dimakan. Perut saya sudah keroncongan nih!.Elang membalas, &#8220;kedengarannya ide yang bagus&#8221;</strong></p>
<p><strong>Jadi ke-2 burung melayang turun kebumi, melihat beberapa binatang lain sedang makan dan </strong><strong>memutuskan bergabung dengan mereka. Mereka mendarat dekat dengan seekor sapi. </strong></p>
<p><strong>Sapi ini tengah sibuk makan jagung, namun sewaktu memperhatikan bahwa ada Elang dan Kalkun</strong> <strong>sedang berdiri dekat dengannya, Sapi berkata, &#8220;Selamat datang, silahkan cicipi jagung manis ini.&#8221;</strong> <strong></strong></p>
<p><strong>Ajakan ini membuat ke2 burung ini terkejut. </strong></p>
<p><strong>Mereka tidak biasa jika ada binatang lain  berbagi soal makanan mereka dengan mudahnya. </strong></p>
<p><strong>Elang bertanya, &#8220;Mengapa kamu bersedia membagikan jagung milikmu bagi kami? . </strong></p>
<p><strong>Sapi menjawab, &#8220;oh , kami punya banyak makanan disini. Tuan Petani memberikan bagi kami apapun yang kami inginkan&#8221; dengan undangan ini, Elang dan Kalkun menjadi terkejut dan menelan ludah.Sebelum selesai, Kalkun menanyakan lebih jauh tentang tuan Petani. </strong></p>
<p><strong>Sapi menjawab, &#8220;Yah, dia menumbuhkan sendiri semua makanan kami. Kami sama sekali tidak perlu bekerja untuk makanan&#8221; </strong></p>
<p><strong>Kalkun tambah bingung, &#8220;Maksud kamu, tuan petani itu memberikan padamu semua yg ingin kamu makan?&#8221; </strong></p>
<p><strong>Sapi menjawab, &#8220;tepat sekali!. Tidak hanya itu, dia juga memberikan pada kami tempat untuk tinggal .&#8221;</strong> <strong></strong></p>
<p><strong>Elang dan Kalkun menjadi syok berat!</strong> <strong></strong></p>
<p><strong>Mereka belum pernah mendengar hal seperti ini. </strong></p>
<p><strong>Mereka selalu harus mencari makanan dan bekerja untuk mencari naungan. </strong><strong></strong></p>
<p><strong>Ketika datang waktunya u/ meninggalkan tempat itu, Kalkun &amp; Elang mulai berdiskusi lagi tentang situasi ini.</strong> <strong>Kalkun berkata pada Elang. &#8220;Mungkin kita harus tinggal disini. Kita bisa mendapatkan semua makanan</strong> <strong>yg kita inginkan tanpa perlu bekerja. Dan gudang yang disana cocok dijadikan sarang seperti yang telah pernah kita bangun. Disamping itu saya telah lelah bila harus selalu bekerja untuk dapat hidup. </strong></p>
<p><strong>Elang juga goyah dengan pengalaman ini. </strong></p>
<p><strong>&#8221; Saya tidak tahu tentang semua ini. Kedengarannya terlalu baik untuk diterima. Saya menemukan semua ini sulit untuk dipercaya bahwa ada pihak yg menjdapat sesuatu tanpa imbalan. Disamping itu saya lebih suka terbang tinggi dan beban mengarungi langit luas. Dan bekerja untuk menyediakan makanan dan tempat bernaung tidaklah terlalu buruk. Pada kenyataannya, saya menemukan hal itu sebagai tantangan menarik&#8221;.</strong></p>
<p><strong>Akhirnya Kalkun memikirkan semuanya dan memutuskan u/ menetap dimana ada makanan gratis dan juga naungan. Namun Elang memutuskan bahwa ia amat mencintai kemerdekaannya dibanding menyerahkannya begitu saja. Ia menikmati  tantangan rutin yang menbuatnya hidup. Jadi setelah mengucapkan selamat berpisah untuk teman lamanya  si kalkun,Elang menetapkan penerbangan untuk petualangan baru yang ia tidak ketahui bagaimana kedepannya. </strong></p>
<p><strong>Semuanya berjalan baik bagi si Kalkun. Dia makan semua yang ia inginkan. Dia tidak pernah bekerja. Dia bertumbuh menjadi burung gemuk dan malas. Namun suatu hari dia mendengar istri tuan Petani menyebutkan bahwa hari raya Thanks giving akan datang beberapa hari lagi dan alangkah indahnya jika ada hidangan Kalkun panggang untuk makan malam. Mendengar hal itu, si Kalkun memutuskan sudah waktunya untuk pergi dari pertanian itu dan bergabung kembali dengan teman baiknnya, si Elang. Namun ketika dia berusaha untuk terbang, dia menemukan bahwa ia telah tumbuh gemuk dan malas. Bukannya dapat terbang, dia justru hanya bisa mengepak-ngepakkan sayapnya. Akhirnya di hari Thanks giving keluarga tuan Petani duduk bersama menghadapi panggang daging Kalkun besar.</strong></p>
<p><strong>Renungan </strong><strong></strong></p>
<p><strong>Ketika kita  menyerah pada tantangan hidup dalam pencarian keamanan, </strong></p>
<p><strong>kita  mungkin sedang menyerahkan kemerdekaan kita &#8230;&#8230; </strong></p>
<p><strong>dan kita akan menyesalinya setelah segalanya berlalu  </strong></p>
<p><strong>dan tidak ada KESEMPATAN lagi &#8230;&#8230; </strong></p>
<p><strong>Seperti pepatah kuno &#8220;selalu ada keju gratis dalam perangkap tikus&#8221;</strong> <strong></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://richardus.com/2011/01/elang-dan-kalkun-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

