www.flickr.com

Syair CINTA

November 22nd, 2015 | by Richardus Sendjaja |

Syair CINTA

Aku menyetel lagu di kamar dengan merenung. Menjadikan kedua lenganku sebagai bantal, merekah bibir ku tersenyum sendiri, pikiran dan jiwaku menerawang jauh ke belakang.  Suatu yang patut untuk ku kenang, akan kisah masa lalu.

I’m not an actor I’m not a star / and I don’t even have my own car /But I’m hoping so much you’ll stay / that you will love me anyway. Titel lagu “The Actor “ dari  Michael Learns to Rock.

/***

Aku tertarik lagi jauh ke belakang. Ini kisah keluarga kami.

Sejak kecil, aku melihat pertengkaran kedua orang tua yang meributkan masalah uang. Kehidupan keluarga yang sepeti roda berputar, yang katanya kadang di atas, juga sering menjadi berat saat  berada dibawah. Kehidupan yang dulu kami rasakan cukup baik dan bercukupan menjadi terpuruk ke bawah, menjadi serba pas dan bahkan bisa dikatakan kekurangan.

Usiaku terlalu dini untuk menikmati masa jaya ayah-ibu, yang katanya, katanya yang berarti bukan pengalaman ku melainkan informasi di sampaikan kepada ku demikian. Di saat aku dilahirkan, keluarga kami memiliki mobil,  dengan rumah yang lumayan mewah, ada supir pribadi, tukang kebun yang merapikan taman halaman rumah, pembantu rumah tangga,  bahkan hadirnya baby sitter khusus bagi ku. Kondisi dan situasi sebuah tanda kemakmuran. Aku belum cukup besar merasakan semua kemewahan itu.

Keadaan yang aku rasakan kini, aku hidup di tengah keluarga yang bersahaja nan sederhana, di pemukiman yang padat, kemana-mana naik angkot atau bis kota, rumah yang tergolong kecil – sempit, kadang musti berjalan kaki untuk menghemat, demikian halnya uang bulanan sekolah yang sering dibayarkan terlambat. Segala suatu yang aku inginkan, tidak  mudah aku dapatkan.  Tidak ada makan siang yang gratis istilah kerennya, atau pipis aja harus bayar. Ayah mendidik ku dengan keras, menjelaskan arti bahwa makna uang. Sebuah pengalaman ayah yang menyedihkan karena kebangkrutan dan penipuan bisnis.

Aku mengenang.

Ibu yang harus menjual dan membuat makanan ringan, kue basah, kue kering, menjajakan dari satu toko ke toko lainnya.  Ibu kadang di tengah malamnya masih sibuk membuat kue.  Ayah bekerja jauh di luar kota. Semua berjuang untuk memberi nafkah kepada keluarga dan memberikan masa depan yang lebih baik bagi aku anaknya semata tunggal. Pertengkaran akan uang,  dan permasalahan akan uang, lagi – lagi uang. Membuat aku gelisah, akankah uang selalu ada dalam situasi dan dapat dengan mudah menjadikan telunjuk mengarah kepada keributan ataukah berujung kebahagian.  Koin dengan dua sisinya, bergambar atau angka. Sama-sama melengkapi dan menjadikan uang itu berarti ganda seakan sebilah  mata pisau bermata dua.

Berkedip mata. Pernahkan aku melihat ayah-ibu bahagia. Aku melihatnya kerut lelah, mata yang sayup, badan yang letih dan kurus,  membungkuk, kesibukan demi kesibukan bagi mengejar hasrat, demi menggejar pundi-pundi uang. Aku yakin, mereka berusaha bangkit untuk menaikan derajat keluarga dimata saudara – handai taulan, di mata teman, dan di mata masyarakat, yang kadarnya saat ini terukur dengan  timbangan materi berupa keberhasilan yang fana, yang tidak perlu tahu prosesnya, hanya hasilnya harus berupa kelimpahan akan kemewahan atas kekayaan. Agar derajat kami terangkat, agar dagu ini bisa mendongak naik ke atas. Membuat kebanggaan .

Tujuan itu ingin di gapai, tetapi entah kenapa, ada suatu titik balik.

Aku melihatnya menjadi suatu keajaiban yang nyata akan hikmah dibalik cobaan.

Aku tidak ingat pastinya perubahan, hanya saat itu ibu sakit berat. Terkena Stroke.

Ayah bekerja jauh dari keluarga. Biasanya satu minggu sekali kami bisa berkumpul. Aku masih di sekolah dasar . Ayah bertanggungjawab atas bahtera keluarga.

Saat aku pulang sekolah. Banyak sekali tetangga yang datang memenuhi rumah kami.

Aku masuk ke kamar ibu. “Ibu, bangun bu…”

Ibu terlihat pucat dan tampak tertidur, aku pun menangis. Ibu masih terdiam.

Tetangga, membawa ibu ke rumah sakit.

Jaman itu, belum ada Handphone.   Membutuhkan waktu untuk mengkontak ayah.

Kabar cepat sampai. Ayah pun pulang, langsung menuju rumah sakit di mana ibu di rawat. Selama satu minggu, ibu di rawat di Rumah Sakit. Biaya berobat yang tidaklah murah, menghabiskan uang tabungan. Aku hanya mampu menangis.

Sejak saat itu, ayah menunggu ibu di rumah. Membantu penyembuhan atas sakit stroke ibu.

