<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Richardus Sendjaja &#187; Keluarga</title>
	<atom:link href="http://richardus.com/category/keluarga/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://richardus.com</link>
	<description>All about me, family, friend, and my jobs</description>
	<lastBuildDate>Tue, 10 Jan 2012 09:06:25 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Bersatu adalah Kekuatan</title>
		<link>http://richardus.com/2011/11/bersatu-adalah-kekuatan/</link>
		<comments>http://richardus.com/2011/11/bersatu-adalah-kekuatan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Nov 2011 09:00:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Richardus Sendjaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Opinion]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://richardus.com/?p=311</guid>
		<description><![CDATA[Alkisah disebuah kerajaan yang subur makmur, raja dicintai rakyatnya karena memerintah dengan bijaksana, sehingga rakyat hidup aman dan sejahtera.  Raja banyak mempunyai putra dan putri, namun sayang sejak kecil mereka tidak pernah akur. Dari bertengkat mulut hingga beradu fisik sering terjadi diantara mereka. Raja sangat gelisah dan tidak tenang memikirkan ketidakakuran anak-anaknya. Bila tercerai berai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Alkisah disebuah kerajaan yang subur makmur, raja dicintai rakyatnya karena memerintah dengan bijaksana, sehingga rakyat hidup aman dan sejahtera.  Raja banyak mempunyai putra dan putri, namun sayang sejak kecil mereka tidak pernah akur. Dari bertengkat mulut hingga beradu fisik sering terjadi diantara mereka. Raja sangat gelisah dan tidak tenang memikirkan ketidakakuran anak-anaknya. Bila tercerai berai krn tidak akur bagaimana jika harus bertempur melawan musuh, begitu pikir sang raja. </strong></p>
<p><strong>Berbagai upaya telah dilakukan untuk memberi pengertian kepada anak-anaknya agar jangan hanya memikirkan diri sendiri. Raja sangat menginginkan mereka akur sehingga bisa bahu membahu jika menghadapi serangan dari luar, serta agar bisa memberi contoh rakyatnya hidup rukun di negeri sendiri. </strong><strong></strong></p>
<p><strong>Suatu hari, saat berkumpul dimeja makan, sebelum acara makan dimulai, raja memerintahkan kepada mereka &#8220;Anakku, ambillah sebatang sumpit didepan kalian dan coba patahkan.&#8221;</strong> <strong>Walaupun  heran dengan dengan perintah sang ayah, mereka segera mematuhinya dan mematahkan sumpit itu dengan mudah.  </strong> <strong>Kemudian raja meminta sumpit tambahan kepada pelayan. &#8220;Sekarang patahkan sepasang sumpit didepan kalian itu.&#8221; Kembali mereka dengan senang hati memamerkan kekuatan fisik masing-masing dan segera patahlah sepasang sumpit tersebut. </strong></p>
<p><strong>Raja kemudian kembali meminta sumpit tambahan dan memerintahkan anak-anaknya mematahkan sumpit yang kali ini ada 3batang.  </strong> <strong>Dengan susah payah ada yang berhasil mematahkan, namun ada juga yang akhirnya menyerah. Salah seorang dari mereka lantas bertanya: &#8220;Ayah, mengapa kami harus mematahkan sumpit-sumpit ini dari satu batang hingga 3 batang. Untuk apa semua ini. ?” </strong></p>
<p><strong>“Pertanyaan bagus anakku. Sumpit-sumpit adalah sebuah perlambang kekuatan.  Jika satu batang mudah dipatahkan, maka jika beberapa batang sumpit disatukan, tidak akan mudah utk dipatahkan. Sama seperti kalian. Bila mau bersatu, maka tidak akan ada pihak luar atau musuh yg akan mengalahkan kita. Tapi bila kekuatan kita tercerai berai, maka musuh akan mudah mengalahkan kita. Ayah ingin kalian bersatu, bersama-sama membangun negara dan rakyat negeri ini. Jika kita mampu menjaga kekompakan  dan memberi contoh kepada seluruh rakyat negeri ini, maka kerajaan kita pasti akan tetap sejahtera dan semakin makmur ,jelas sang raja.  Anak-anakku usia ayah sudah lanjut. Kini saatnya ayah titipkan kerajaan ini ke tangan kalian semua.  </strong> <strong>Ayah percaya kalian akan mampu menyelesaikan masalah di negeri ini bila kalian bersatu. “</strong></p>
<p><strong>BERSATU ADALAH KEKUATAN .</strong><strong></strong></p>
<p><strong>Renungan &#8230;&#8230;</strong> <strong></strong></p>
<p><strong>Untuk membangun komunitas baik keluarga, perusahaan, pemerintah ataupun komunitas2 lainnya,mutlak diperlukan semangat kekompakan, kebersamaan dan persatuan. Tanpa kekompakan akan mudah retak rapuh dan tercerai berai. Adanya persatuan yg dibangun berlandaskan pengertian dan kepercayaan antar pribadi akan memunculkan kekuatan sinergi yg solid dan mantap. </strong><strong></strong></p>
<p><strong>Dengan modal tersebut sebuah komunitas akan bisa berkembang menuju keberhasilah yang mengagumkan.</strong><strong></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://richardus.com/2011/11/bersatu-adalah-kekuatan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Angry and Smile</title>
		<link>http://richardus.com/2011/05/angry-and-smile/</link>
		<comments>http://richardus.com/2011/05/angry-and-smile/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 May 2011 08:00:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Richardus Sendjaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Motivation]]></category>
		<category><![CDATA[Opinion]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://richardus.com/?p=298</guid>
		<description><![CDATA[Biarlah kamu marah, tetapi jangan berbuat dosa berkata-katalah dalam hatimu ditempat tidurmu,tetapi tetaplah diam. Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat. 
Korek api mempunyai kepala tapi tidak mempunyai otak, oleh karena itu setiap kali ada gesekan kecil, sang korek api langsung terbakar. Kita mempunyai kepala &#38; juga otak; jadi kita tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Biarlah kamu marah, tetapi jangan berbuat dosa berkata-katalah dalam hatimu ditempat tidurmu,tetapi tetaplah diam. Hati yang gembira membuat muka berseri-seri,</strong> <strong>tetapi kepedihan hati mematahkan semangat. </strong><strong></strong></p>
<p><strong>Korek api mempunyai kepala tapi tidak mempunyai otak, oleh karena itu setiap kali ada gesekan kecil, sang korek api langsung terbakar.</strong> <strong>Kita mempunyai kepala &amp; juga otak;</strong> <strong>jadi kita tidak perlu kebakaran jenggot hanya karena gesekan kecil. Jadi dgn menggunakan otak kita dapat mengurangi stress. </strong><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em>Renungan </em></strong></p>
<p><strong>Tahukah kita bahwa untuk setiap detik yg diluangkan dalam bentuk kemarahan maka satu menit kebahagian telah terbuang.</strong> <strong>Mari belajar untuk mengendalikan diri, karna ketika kita bekerja dgn  emosi yg stabil,</strong> <strong>kita dapat menyingkapi kehidupan dgn lebih arif dan bijaksana.</strong> <strong></strong></p>
<p><strong>Semua yg dimulai dgn rasa marah akan berakhir dgn rasa malu dan menyesal..</strong></p>
<p><strong><em>Apakah bisa dgn hasil maksimal bila kita bekerja dengan cemberut? </em></strong></p>
<p><strong><em>Cobalah ganti cemberut kita dengan senyum , pasti hasilnya akan berbeda&#8230;</em></strong><strong>..</strong> <strong></strong></p>
<p><strong>S&#8230;&#8230;&#8230; see</strong> <strong></strong></p>
<p><strong>M &#8230;&#8230;. miracle</strong> <strong></strong></p>
<p><strong>I&#8230;&#8230;&#8230;. in </strong></p>
<p><strong>L &#8230;&#8230;.. life</strong> <strong></strong></p>
<p><strong>E&#8230;&#8230;&#8230; everyday</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://richardus.com/2011/05/angry-and-smile/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Petani dan Pengendara Mercy</title>
		<link>http://richardus.com/2011/03/petani-dan-pengendara-mercy/</link>
		<comments>http://richardus.com/2011/03/petani-dan-pengendara-mercy/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Mar 2011 08:00:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Richardus Sendjaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Motivation]]></category>
		<category><![CDATA[Opinion]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://richardus.com/?p=296</guid>
		<description><![CDATA[Seorang petani dan istrinya bergandengan tangan menyusuri jalan sepulang dari sawah sambil diguyur air hujan. Tiba-tiba lewat sebuah motor didepan mereka. Berkatalah petani kepada istrinya, &#8220;Lihat bu, betapa bahagianya suami istri yang naik motor itu meski mereka kehujanan, tapi mereka bisa cepat sampai dirumah tidak seperti kita yang harus lelah berjalan untuk sampai kerumah. 
Sementara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Seorang petani dan istrinya bergandengan tangan menyusuri jalan sepulang dari sawah sambil diguyur air hujan. Tiba-tiba lewat sebuah motor didepan mereka. Berkatalah petani kepada istrinya, &#8220;Lihat bu, betapa bahagianya suami istri yang naik motor itu meski mereka kehujanan, tapi mereka bisa cepat sampai dirumah tidak seperti kita yang harus lelah berjalan untuk sampai kerumah. </strong><strong></strong></p>
<p><strong>Sementara itu pengendara motor dan istrinya yang sedang berboncengan dibawah derasnya </strong><strong>air hujan melihat sebuah mobil pick up lewat didepan mereka. Pengendara motor itu berkata kepada istrinya .</strong> <strong>&#8220;Lihatlah bu, betapa bahagia orang yang naik mobil itu, mereka tidak perlu kehujanan seperti kita. </strong><strong></strong></p>
<p><strong>Didalam mobil pick up yg dikendarai sepasang suami istri terjadi perbincangan ketika sebuah sedan Mercy lewat , &#8220;Lihatlah bu, betapa bahagia orang yang naik mobil bagus itu, pasti nyaman dikendarai tidak seperti mobil kita yang sering mogok.&#8221;</strong> <strong></strong></p>
<p><strong>Pengendara mobil Mercy itu seorang pria kaya dan ketika dia melihat sepasang suami istri yg berjalan bergandengan tangan dibawah guyuran air hujan, pria kaya itu berkata dalam hati &#8220;betapa bahagianya suami istri itu, mereka dgn mesranya  berjalan bergandengan tangan sambil menyusuri indahnya jalan diperdesaan ini, sementara aku &amp; istriku tidak pernah punya waktu untuk berduaan karena kesibukan masing2.</strong></p>
<p><strong>Renungan </strong><strong></strong></p>
<p><strong>Kebahagiaan takkan pernah kita miliki jika kita hanya melihat kebahagiaan milik orang lain,dan selalu membandingkan hidup kita dengan hidup orang lain. </strong><strong></strong></p>
<p><strong>Bersyukurlah senantiasa atas hidup kita, </strong></p>
<p><strong>supaya kita tahu dimana kebahagiaan itu berada.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://richardus.com/2011/03/petani-dan-pengendara-mercy/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penguin Kaisar (Kasih)</title>
		<link>http://richardus.com/2011/02/penguin-kaisar-kasih/</link>
		<comments>http://richardus.com/2011/02/penguin-kaisar-kasih/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Feb 2011 08:00:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Richardus Sendjaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Motivation]]></category>
		<category><![CDATA[Opinion]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://richardus.com/?p=294</guid>
		<description><![CDATA[Penguin kaisar bertelur satu butir setiap musim kawin. Si jantan bertugas mengerami telur itu dengan menjepitnya diantara kaki dan lipatan lemak disekitar perutnya selama kira-kira 64 hari. Ia berada dalam kumpulan besar penguin  jantan yang berdempetan saling menghangatkan ditengah musim dingin Antartika. 
Sementara itu, si betina kembali kelaut untuk mencari makan. 
Ia akan kembali ke [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Penguin kaisar bertelur satu butir setiap musim kawin. Si jantan bertugas mengerami telur itu dengan menjepitnya diantara kaki dan lipatan lemak disekitar perutnya selama kira-kira 64 hari.</strong> <strong>Ia berada dalam kumpulan besar penguin  jantan yang berdempetan saling menghangatkan ditengah musim dingin Antartika. </strong></p>
<p><strong>Sementara itu, si betina kembali kelaut untuk mencari makan. </strong></p>
<p><strong>Ia akan kembali ke sarang menjelang anaknya menetas. </strong></p>
<p><strong>Apabila ia terlambat, si jantan dapat memberi makan anaknya dengan cadangan yang diambil </strong></p>
<p><strong>dari saluruan pencernaan sampai selama sepuluh hari. </strong></p>
<p><strong>Ia akan membuatnya kehilangan setengan bobot tubuhnya.</strong> <strong></strong></p>
<p><strong>Begitu di betina muncul, giliran si jantan pergi ke laut selanjutnya mereka bergantian mencari </strong></p>
<p><strong>makan untuk membesarkan si kecil. </strong></p>
<p><strong>Renungan </strong><strong></strong></p>
<p><strong>Kehidupan unggas kutub tersebut menggambarkan bahwa kasih itu bukan </strong></p>
<p><strong>konsep atau kata-kata manis belaka. </strong></p>
<p><strong>Kasih adalah kata kerja. </strong></p>
<p><strong>Kasih sejati diungkapkan melalui tindakan yang mengutamakan kesejahteraaan</strong> <strong></strong></p>
<p><strong>orang lain, bahkan perlu dengan mengorbankan kepentingan pribadi.</strong></p>
<p><strong>Tindakan berbicara lebih keras daripada kata-kata.</strong> <strong>Kasih tidak cukup hanya dinyatakan dengan perkataan, tetapi mesti diwujudkan dalam perbuatan</strong> <strong>sejauh mana tindakan kita mengungkapkan kasih kita bagi saudara-saudara kita. </strong></p>
<p><strong>Apakah kita bisa bermurah hati menyerahkan, waktu, tenaga, talenta, uang bagi saudara-saudara kita yang memerlukan pertolongan ?</strong></p>
<p><strong> </strong><strong>KASIH ADALAH MEMBERI DENGAN PENUH PENGORBANAN TANPA SYARAT DAN TANPA PAMRIH.</strong><strong></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://richardus.com/2011/02/penguin-kaisar-kasih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mickey Holiday</title>
		<link>http://richardus.com/2009/12/mickey-holiday/</link>
		<comments>http://richardus.com/2009/12/mickey-holiday/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Dec 2009 14:03:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Richardus Sendjaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Medan]]></category>
		<category><![CDATA[PT. Anugerah Pharmindo Lestari]]></category>
		<category><![CDATA[Mickey Holiday Medan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://richardus.com/?p=213</guid>
		<description><![CDATA[Di Medan, ada tempat hiburan yang bernama Mickey Holiday. Lokasinya berada di dataran tinggi, kota Berastagih dengan udara yang sejuk, anginnya segar sekali.
Tanggal 12-13 Des 2009,  divisi sales (Team Ethical dan Multiline) yang dimotori oleh Area Sales Manager (ASM) yaitu Salam Thamrin dari Divisi Ethical dan Irwan Zuliadi atau nama top-nya Abeng dari divisi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;">Di Medan, ada tempat hiburan yang bernama Mickey Holiday. Lokasinya berada di dataran tinggi, kota Berastagih dengan udara yang sejuk, anginnya segar sekali.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;">Tanggal 12-13 Des 2009,  divisi sales (Team Ethical dan Multiline) yang dimotori oleh Area Sales Manager (ASM) yaitu Salam Thamrin dari Divisi Ethical dan Irwan Zuliadi atau nama top-nya Abeng dari divisi Multiline, mengadakan acara kebersamaan dengaan menyewa 3 villa di Berastagih.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;">Mereka berangkat pada tanggal 12 Des 2009 setelah selesai kantor (kebetulan hari sabtu), dan menginap di villa terlebih dahulu.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;">Baru esok harinya kami bisa bertemu, karena saya berhalangan hadir dan tidak bisa menginap, anak kesayangan sedang kurang sehat dan sorenya baru ke dokter.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;">Pertemuan pertama dengan Irwan Rahmat (FSS Multiline) sedang berjalan dengan istri dan anaknya. Kondisi Irwan Rahmat saat itu sedang &#8220;pusing&#8221; karena baru saja di putar-putar oleh permainan yang namanya Rolling Stone alias batu berputar. Mukanya agak pucat pasi. (ckckck&#8230;., tapi senang).</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;">Dan tidak lama kemudian berjumpa dengan Salam Thamrin yang sedang asyik bermain Bom Bom Car, bersama teamnya.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;">Pertemuan selanjutnya, dengan Abeng dan Ping2 (CA) di area bermain game koin.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;">Seru.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;">Acara kantor yang sukses.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;">Salut kepada team sales, dengan dana swadaya bisa mewujudkan suatu acara kebersamaan.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;">Bravo! team sales APL Medan.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;">Oiya, kami sekeluarga (saya, istri dan anak tercinta) juga menikmati acara rekreasi yang menyenangkan di Mickey Holiday.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;">Memperkenalkan, satu rombongan lainnya yang ikut beriringan adalah kendaraan Kacab Enseval &#8211; Pak Suwandi bersama istri dan kedua anaknya.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;">Rombongan AAM, Kacab AAM &#8211; Pak Ali bersama istri dan ketiga anaknya juga ada acara kantor di Berastagih. Team AAM juga masuk dan bermain di Mickey Holiday. Hanya kami tidak bisa ketemuan, Pak Ali ada acara di Medan sore hari sehingga siangnya sudah turun lagi ke Medan.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;">Sebelum kembali ke Medan, kami mampir dulu di Pasar Berastagih untuk sekedar membeli buah dan sayur segar.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;">Agak sore kami pulang ke Medan, saat turun ke Medan, hujan cukup deras.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;">Cukup sudah untuk keceriaan hari ini.</span></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://richardus.com/2009/12/mickey-holiday/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kehidupan perkawinan (sedih, nih…)</title>
		<link>http://richardus.com/2009/07/kehidupan-perkawinan-sedih-nih%e2%80%a6/</link>
		<comments>http://richardus.com/2009/07/kehidupan-perkawinan-sedih-nih%e2%80%a6/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Jul 2009 08:01:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Richardus Sendjaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Opinion]]></category>
		<category><![CDATA[Reflection]]></category>
		<category><![CDATA[Kehidupan perkawinan]]></category>
		<category><![CDATA[Pernikahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://richardus.com/?p=5</guid>
		<description><![CDATA[Kehidupan pernikahan kami awalnya baik2 saja menurutku. Meskipun menjelang pernikahan selalu terjadi konflik, tapi setelah menikah Mario tampak baik dan lebih menuruti apa mauku.
Kami tidak pernah bertengkar hebat, kalau marah dia cenderung diam dan pergi kekantornya bekerja sampai subuh, baru pulang kerumah, mandi, kemudian mengantar anak kami sekolah. Tidurnya sangat sedikit, makannya pun sedikit. Aku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Kehidupan pernikahan kami awalnya baik2 saja menurutku. Meskipun menjelang pernikahan selalu terjadi konflik, tapi setelah menikah Mario tampak baik dan lebih menuruti apa mauku.</p>
<p style="text-align: justify;">Kami tidak pernah bertengkar hebat, kalau marah dia cenderung diam dan pergi kekantornya bekerja sampai subuh, baru pulang kerumah, mandi, kemudian mengantar anak kami sekolah. Tidurnya sangat sedikit, makannya pun sedikit. Aku pikir dia workaholic.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia menciumku maksimal 2x sehari, pagi menjelang kerja, dan saat dia pulang kerja, itupun kalau aku masih bangun. Karena waktu pacaran dia tidak pernah romantis, aku pikir, memang dia tidak romantis, dan tidak memerlukan hal2 seperti itu sebagai ungkapan sayang.</p>
<p style="text-align: justify;">Kami jarang ngobrol sampai malam, kami jarang pergi nonton berdua, bahkan makan berdua diluarpun hampir tidak pernah. Kalau kami makan di meja makan berdua, kami asyik sendiri dengan sendok garpu kami, bukan obrolan yang terdengar, hanya denting piring yang beradu dengan sendok garpu.</p>
<p style="text-align: justify;">Kalau hari libur, dia lebih sering hanya tiduran dikamar, atau main dengan anak2 kami, dia jarang sekali tertawa lepas. Karena dia sangat pendiam, aku menyangka dia memang tidak suka tertawa lepas.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku mengira rumah tangga kami baik2 saja selama 8 tahun pernikahan kami. Sampai suatu ketika, disuatu hari yang terik, saat itu suamiku tergolek sakit dirumah sakit, karena jarang makan, dan sering jajan di kantornya, dibanding makan dirumah, dia kena typhoid, dan harus dirawat di RS, karena sampai terjadi perforasi di ususnya. Pada saat dia masih di ICU, seorang perempuan datang menjenguknya. Dia memperkenalkan diri, bernama meisha, temannya Mario saat dulu kuliah.</p>
<p style="text-align: justify;">Meisha tidak secantik aku, dia begitu sederhana, tapi aku tidak pernah melihat mata yang begitu cantik seperti yang dia miliki. Matanya bersinar indah, penuh kehangatan dan penuh cinta, ketika dia berbicara, seakan2 waktu berhenti berputar dan terpana dengan kalimat2nya yang ringan dan penuh pesona. Setiap orang, laki2 maupun perempuan bahkan mungkin serangga yang lewat, akan jatuh cinta begitu mendengar dia bercerita.</p>
<p style="text-align: justify;">Meisha tidak pernah kenal dekat dengan Mario selama mereka kuliah dulu, Meisha bercerita Mario sangat pendiam, sehingga jarang punya teman yang akrab. 5 bulan lalu mereka bertemu, karena ada pekerjaan kantor mereka yang mempertemukan mereka. Meisha yang bekerja di advertising akhirnya bertemu dengan Mario yang sedang membuat iklan untuk perusahaan tempatnya bekerja.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku mulai mengingat2 5 bulan lalu ada perubahan yang cukup drastis pada Mario, setiap mau pergi kerja, dia tersenyum manis padaku, dan dalam sehari bisa menciumku lebih dari 3x. Dia membelikan aku parfum baru, dan mulai sering tertawa lepas. Tapi disaat lain, dia sering termenung didepan komputernya. Atau termenung memegang Hp-nya. Kalau aku tanya, dia bilang, ada pekerjaan yang membingungkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Suatu saat Meisha pernah datang pada saat Mario sakit dan masih dirawat di RS. Aku sedang memegang sepiring nasi beserta lauknya dengan wajah kesal, karena Mario tidak juga mau aku suapi. Meisha masuk kamar, dan menyapa dengan suara riangnya,</p>
<p style="text-align: justify;">” Hai Rima, kenapa dengan anak sulungmu yang nomor satu ini ? tidak mau makan juga? uhh… dasar anak nakal, sini piringnya, ” lalu dia terus mengajak Mario bercerita sambil menyuapi Mario, tiba2 saja sepiring nasi itu sudah habis ditangannya. Dan…..aku tidak pernah melihat tatapan penuh cinta yang terpancar dari mata suamiku, seperti siang itu, tidak pernah seumur hidupku yang aku lalui bersamanya, tidak pernah sedetikpun !</p>
<p style="text-align: justify;">Hatiku terasa sakit, lebih sakit dari ketika dia membalikkan tubuhnya membelakangi aku saat aku memeluknya dan berharap dia mencumbuku. Lebih sakit dari rasa sakit setelah operasi caesar ketika aku melahirkan anaknya. Lebih sakit dari rasa sakit, ketika dia tidak mau memakan masakan yang aku buat dengan susah payah. Lebih sakit daripada sakit ketika dia tidak pulang kerumah saat ulang tahun perkawinan kami kemarin. Lebih sakit dari rasa sakit ketika dia lebih suka mencumbu komputernya dibanding aku.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi aku tidak pernah bisa marah setiap melihat perempuan itu. Meisha begitu manis, dia bisa hadir tiba2, membawakan donat buat anak2, dan membawakan ekrol kesukaanku. Dia mengajakku jalan2, kadang mengajakku nonton. kali lain, dia datang bersama suami dan ke-2 anaknya yang lucu2.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku tidak pernah bertanya, apakah suamiku mencintai perempuan berhati bidadari itu? karena tanpa bertanya pun aku sudah tahu, apa yang bergejolak dihatinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Suatu sore, mendung begitu menyelimuti jakarta , aku tidak pernah menyangka, hatikupun akan mendung, bahkan gerimis kemudian.</p>
<p style="text-align: justify;">Anak sulungku, seorang anak perempuan cantik berusia 7 tahun, rambutnya keriting ikal dan cerdasnya sama seperti ayahnya. Dia berhasil membuka password email Papa nya, dan memanggilku, ” Mama, mau lihat surat papa buat tante Meisha ?”</p>
<p style="text-align: justify;">Aku tertegun memandangnya, dan membaca surat elektronik itu,</p>
<p style="text-align: justify;">Dear Meisha,</p>
<p style="text-align: justify;">Kehadiranmu bagai beribu bintang gemerlap yang mengisi seluruh relung hatiku, aku tidak pernah merasakan jatuh cinta seperti ini, bahkan pada Rima. Aku mencintai Rima karena kondisi yang mengharuskan aku mencintainya, karena dia ibu dari anak2ku.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika aku menikahinya, aku tetap tidak tahu apakah aku sungguh2 mencintainya. Tidak ada perasaan bergetar seperti ketika aku memandangmu, tidak ada perasaan rindu yang tidak pernah padam ketika aku tidak menjumpainya. Aku hanya tidak ingin menyakiti perasaannya. Ketika konflik2 terjadi saat kami pacaran dulu, aku sebenarnya kecewa, tapi aku tidak sanggup mengatakan padanya bahwa dia bukanlah perempuan yang aku cari untuk mengisi kekosongan hatiku. Hatiku tetap terasa hampa, meskipun aku menikahinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku tidak tahu, bagaimana caranya menumbuhkan cinta untuknya, seperti ketika cinta untukmu tumbuh secara alami, seperti pohon2 beringin yang tumbuh kokoh tanpa pernah mendapat siraman dari pemiliknya. Seperti pepohonan di hutan2 belantara yang tidak pernah minta disirami, namun tumbuh dengan lebat secara alami. Itu yang aku rasakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku tidak akan pernah bisa memilikimu, karena kau sudah menjadi milik orang lain dan aku adalah laki2 yang sangat memegang komitmen pernikahan kami. Meskipun hatiku terasa hampa, itu tidaklah mengapa, asal aku bisa melihat Rima bahagia dan tertawa, dia bisa mendapatkan segala yang dia inginkan selama aku mampu. Dia boleh mendapatkan seluruh hartaku dan tubuhku, tapi tidak jiwaku dan cintaku, yang hanya aku berikan untukmu. Meskipun ada tembok yang menghalangi kita, aku hanya berharap bahwa engkau mengerti, you are the only one in my heart.</p>
<p style="text-align: justify;">yours,</p>
<p style="text-align: justify;">Mario</p>
<p style="text-align: justify;">Mataku terasa panas. Jelita, anak sulungku memelukku erat. Meskipun baru berusia 7 tahun, dia adalah malaikat jelitaku yang sangat mengerti dan menyayangiku.</p>
<p style="text-align: justify;">Suamiku tidak pernah mencintaiku. Dia tidak pernah bahagia bersamaku. Dia mencintai perempuan lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku mengumpulkan kekuatanku. Sejak itu, aku menulis surat hampir setiap hari untuk suamiku. Surat itu aku simpan diamplop, dan aku letakkan di lemari bajuku, tidak pernah aku berikan untuknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Mobil yang dia berikan untukku aku kembalikan padanya. Aku mengumpulkan tabunganku yang kusimpan dari sisa2 uang belanja, lalu aku belikan motor untuk mengantar dan menjemput anak2ku. Mario merasa heran, karena aku tidak pernah lagi bermanja dan minta dibelikan bermacam2 merek tas dan baju. Aku terpuruk dalam kehancuranku. Aku dulu memintanya menikahiku karena aku malu terlalu lama pacaran, sedangkan teman2ku sudah menikah semua. Ternyata dia memang tidak pernah menginginkan aku menjadi istrinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Betapa tidak berharganya aku. Tidakkah dia tahu, bahwa aku juga seorang perempuan yang berhak mendapatkan kasih sayang dari suaminya ? Kenapa dia tidak mengatakan saja, bahwa dia tidak mencintai aku dan tidak menginginkan aku ? itu lebih aku hargai daripada dia cuma diam dan mengangguk dan melamarku lalu menikahiku. Betapa malangnya nasibku.</p>
<p style="text-align: justify;">Mario terus menerus sakit2an, dan aku tetap merawatnya dengan setia. Biarlah dia mencintai perempuan itu terus didalam hatinya. Dengan pura2 tidak tahu, aku sudah membuatnya bahagia dengan mencintai perempuan itu. Kebahagiaan Mario adalah kebahagiaanku juga, karena aku akan selalu mencintainya.</p>
<p style="text-align: justify;">**********</p>
<p style="text-align: justify;">Setahun kemudian…</p>
<p style="text-align: justify;">Meisha membuka amplop surat2 itu dengan air mata berlinang. Tanah pemakaman itu masih basah merah dan masih dipenuhi bunga.</p>
<p style="text-align: justify;">” Mario, suamiku….</p>
<p style="text-align: justify;">Aku tidak pernah menyangka pertemuan kita saat aku pertama kali bekerja dikantormu, akan membawaku pada cinta sejatiku. Aku begitu terpesona padamu yang pendiam dan tampak dingin. Betapa senangnya aku ketika aku tidak bertepuk sebelah tangan. Aku mencintaimu, dan begitu posesif ingin memilikimu seutuhnya. Aku sering marah, ketika kamu asyik bekerja, dan tidak memperdulikan aku. Aku merasa diatas angin, ketika kamu hanya diam dan menuruti keinginanku… Aku pikir, aku si puteri cantik yang diinginkan banyak pria, telah memenuhi ruang hatimu dan kamu terlalu mencintaiku sehingga mau melakukan apa saja untukku…..</p>
<p style="text-align: justify;">Ternyata aku keliru…. aku menyadarinya tepat sehari setelah pernikahan kita. Ketika aku membanting hadiah jam tangan dari seorang teman kantor dulu yang aku tahu sebenarnya menyukai Mario.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku melihat matamu begitu terluka, ketika berkata, ” kenapa, Rima ? Kenapa kamu mesti cemburu ? dia sudah menikah, dan aku sudah memilihmu menjadi istriku ?”</p>
<p style="text-align: justify;">Aku tidak perduli,dan berlalu dari hadapanmu dengan sombongnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekarang aku menyesal, memintamu melamarku. Engkau tidak pernah bahagia bersamaku. Aku adalah hal terburuk dalam kehidupan cintamu. Aku bukanlah wanita yang sempurna yang engkau inginkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Istrimu,</p>
<p style="text-align: justify;">Rima”</p>
<p style="text-align: justify;">Di surat yang lain,</p>
<p style="text-align: justify;">“………Kehadiran perempuan itu membuatmu berubah, engkau tidak lagi sedingin es. Engkau mulai terasa hangat, namun tetap saja aku tidak pernah melihat cahaya cinta dari matamu untukku, seperti aku melihat cahaya yang penuh cinta itu berpendar dari kedua bola matamu saat memandang Meisha……”</p>
<p style="text-align: justify;">Disurat yang kesekian,</p>
<p style="text-align: justify;">“…….Aku bersumpah, akan membuatmu jatuh cinta padaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku telah berubah, Mario. Engkau lihat kan , aku tidak lagi marah2 padamu, aku tidak lagi suka membanting2 barang dan berteriak jika emosi. Aku belajar masak, dan selalu kubuatkan masakan yang engkau sukai. Aku tidak lagi boros, dan selalau menabung. Aku tidak lagi suka bertengkar dengan ibumu. Aku selalu tersenyum menyambutmu pulang kerumah. Dan aku selalu meneleponmu, untuk menanyakan sudahkah kekasih hatiku makan siang ini? Aku merawatmu jika engkau sakit, aku tidak kesal saat engkau tidak mau aku suapi, aku menungguimu sampai tertidur disamping tempat tidurmu, dirumah sakit saat engkau dirawat, karena penyakit pencernaanmu yang selalu bermasalah…….</p>
<p style="text-align: justify;">Meskipun belum terbit juga, sinar cinta itu dari matamu, aku akan tetap berusaha dan menantinya……..”</p>
<p style="text-align: justify;">Meisha menghapus air mata yang terus mengalir dari kedua mata indahnya… dipeluknya Jelita yang tersedu-sedu disampingnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Disurat terakhir, pagi ini…</p>
<p style="text-align: justify;">“…………..Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan kami yang ke-9. Tahun lalu engkau tidak pulang kerumah, tapi tahun ini aku akan memaksamu pulang, karena hari ini aku akan masak, masakan yang paling enak sedu nia . Kemarin aku belajar membuatnya dirumah Bude Tati, sampai kehujanan dan basah kuyup, karena waktu pulang hujannya deras sekali, dan aku hanya mengendarai motor.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat aku tiba dirumah kemarin malam, aku melihat sinar kekhawatiran dimatamu. Engkau memelukku, dan menyuruhku segera ganti baju supaya tidak sakit.</p>
<p style="text-align: justify;">Tahukah engkau suamiku,</p>
<p style="text-align: justify;">Selama hampir 15 tahun aku mengenalmu, 6 tahun kita pacaran, dan hampir 9 tahun kita menikah, baru kali ini aku melihat sinar kekhawatiran itu dari matamu, inikah tanda2 cinta mulai bersemi dihatimu ?………”</p>
<p style="text-align: justify;">Jelita menatap Meisha, dan bercerita,</p>
<p style="text-align: justify;">” Siang itu Mama menjemputku dengan motornya, dari jauh aku melihat keceriaan diwajah mama, dia terus melambai-lambaikan tangannya kepadaku. Aku tidak pernah melihat wajah yang sangat bersinar dari mama seperti siang itu, dia begitu cantik. Meskipun dulu sering marah2 kepadaku, tapi aku selalu menyayanginya. Mama memarkir motornya diseberang jalan, Ketika mama menyeberang jalan, tiba2 mobil itu lewat dari tikungan dengan kecepatan tinggi…… aku tidak sanggup melihatnya terlontar, Tante….. aku melihatnya masih memandangku sebelum dia tidak lagi bergerak……” Jelita memeluk Meisha dan terisak-isak. Bocah cantik ini masih terlalu kecil untuk merasakan sakit di hatinya, tapi dia sangat dewasa.</p>
<p style="text-align: justify;">Meisha mengeluarkan selembar kertas yang dia print tadi pagi. Mario mengirimkan email lagi kemarin malam, dan tadinya aku ingin Rima membacanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dear Meisha,</p>
<p style="text-align: justify;">Selama setahun ini aku mulai merasakan Rima berbeda, dia tidak lagi marah2 dan selalu berusaha menyenangkan hatiku. Dan tadi, dia pulang dengan tubuh basah kuyup karena kehujanan, aku sangat khawatir dan memeluknya. Tiba2 aku baru menyadari betapa beruntungnya aku memiliki dia. Hatiku mulai bergetar…. Inikah tanda2 aku mulai mencintainya ?</p>
<p style="text-align: justify;">Aku terus berusaha mencintainya seperti yang engkau sarankan, Meisha. Dan besok aku akan memberikan surprise untuknya, aku akan membelikan mobil mungil untuknya, supaya dia tidak lagi naik motor kemana-mana. Bukan karena dia ibu dari anak2ku, tapi karena dia belahan jiwaku….</p>
<p style="text-align: justify;">Meisha menatap Mario yang tampak semakin ringkih, yang masih terduduk disamping nisan Rima. Diwajahnya tampak duka yang dalam. Semuanya telah terjadi, Mario. Kadang kita baru menyadari mencintai seseorang, ketika seseorang itu telah pergi meninggalkan kita.</p>
<p style="text-align: justify;">Jakarta , 7 Januari 2009  (dedicated to my friend….may you rest in peace…)</p>
<p style="text-align: justify;">Resource: email from a friends</p>
<p style="text-align: justify;">Posted in <a title="View all posts in Reflection" rel="category tag" href="http://www.richardus.com/category/artikel-layak-di-baca/reflection/">Reflection</a> | <a title="Comment on Kehidupan perkawinan (sedih, nih…)" href="http://www.richardus.com/2009/03/kehidupan-perkawinan-sedih-nih/#respond">No Comments »</a></p>
<h2 style="text-align: justify;"><a title="Permanent Link to Chiang Kai Sek" rel="bookmark" href="http://www.richardus.com/2009/03/chiang-kai-sek/">Chiang Kai Sek</a></h2>
<p style="text-align: justify;"><small>March 23rd, 2009</small></p>
<p style="text-align: justify;">Apa anda tahu, orang yang paling top di TAIWAN namanya CHIANG KAI SEK,  dan dia punya banyak keturunan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari semua keturunannya yg paling HEBAT namanya LI HAI SEK, nama guru  sesepuhnya GA KWAT SEK, nama bini guru nya  KWAT MAIN SEK. Trus nama  anaknya SHU KHA SEK, nama cucunya yg msh kecil THAK TAU SEK. Nama  Tetangganya MIN THA SEK.</p>
<p style="text-align: justify;">Yg nyebarin email ini namanya SHE NENG SEK. Trus yang lagi baca sms ini  namanya HO BI SEK. Tapi kalo marah2 baca sms ini dia pasti namanya PHI  NGIN SEK. Yang Tertawa baca sms ini namanya  DO YAN SEK. Bagi yg kirim  kembali email ini namanya HI PER SEK. Tapi yg pasti nama gua bukan BHE  RENG SHEK.</p>
<p style="text-align: justify;">Posted in <a title="View all posts in Jokes" rel="category tag" href="http://www.richardus.com/category/artikel-layak-di-baca/jokes/">Jokes</a> | <a title="Comment on Chiang Kai Sek" href="http://www.richardus.com/2009/03/chiang-kai-sek/#respond">No Comments »</a></p>
<h2 style="text-align: justify;"><a title="Permanent Link to Sales ala KFC" rel="bookmark" href="http://www.richardus.com/2009/03/sales-ala-kfc/">Sales ala KFC</a></h2>
<p style="text-align: justify;"><small>March 16th, 2009</small></p>
<p style="text-align: justify;">Pernahkah Anda makan di Kentucky Fried Chicken?<br />
Ah, Tentu saja!</p>
<p style="text-align: justify;">Tahukah Anda, bahwa Kentucky mempergunakan jurus penjualan yang sangat smart?</p>
<p style="text-align: justify;">Ya, KFC sangat piawai dalam melakukan cross selling.</p>
<p style="text-align: justify;">Berikut adalah sebuah contoh yang dibagikan Pak Tung Desem Waringan dalam acara bedah buku terbarunya, Marketing Revolution, pada tanggal 1 Juli 2008 yang lalu di Gramedia Matramam.</p>
<p style="text-align: justify;">************<br />
Jika Anda membeli makanan di Kentucky, kasir KFC akan dengan ramah menyapa Anda …</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Selamat malam Bu! Ayamnya crispy atau original?”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Perhatikan, disini Anda tidak mempunyai pilihan kata tidak. Anda diarahkan untuk memilih satu diantara dua, bukan antara ya dan tidak! Biasanya Anda memilih salah satu khan?</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Dada atau paha?”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Penguatan no other choice diatas!</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Minumnya apa?”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Cross selling dimulai …</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Mau tambah supnya?”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Another cross selling …</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Kentangnya, Bu?”</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Eskrimnya?”</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Perkedelnya?”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Jika masih tetap menolak, mereka akan mengeluarkan jurus terakhirnya …</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Kami sedang mengadakan promosi terbatas! Hanya dengan menambah 5 ribu saja, Anda bisa mendapatkan mainan yang sangat menarik!”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya, sebagian besar pelanggan akan membeli lebih banyak dari rencana semula. Dan ini merupakan peningkatan penjualan yang luarbiasa…</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Hanya dengan mengucapkan beberapa kata tambahan,</strong><strong>Anda dapat meningkatkan omset penjualan Anda.</strong>Jika setiap konsumen membeli dua kali lebih banyak, maka omset KFC akan naik 100% lebih!<br />
Bagaimana jika belanjanya empat kali lipat?</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk dapat menerapkan jurus ini pada bisnis Anda, caranya sederhana;<br />
1. Buatlah sales script (hal-hal apa yang ingin anda ucapkan)<br />
2. latihlah team Anda sampai mahir<br />
3. Praktek langung dan perbaiki bila perlu.</p>
<p style="text-align: justify;">Sederhana tapi efektif, bukan?</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.linkedin.com/in/richardus"></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://richardus.com/2009/07/kehidupan-perkawinan-sedih-nih%e2%80%a6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dua orang yang baik, tapi mengapa perkawinan tidak berakhir bahagia</title>
		<link>http://richardus.com/2009/04/dua-orang-yang-baik-tapi-mengapa-perkawinan-tidak-berakhir-bahagia/</link>
		<comments>http://richardus.com/2009/04/dua-orang-yang-baik-tapi-mengapa-perkawinan-tidak-berakhir-bahagia/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Apr 2009 01:31:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Richardus Sendjaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Reflection]]></category>
		<category><![CDATA[bahagia]]></category>
		<category><![CDATA[Pekawinan]]></category>
		<category><![CDATA[Pernikahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://richardus.com/?p=233</guid>
		<description><![CDATA[Ibu saya adalah seorang yang sangat baik, sejak kecil, saya melihatnya dengan begitu gigih menjaga keutuhan keluarga. Ia selalu bangun dini hari, memasak bubur yang panas untuk ayah, karena lambung ayah tidak baik, pagi hari hanya bisa makan bubur. Setelah itu, masih harus memasak sepanci nasi untuk anak-anak, karena anak-anak sedang dalam masa pertumbuhan, perlu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Ibu saya adalah seorang yang sangat baik, sejak kecil, saya melihatnya dengan begitu gigih menjaga keutuhan keluarga. Ia selalu bangun dini hari, memasak bubur yang panas untuk ayah, karena lambung ayah tidak baik, pagi hari hanya bisa makan bubur. Setelah itu, masih harus memasak sepanci nasi untuk anak-anak, karena anak-anak sedang dalam masa pertumbuhan, perlu makan nasi. Dengan begitu baru tidak akan lapar seharian di sekolah. Setiap sore, ibu selalu membungkukkan badan menyikat panci, setiap panci di rumah kami bisa dijadikan cermin, tidak ada noda sedikikt pun.</p>
<p style="text-align: justify;">Menjelang malam, dengan giat ibu membersihkan lantai, mengepel seinci demi seinci, lantai di rumah tampak lebih bersih dibandingkan sisi tempat tidur orang lain, tiada debu sedikit pun meski berjalan dengan kaki telanjang. Ibu saya adalah seorang wanita yang sangat rajin.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun, di mata ayahku, ia (ibu) bukan pasangan yang baik. Dalam proses pertumbuhan saya, tidak hanya sekali saja ayah selalu menyatakan kesepiannya dalam perkawinan, tidak memahaminya. Ayah saya adalah seorang laki-laki yang bertanggung- jawab. Ia tidak merokok, tidak minum-minuman keras, serius dalam pekerjaan, setiap hari berangkat kerja tepat waktu, bahkan saat libur juga masih mengatur jadual sekolah anak-anak, mengatur waktu istrirahat anak-anak, ia adalah seorang ayah yang penuh tanggung jawab, mendorong anak-anak untuk berprestasi dalam pelajaran. Ia suka main catur, membuat kaligrafi, suka larut dalam dunia buku-buku kuno.</p>
<p style="text-align: justify;">Ayah saya adalah seorang laki-laki yang baik, di mata anak-anak, ia maha besar seperti langit, menjaga kami, melindungi kami dan mendidik kami. Hanya saja di mata ibuku, ia juga bukan seorang pasangan yang baik. Dalam proses pertumbuhan saya, kerap kali saya melihat ibu menangis terisak secara diam diam di sudut halaman.</p>
<p style="text-align: justify;">Ayah menyatakannya dengan kata-kata, sedangkan ibu dengan aksi, menyatakan kepedihan yang dijalani dalam perkawinan. Dalam proses pertumbuhan, aku melihat juga mendengar ketidak-berdayaan dalam perkawinan ayah dan ibu, sekaligus merasakan betapa baiknya mereka, dan mereka layak mendapatkan sebuah perkawinan yang baik.</p>
<p style="text-align: justify;">Sayangnya, dalam masa-masa keberadaan ayah di dunia, kehidupan perkawinan mereka lalui dalam kegagalan. Sedangkan aku juga tumbuh dalam kebingungan, dan aku bertanya pada diriku sendiri: Dua orang yang baik mengapa tidak diiringi dengan perkawinan yang bahagia?</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;">Pengorbanan yang dianggap benar </span></p>
<p style="text-align: justify;">Setelah dewasa, saya akhirnya memasuki usia perkawinan, dan secara perlahan–lahan saya pun mengetahui akan jawaban ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Di masa awal perkawinan, saya juga sama seperti ibu, berusaha menjaga keutuhan keluarga, menyikat panci dan membersihkan lantai, dengan sungguh-sungguh berusaha memelihara perkawinan sendiri. Anehnya, saya tidak merasa bahagia, dan suamiku sendiri sepertinya juga tidak bahagia. Saya merenung, mungkin lantai kurang bersih,</p>
<p>masakan yang tidak enak. Lalu dengan giat saya membersihkan lantai lagi, dan memasak dengan sepenuh hati. Namun, rasanya kami berdua tetap saja tidak bahagia…</p>
<p style="text-align: justify;">Hingga suatu hari, ketika saya sedang sibuk membersihkan lantai, suami saya berkata:</p>
<p>&#8220;Istriku, temani aku sejenak mendengarkan alunan musik!&#8221; Dengan mimik tidak senang saya berkata: &#8220;Apa tidak melihat masih ada separuh lantai lagi yang belum dipel?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Begitu kata-kata ini terlontar, saya pun termenung, kata-kata yang sangat tidak asing di telinga, dalam perkawinan ayah dan ibu saya, ibu juga kerap berkata begitu sama ayah. Saya sedang mempertunjukkan kembali perkawinan ayah dan ibu, sekaligus mengulang kembali ketidak-bahagiaan dalam perkawinan mereka. Ada beberapa kesadaran muncul dalam hati saya. &#8220;Apa yang kamu inginkan?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Saya hentikan sejenak pekerjaan saya, lalu memandang suamiku, dan teringat akan ayah saya… Ia selalu tidak mendapatkan pasangan yang dia inginkan dalam perkawinannya. Waktu ibu menyikat panci lebih lama daripada menemaninya. Terus menerus mengerjakan urusan rumah tangga adalah cara ibu dalam mempertahankan perkawinan.</p>
<p>Ia memberi ayah sebuah rumah yang bersih, namun, jarang menemaninya, sibuk mengurus rumah. Ia berusaha mencintai ayah dengan caranya, dan cara ini adalah mengerjakan urusan rumah tangga. Dan aku juga menggunakan caraku berusaha mencintai suamiku, cara saya juga sama seperti ibu.</p>
<p style="text-align: justify;">Perkawinan saya sepertinya tengah melangkah ke dalam sebuah cerita &#8220;Dua orang yang baik mengapa tidak diiringi dengan perkawinan yang bahagia?&#8221; Kesadaran saya membuat saya membuat keputusan (pilihan) yang sama. Saya hentikan sejenak pekerjaan saya, lalu duduk di sisi suami, menemaninya mendengarkan musik, dan dari kejauhan saat memandangi kain pel di atas lantai seperti menatapi nasib ibu.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya bertanya pada suamiku: &#8220;Apa yang kau butuhkan?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aku membutuhkanmu untuk menemaniku mendengarkan musik. Rumah kotor sedikit tidak apa-apalah, nanti saya carikan pembantu untukmu, dengan begitu kau bisa menemaniku!&#8221; ujar suamiku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Saya kira kamu perlu rumah yang bersih, ada yang memasak untukmu, ada yang mencuci pakaianmu…. dan saya mengatakan sekaligus serentetan hal-hal yang dibutuhkannya. &#8220;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Semua itu tidak penting!&#8221;, ujar suamiku. Yang paling kuharapkan adalah kau bisa lebih sering menemaniku.</p>
<p style="text-align: justify;">Ternyata sia-sia semua pekerjaan yang saya lakukan, hasilnya benar-benar membuat saya terkejut. Kami meneruskan menikmati kebutuhan masing-masing, dan baru saya sadari ternyata dia juga telah banyak melakukan pekerjaan yang sia-sia, kami memiliki cara masing-masing bagaimana saling mencintai, namun, bukannya cara pihak kedua.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Jalan kebahagiaan</span></p>
<p style="text-align: justify;">
Sejak itu, saya menderetkan sebuah daftar kebutuhan suami, dan meletakkanya di atas meja buku, Begitu juga dengan suamiku, dia juga menderetkan sebuah daftar kebutuhanku.</p>
<p>Puluhan kebutuhan yang panjang lebar dan jelas, seperti misalnya waktu senggang menemani pihak kedua mendengarkan musik, saling memeluk kalau sempat, setiap pagi memberi sentuhan selamat jalan bila berangkat.</p>
<p style="text-align: justify;"> Beberapa hal cukup mudah dilaksanakan, tapi ada juga yang cukup sulit, misalnya: &#8216;Dengarkan aku, jangan memberi komentar&#8217;. Ini adalah kebutuhan suami. Kalau saya memberinya usul, dia bilang akan merasa dirinya akan tampak seperti orang bodoh. Menurutku, ini benar-benar masalah gengsi laki-laki.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya juga meniru suami tidak memberikan usul, kecuali dia bertanya pada saya. Kalau tidak saya hanya boleh mendengarkan dengan serius, menurut sampai tuntas. Demikian juga ketika salah jalan.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagi saya ini benar-benar sebuah jalan yang sulit dipelajari, namun, jauh lebih santai daripada mengepel, dan dalam kepuasan kebutuhan kami ini, perkawinan yang kami jalani juga kian hari semakin penuh daya hidup.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat saya lelah, saya memilih beberapa hal yang gampang dikerjakan, misalnya menyetel musik ringan. Dan kalau lagi segar bugar merancang perjalanan ke luar kota. Menariknya, pergi ke taman flora adalah hal bersama dan kebutuhan kami. Setiap ada pertikaian, kami selalu pergi ke taman flora, dan selalu bisa menghibur gejolak hati masing-masing. Sebenarnya, kami saling mengenal dan mencintai juga dikarenakan kesukaan kami pada taman flora, lalu bersama kita menapak ke tirai merah perkawinan. Kembali ke taman bisa kembali ke dalam suasana hati yang saling mencintai bertahun-tahun silam.</p>
<p style="text-align: justify;">Bertanya pada pihak kedua: &#8220;Apa yang kau inginkan&#8221;, kata-kata ini telah menghidupkan sebuah jalan kebahagiaan lain dalam perkawinan.</p>
<p style="text-align: justify;">Keduanya akhirnya melangkah ke jalan bahagia. Kini, saya tahu kenapa perkawinan ayah ibu tidak bisa bahagia. <em>Mereka terlalu bersikeras menggunakan cara sendiri dalam mencintai pihak kedua, bukan mencintai pasangannya dengan cara pihak kedua.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Diri sendiri lelahnya setengah mati, namun pihak kedua tidak dapat merasakannya. Akhirnya ketika menghadapi penantian perkawinan, hati ini juga sudah kecewa dan hancur.</p>
<p>Karena Tuhan telah menciptakan perkawinan, maka menurut saya, setiap orang pantas dan layak memiliki sebuah perkawinan yang bahagia, asalkan cara yang kita pakai itu tepat, menjadi orang yang dibutuhkan pihak kedua! Bukannya memberi atas keinginan kita sendiri. Perkawinan yang baik, pasti dapat diharapkan.~</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://richardus.com/2009/04/dua-orang-yang-baik-tapi-mengapa-perkawinan-tidak-berakhir-bahagia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sebelum Kamu Menceraikanku, Gendonglah Aku</title>
		<link>http://richardus.com/2009/03/sebelum-kamu-menceraikanku-gendonglah-aku/</link>
		<comments>http://richardus.com/2009/03/sebelum-kamu-menceraikanku-gendonglah-aku/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Mar 2009 10:35:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Richardus Sendjaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Opinion]]></category>
		<category><![CDATA[Reflection]]></category>
		<category><![CDATA[cerai]]></category>
		<category><![CDATA[gendong]]></category>
		<category><![CDATA[Menceraikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://richardus.com/?p=29</guid>
		<description><![CDATA[Pada hari pernikahanku, aku membopong istriku. Mobil pengantin berhenti didepan flat kami yang cuma berkamar satu. Sahabat-sahabatku mnyuruhku untuk membopongnya begitu keluar dari mobil. Jadi kubopong ia memasuki rumah kami. Ia kelihatan malu-malu. Aku adalah seorang pengantin pria yang sangat bahagia.
Ini adalah kejadian 10 tahun yang lalu.
Hari-hari selanjutnya berlalu demikian simpel seperti secangkir air bening. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Pada hari pernikahanku, aku membopong istriku. Mobil pengantin berhenti didepan flat kami yang cuma berkamar satu. Sahabat-sahabatku mnyuruhku untuk membopongnya begitu keluar dari mobil. Jadi kubopong ia memasuki rumah kami. Ia kelihatan malu-malu. Aku adalah seorang pengantin pria yang sangat bahagia.</p>
<p style="text-align: justify;">Ini adalah kejadian 10 tahun yang lalu.</p>
<p style="text-align: justify;">Hari-hari selanjutnya berlalu demikian simpel seperti secangkir air bening. Kami mempunyai seorang anak, saya terjun ke dunia usaha dan berusaha untuk menghasilkan banyak uang. Begitu kemakmuran meningkat, jalinan kasih diantara kami pun semakin surut. Ia adalah pegawai sipil. Setiap pagi kami berangkat kerja bersama-sama dan sampai dirumah juga pada waktu yang bersamaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Anak kami sedang belajar di luar negeri. Perkawinan kami kelihatan bahagia. Tapi ketenangan hidup berubah dipengaruhi oleh perubahan yang tidak kusangka-sangka.</p>
<p style="text-align: justify;">Dew hadir dalam kehidupanku.</p>
<p style="text-align: justify;">Waktu itu adalah hari yang cerah. Aku berdiri di balkon dengan Dew yang sedang merangkulku. Hatiku sekali lagi terbenam dalam aliran cintanya. Ini adalah apartment yang kubelikan untuknya. Dew berkata , “Kamu adalah jenis pria terbaik yang menarik para gadis.” Kata-katanya tiba-tiba mengingatkanku pada istriku. Ketika kami baru menikah,istriku pernah berkata, “Pria sepertimu,begitusuk ses, akan menjadi sangat menarik bagi para gadis.”</p>
<p style="text-align: justify;">Berpikir tentang ini, Aku menjadi ragu- ragu. Aku tahu kalo aku telah menghianati istriku. Tapi aku tidak sanggup menghentikannya. Aku melepaskan tangan Dew dan berka ta, “Kamu harus pergi membeli beberapa perabot, O.K.?.Aku ada sedikit urusan dikantor” Kelihatan ia jadi tidak senang karena aku telah berjanji menemaninya. Pada saat tersebut, ide perceraian menjadi semakin jelas dipikiranku walaupun kelihatan tidak mungkin. Bagaimanapun, aku merasa sangat sulit untuk membicarakan hal ini pada istriku. Walau bagaimanapun ku jelaskan, ia pasti akan sangat terluka. Sejujurnya,ia adalah seorang istri yang baik.</p>
<p style="text-align: justify;">Setiap malam ia sibuk menyiapkan makan malam. Aku duduk santai didepan TV.</p>
<p style="text-align: justify;">Makan malam segera tersedia. Lalu kami akan menonton TV sama-sama. Atau aku akan menghidupkan komputer,membayangkan tubuh Dew. Ini adalah hiburan bagiku.</p>
<p style="text-align: justify;">Suatu hari aku berbicara dalam guyon, “Seandainya kita bercerai, apa yang akan kau lakukan? ” Ia menatap padaku selama beberapa detik tanpa bersuara. Kenyataannya ia percaya bahwa perceraian adalah sesuatu yang sangat jauh dari nya. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana ia akan menghadapi kenyataan jika tahu bahwa aku serius.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika istriku mengunjungi kantorku, Dew baru saja keluar dari ruanganku.</p>
<p style="text-align: justify;">Hampir seluruh staff menatap istriku dengan mata penuh simpati dan berusaha untuk menyembunyikan segala sesuatu selama berbicara dengan ia.</p>
<p style="text-align: justify;">Ia kelihatan sedikit kecurigaan. Ia berusaha tersenyum pada bawahan-bawahanku. Tapi aku membaca ada kelukaan di matanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekali lagi, Dew berkata padaku,” He Ning, ceraikan ia, O.K.? Lalu kita akan hidup bersama.”</p>
<p style="text-align: justify;">Aku mengangguk. Aku tahu aku tidak boleh ragu-ragu lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika malam itu istriku menyiapkan makan malam, ku pegang tangannya,”Ada sesuatu yang harus kukatakan” Ia duduk diam dan makan tanpa bersuara. Sekali lagi aku melihat ada luka dimatanya. Tiba-tiba aku tidak tahu harus berkata apa.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi ia tahu kalo aku terus berpikir. “Aku ingin bercerai “, ku ungkapkan topik ini dengan serius tapi tenang.</p>
<p style="text-align: justify;">Ia seperti tidak terpengaruh oleh kata-kataku, tapi ia bertanya secara lembut, “kenapa?”</p>
<p style="text-align: justify;">“Aku serius.” Aku menghindari pertanyaannya. Jawaban ini membuat ia sangat marah. Ia melemparkan sumpit dan berteriak kepadaku,”Kamu bukan laki- laki!”.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada malam itu, kami sekali saling membisu. Ia sedang menangis. Aku tahu kalau ia ingin tahu apa yang telah terjadi dengan perkawinan kami. Tapi aku tidak bisa memberikan jawaban yang memuaskan sebab hatiku telah dibawa pergi oleh Dew.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan perasaan yang amat bersalah, Aku menuliskan surat perceraian dimana istriku memperoleh rumah, mobil dan 30% saham dari perusahaanku.</p>
<p style="text-align: justify;">Ia memandangnya sekilas dan mengoyaknya jadi beberapa bagian.. Aku merasakan sakit dalam hati. Wanita yang telah 10 tahun hidup bersamaku sekarang menjadi seorang yang asing dalam hidupku.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi aku tidak bisa mengembalikan apa yang telah kuucapkan. Akhirnya ia menangis dengan keras didepanku, dimana hal tersebut tidak pernah kulihat sebelumnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagiku, tangisannya merupakan suatu pembebasan untukku. Ide perceraian telah menghantuiku dalam beberapa minggu ini dan sekarang sungguh-sungguh telah terjadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada larut malam,aku kembali ke rumah setelah menemui klienku. Aku melihat ia sedang menulis sesuatu. Karena capek aku segera ketiduran. Ketika aku terbangun tengah malam, aku melihat ia masih menulis. Aku tertidur kembali. Ia menuliskan syarat-syarat dari perceraiannya. Ia tidak menginginkan apapun dariku,tapi aku harus memberikan waktu sebulan sebelum menceraikannya, dan dalam waktu sebulan itu kami harus hidup bersama seperti biasanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Alasannya sangat sederhana: Anak kami akan segera menyelesaikkan pendidikannya dan liburannya adalah sebulan lagi dan ia tidak ingin anak kami melihat kehancuran rumah tangga kami.</p>
<p style="text-align: justify;">Ia menyerahkan persyar atan tersebut dan bertanya,” He Ning, apakah kamu masih ingat bagaimana aku memasuki rumah kita ketika pada hari pernikahan kita?”</p>
<p style="text-align: justify;">Pertanyaan ini tiba-tiba mengembalikan beberapa kenangan indah kepadaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku mengangguk dan mengiyakan. “Kamu membopongku dilenganmu”, katanya, “Jadi aku punya sebuah permintaan, yaitu kamu akan tetap membopongku pada waktu perceraian kita. Dari sekarang sampai akhir bulan ini, setiap pagi kamu harus membopongku keluar dari kamar tidur ke pintu.”</p>
<p style="text-align: justify;">Aku menerima dengan senyum. Aku tahu ia merindukan beberapa kenangan indah yang telah berlalu dan berharap perkawinannya diakhiri dengan suasana romantis.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku memberitahukan Dew soal syarat- syarat perceraian dari istriku. Ia tertawa keras dan berpikir itu tidak ada gunanya. “Bagaimanapun trik yang ia lakukan, ia harus menghadapi hasil dari perceraian ini,” ia mencemooh.</p>
<p style="text-align: justify;">Kata-katanya membuatku merasa tidak enak. Istriku dan aku tid ak mengadakan kontak badan lagi sejak kukatakan perceraian itu. Kami saling menganggap orang asing.</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi ketika aku membopongnya dihari pertama, kami kelihatan salahtingkah. Anak kami menepuk punggung kami,”Wah, papa membopong mama, mesra sekali” Kata-katanya membuatku merasa sakit.. Dari kamar tidur ke ruang duduk, lalu ke pintu, aku berjalan 10 meter dengan ia dalam lenganku. Ia memejamkan mata dan berkata dengan lembut,” Mari kita mulai hari ini,jangan memberitahukan pada anak kita.” Aku mengangguk, merasa sedikit bimbang.Aku melepaskan ia di pintu. Ia pergi menunggu bus, dan aku pergi ke kantor.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada hari kedua, bagi kami terasa lebih mudah. Ia merebah di dadaku, kami begitu dekat sampai-sampai aku bisa mencium wangi dibajunya. Aku menyadari bahwa aku telah sangat lama tidak melihat dengan mesra wanita ini. Aku melihat bahwa ia tidak muda lagi, beberapa kerut tampak di wajahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada hari ketiga, ia berbisik padaku, “Kebun diluar sedang dibongkar, hati-hati kalau kamu lewat sana.”</p>
<p style="text-align: justify;">Hari keempat,ketika aku membangunkannya, aku merasa kalau kami masih mesra seperti sepasang suami istri dan aku masih membopong kekasihku dilenganku.</p>
<p style="text-align: justify;">Bayangan Dew menjadi samar.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada hari kelima dan enam, ia masih mengingatkan aku beberapa hal, seperti, dimana ia telah menyimpan baju-bajuku yang telah ia setrika, aku harus hati-hati saat memasak,dll. Aku mengangguk. Perasaan kedekatan terasa semakin erat.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku tidak memberitahu Dew tentang ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku merasa begitu ringan membopongnya. Berharap setiap hari pergi ke kantor bisa membuatku semakin kuat. Aku berkata padanya,”Kelihatann ya tidaklah sulit membopongmu sekarang” Ia sedang mencoba pakaiannya, aku sedang menunggu untuk membopongnya keluar. Ia berusaha mencoba beberapa tapi tidak bisa menemukan yang cocok. Lalu ia melihat, “Semua pakaianku kebesaran”. Aku tersenyum. Tapi tiba-tiba aku menyadarinya sebab ia semakin kurus itu sebabnya aku bias membopongnya dengan ringan bukan disebabkan aku semakin kuat. Aku tahu ia mengubur semua kesedihannya dalam hati. Sekali lagi, aku merasakan perasaan sakit Tanpa sadar ku sentuh kepalanya. Anak kami masuk pada saat tersebut. “Pa,sudah waktunya membopong mama keluar”</p>
<p style="text-align: justify;">Baginya,melihat papanya sedang membopong mamanya keluar menjadi bagian yang penting. Ia memberikan isyarat agar anak kami mendekatinya dan merangkulnya dengan erat. Aku membalikkan wajah sebab aku takut aku akan berubah pikiran pada detik terakhir. Aku menyanggah ia dilenganku, berjalan dari kamar tidur, melewati ruang duduk ke teras. Tangannya memegangku secara lembut dan alami. Aku menyanggah badannya dengan kuat seperti kami kembali ke hari pernikahan kami. Tapi ia kelihatan agak pucat dan kurus, membuatku sedih.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada hari terakhir, ketika aku membopongnya dilenganku, aku melangkah dengan berat. Anak kami telah kembali ke sekolah. Ia berkata, “Sesungguhnya aku berharap kamu akan membopongku sampai kita tua”.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku memeluknya dengan kuat dan berkata “Antara kita saling tidak menyadari bahwa kehidupan kita begitu mesra”. Aku melompat turun dari mobil tanpa Sempat menguncinya. Aku takut keterlambatan akan membuat pikiranku berubah. Aku menaiki tangga.</p>
<p style="text-align: justify;">Dew membuka pintu. Aku berkata padanya,” Maaf Dew, Aku tidak ingin bercerai. Aku serius”. Ia melihat kepadaku, kaget. Ia menyentuh dahiku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kamu tidak demam”.</p>
<p style="text-align: justify;">Kutepiskan tanganya dari dahiku “Maaf, Dew,Aku Cuma bisa bilang maaf padamu,Aku tidak ingin bercerai. Kehidupan rumah tanggaku membosankan disebabkan ia dan aku tidak bisa merasakan nilai-nilai dari kehidupan,bukan disebabkan kami tidak saling mencintai lagi.Sekarang aku mengerti sejak aku membopo ngnya masuk ke rumahku, ia telah melahirkan anakku. Aku akan menjaganya sampai tua. Jadi aku minta maaf padamu” Dew tiba-tiba seperti tersadar. Ia memberikan tamparan keras kepadaku dan menutup pintu dengan kencang dan tangisannya meledak. Aku menuruni tangga dan pergi ke kantor. Dalam perjalanan aku melewati sebuah toko bunga, ku pesan sebuah buket bunga kesayangan istriku.</p>
<p style="text-align: justify;">Penjual bertanya apa yang mesti ia tulis dalam kartu ucapan?</p>
<p style="text-align: justify;">Aku tersenyum, dan menulis ” Aku akan membopongmu setiap pagi sampai kita tua…”</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://richardus.com/2009/03/sebelum-kamu-menceraikanku-gendonglah-aku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gaji Papa Berapa?</title>
		<link>http://richardus.com/2009/03/gaji-papa-berapa/</link>
		<comments>http://richardus.com/2009/03/gaji-papa-berapa/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Mar 2009 09:51:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Richardus Sendjaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Opinion]]></category>
		<category><![CDATA[Reflection]]></category>
		<category><![CDATA[Gaji]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://richardus.com/?p=17</guid>
		<description><![CDATA[Seperti biasa Andrew, Kepala Cabang di sebuah perusahaan swasta terkemukadi Jakarta, tiba di rumahnya pada pukul 9 malam. Tidak seperti biasanya, Sarah, putra pertamanya yang baru duduk di kelas tiga SD membukakan pintu untuknya. Nampaknya ia sudah menunggu cukup lama. “Kok, belum tidur ?” sapa Andrew sambil mencium anaknya.
Biasanya Sarah memang sudah lelap ketika ia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Seperti biasa Andrew, Kepala Cabang di sebuah perusahaan swasta terkemukadi Jakarta, tiba di rumahnya pada pukul 9 malam. Tidak seperti biasanya, Sarah, putra pertamanya yang baru duduk di kelas tiga SD membukakan pintu untuknya. Nampaknya ia sudah menunggu cukup lama. “Kok, belum tidur ?” sapa Andrew sambil mencium anaknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Biasanya Sarah memang sudah lelap ketika ia pulang dan baru terjaga ketika ia akan berangkat ke kantor pagi hari.</p>
<p style="text-align: justify;">Sambil membuntuti sang Papa menuju ruang keluarga, Sarah menjawab, “Aku nunggu Papa pulang. Sebab aku mau tanya berapa sih gaji Papa ?”</p>
<p style="text-align: justify;">“Lho tumben, kok nanya gaji Papa ? Mau minta uang lagi, ya ?”</p>
<p style="text-align: justify;">“Ah, enggak. Pengen tahu aja” ucap Sarah singkat.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oke. Kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari Papa bekerja sekitar 10 jam dan dibayar Rp. 400.000,-. Setiap bulan rata-rata dihitung 22 hari kerja. Sabtu dan Minggu libur, kadang Sabtu Papa masih lembur. Jadi, gaji Papa dalam satu bulan berapa, hayo?”</p>
<p style="text-align: justify;">Sarah berlari mengambil kertas dan pensilnya dari meja belajar sementara Papanya melepas sepatu dan menyalakan televisi. Ketika Andrew beranjak menuju kamar untuk berganti pakaian, Sarah berlari mengikutinya. “Kalo satu hari Papa dibayar Rp.400.000,- untuk 10 jam, berarti satu jam Papa digaji Rp.40.000,- dong” katanya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Wah, pinter kamu. Sudah, sekarang cuci kaki, tidur” perintah Andrew.<br />
Tetapi Sarah tidak beranjak. Sambil menyaksikan Papanya berganti pakaian, Sarah kembali bertanya, “Papa, aku boleh pinjam uang Rp. 5.000,- enggak?”&#8221;Sudah, nggak usah macam-macam lagi. Buat apa minta uang malam-malam begini ? Papa capek. Dan mau mandi dulu. Tidurlah”.</p>
<p style="text-align: justify;">“Tapi Papa…”<br />
Kesabaran Andrew pun habis. “Papa bilang tidur !” hardiknya mengejutkan Sarah. Anak kecil itu pun berbalik menuju kamarnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Usai mandi, Andrew nampak menyesali hardiknya. Ia pun menengok Sarah di kamar tidurnya. Anak kesayangannya itu belum tidur. Sarah didapati sedang terisak-isak pelan sambil memegang uang Rp. 15.000,- di tangannya.Sambil berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu, Andrew berkata, “Maafkan Papa, Nak, Papa sayang sama Sarah. Tapi buat apa sih minta uang malam-malam begini ? Kalau mau beli mainan, besok kan bisa. Jangankan Rp. 5.000,- lebih dari itu pun Papa kasih” jawab Andrew.<br />
“Papa, aku enggak minta uang. Aku hanya pinjam. Nanti aku kembalikan kalau sudah menabung lagi dari uang jajan selama minggu ini”.</p>
<p style="text-align: justify;">“lya, iya, tapi buat apa ?” tanya Andrew lembut.</p>
<p style="text-align: justify;">“Aku menunggu Papa dari jam 8. Aku mau ajak Papa main ular tangga. Tiga puluh menit aja. Mama sering bilang kalo waktu Papa itu sangat berharga. Jadi, aku mau ganti waktu Papa. Aku buka tabunganku, hanya ada Rp. 15.000,- tapi karena Papa bilang satu jam Papa dibayar Rp. 40.000,- maka setengah jam aku harus ganti Rp. 20.000,-. Tapi duit tabunganku kurang Rp. 5.000, makanya aku mau pinjam dari Papa” kata Sarah polos.</p>
<p style="text-align: justify;">Andrew pun terdiam. ia kehilangan kata-kata. Dipeluknya bocah kecil itu erat-erat dengan perasaan haru. Dia baru menyadari, ternyata limpahan harta yang dia berikan selama ini, tidak cukup untuk “membeli” kebahagiaan anaknya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://richardus.com/2009/03/gaji-papa-berapa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ayam atau bebek</title>
		<link>http://richardus.com/2009/02/ayam-atau-bebek/</link>
		<comments>http://richardus.com/2009/02/ayam-atau-bebek/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Feb 2009 09:00:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Richardus Sendjaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Opinion]]></category>
		<category><![CDATA[Reflection]]></category>
		<category><![CDATA[ayam]]></category>
		<category><![CDATA[Ayam atau bebek]]></category>
		<category><![CDATA[bebek]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://richardus.com/?p=56</guid>
		<description><![CDATA[March 2nd, 2009Tentang ‘kebenaran’ yang ‘belum tentu benar’ vs hal yang lebih penting ‘relationship’ AYAM &#38; BEBEK
Sepasang pengantin baru tengah berjalan bergandengan tangan di sebuah hutan pada suatu malam musim panas yang indah, seusai makan malam. Mereka sedang menikmati kebersamaan yang menakjubkan tatkala mendengar suara di kejauhan..
”Kuek! Kuek!”
”Dengar”, kata si istri, “itu pasti suara ayam.”
“Bukan, bukan, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">March 2nd, 2009Tentang ‘kebenaran’ yang ‘belum tentu benar’ vs hal yang lebih penting ‘relationship’ AYAM &amp; BEBEK</p>
<p style="text-align: justify;">Sepasang pengantin baru tengah berjalan bergandengan tangan di sebuah hutan pada suatu malam musim panas yang indah, seusai makan malam. Mereka sedang menikmati kebersamaan yang menakjubkan tatkala mendengar suara di kejauhan..</p>
<p style="text-align: justify;">”Kuek! Kuek!”<br />
”Dengar”, kata si istri, “itu pasti suara ayam.”<br />
“Bukan, bukan, itu suara bebek,” kata si suami.<br />
“Nggak, aku yakin itu ayam,” si istri bersikeras.<br />
“Mustahil. Suara ayam itu ‘kukuruyuuuk! ‘ , bebek itu ‘kuek! Kuek!’ itu bebek, Sayang,’ kata si suami dengan disertai gejala-gejala awal kejengkelan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kuek! Kuek!” terdengar lagi.<br />
“Nah, tuh! Itu suara bebek,” kata si suami.<br />
“Bukan, Sayang. Itu ayam. Aku yakin betul,” tandas si istri, sembari menghentakkan kaki.<br />
“Dengar ya! Itu a…da…lah…be…bek, B-E-B-E-K. Bebek! Mengerti?” si suami berkata dengan gusar.<br />
“Tapi itu ayam,” masih saja si istri bersikeras.<br />
“Itu jelas-jelas bue…bek, kamu…kamu…”<br />
Terdengar lagi suara, “Kuek! Kuek!” sebelum si suami mengatakan sesuatu yang sebaiknya tak dikatakannya.<br />
Si istri sudah hampir menangis, “Tapi itu ayam…”<br />
Si suami melihat air mata yang mengambang di pelupuk mata istrinya, dan akhirnya, ingat kenapa ia menikahinya. Wajahnya melembut dan katanya dengan mesra,<br />
“Maafkan aku, Sayang. Kurasa kamu benar. Itu memang suara ayam kok..”<br />
“Terima kasih, Sayang,” kata si istri sambil menggenggam tangan suaminya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kuek! Kuek! Terdengar lagi suara di hutan, mengiringi mereka berjalan bersama dalam cinta.<br />
Maksud dari cerita bahwa si suami akhirnya sadar adalah siapa sih yang peduli itu ayam atau bebek? Yang lebih penting adalah keharmonisan mereka, yang membuat mereka dapat menikmati kebersamaan pada malam yang indah itu. Berapa banyak pernikahan yang hancur hanya gara-gara persoalan sepele? Berapa banyak perceraian terjadi karena hal-hal “ayam atau bebek?”</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika kita memahami cerita tersebut, kita ingat apa yang menjadi prioritas kita. Pernikahan jauh lebih penting ketimbang mencari siapa yang benar tentang apakah itu ayam atau bebek. Lagi pula, betapa sering kita merasa yakin, amat sangat mantap, mutlak bahwa kita benar, namun belakangan ternyata kita salah? Lho, siapa tahu? Mungkin saja itu adalah ayam yang direkayasa genetik sehingga bersuara seperti bebek!</p>
<p style="text-align: justify;">“If you start judging people you will be having no time to love them…..”</p>
<p style="text-align: justify;">— from a friend —</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://richardus.com/2009/02/ayam-atau-bebek/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