Ternyata, banyak tetangga yang mengulurkan tangan untuk meringakan penderitaan kami. Bantuan mereka sangat berarti banyak, secara moril maupun materil . Tidak selalu berupa uang, yang ala kadarnya tapi amat kami butuhkan, seperti bahan makanan dari hasil tani dan ternak, sehingga kami dapat makan hari ini. Tidak memikirkan esok makan apa? Esok dipikirkan nanti saja.

Itulah membuat ayah-ibu berubah. Menjadi melek batin bahwa uang dan kekayaan akan tidak ada artinya,  menjadi sirna, akan hilang,  jika tidak menjaga kesehatan. Makna kebersamaan juga prioritas.

Ibu akhirnya sembuh dari sakitnya.

Ayah menjadi sering berkumpul bersama kami, awalnya terpaksa karena menemani ibu yang sakit. Ayah pun akhirnya berhenti dari pekerjaannya.  Saat itu lah perubahan nasib kami .

Berawal mula, mulai dari titik nol.

Bakat ayah sebagai penulis, kemudian tersalurkan. Memakai mesin tik tua, mengalir cerita ayah untuk di terbitkan.  Tulisan ayah diterima penerbit mendatangkan royalty.  Memakainya sebagai modal usaha. Kecil-kecilan membuka kios penjualan Koran, Tabloid , dan  Majalah. Menjadikan nafas nafkah kami.

Sinar kebahagian terbentuk bak pelangi.

Ayah – ibu tidak lagi bertengkar masalah uang. Menjadi lebih bijaksana, dan mesra. “ Kehidupan hanya sekali, jangan dibuat susah.” Ujar ayah sekali waktu.

Cobaan akan cinta mereka telah dimenangkan terhadap gemerlap dan gemerincingnya uang. Mereka telah membuktikan akan kata setia, di antara suka maupun duka. Janji suci pernikahan.

Sehingga yang ada di pikiran ku, aku segera dewasa untuk dapat meringankan beban ayah-ibu.  Aku ingin segera lewati, cepat dewasa, ayo cepat lah dewasa.

Walaupun aku tergolong tidak terlalu cerdas. Aku bisa sekolah sampai lulus perguruan tinggi, mendapatkan sekolah yang masih tetap diupayakan pembiayaannya oleh ayah-ibu. Aku pun tahu diri, ikut membantu dengan memberikan tambahan les privat dan kerja sampingan. Keringat mereka ditambah dengan keringat ku. Menjadi daya dorong menuju harapan,  pendidikan yang baik akan memperbaiki nasib kami kelak. Cita-cita keluarga, ada di pundak ku.

Lulus kuliah.  Mencari kerja, dan menghasilkan pendapatan sendiri. Sungguh suatu yang menyenangkan. Aku bisa meringakan beban dan membantu kehidupan keluarga.   Meraih impian.

Pacaran.

Aku tidak berpikir dulu ke sana.

Senyum getir, malu. Minder tepatnya.

Aku tidak punya pakaian bagus, motor pun aku tidak punya. Sudah berani mendekati gadis, bahkan hendak memacarinya. Gadis ku, pujaan hati ku.

Masih PDKT, Pen-De-Kat-an. Aku hanya berani melirik dan melihatnya dari jauh. Itupun sudah membuatku bahagia.

Syair lagu : Inikan Cinta oleh ME mengalun sayup . Inikah namanya cinta / Inikah cinta / Cinta pada jumpa pertama / Inikah rasanya cinta / Inikah cinta / Terasa bahagia saat jumpa / Dengan dirinya

Kembali alam ku, menerawang menembus ruang jaman.

Ketika …

Malu aku malu.

Saat itu kita masih muda belia, masih lugu dan polos.

Mengingat saat pertama berjumpa, tidak sengaja.  Aku mengenal mu, dan sering memperhatikan. Hanya saat itu belum ada keberanian untuk mendekati.

Saat aku melihat siluet tubuh mu, aromamu tercium wangi.

Hasrat pria ku hanya sederhana, keberanian yang naïf. Saat itu modalku hanya cinta. Aku belum dalam taraf   di bilang mapan, kaya. Tajir istilahnya.  Mengenal mu, mengairahkan suatu niat tulus. Aku pun tidak mau main-main. Pastilah menuju ke bahtera kebersamaan, pernikahan yang sakral. Padahal pacaran saja belum terjadi.

Aku memulai mendekati, saat ketika itu hujan gerimis. Kami menunggu di halte bis yang sama. Berteduh dari jatuhan air hujan.  Suasana mendukung, entah dari mana munculnya sebuah keberanian . Aku menyapa mu. “Hai.”

Senyum manisnya, dengan matanya yang bening menatap ku ramah. Ge-er nih!. Kami pun  bersalaman unuk saling kenal pada awal perjumpaan kami. Tangan halusnya masih terasa hangat ku kenang.

Tangan itu halus, dan sejak itu selalu ku kenang.

Itulah yang kenangan terindah.

Saat sentuhan cinta datang, saat perkenalan kita pertama.

“Apakah aku boleh main ke rumah mu  ?” Pertanyaan ini bukan saat di awal pertemuan. Saya awal jumpa pertama, lidah ini masih keluh,  hanya mampu mengatakan “ Hai ” saja.  Mugkin ini pertemuan yang berikutnya, sebab aku sering tanpa kerjaan, sengaja menanti di halte hanya untuk sekedar melihat mu . Menunggu di halte yang sama. Untung-untungan.  Luapan hati untuk mencari tahu, sebuah pertanyaan sederhana sebagai pembuka gerbang hati.

“Boleh,” Jawabmu singkat memperbolehkan. Aku pun diberikan alamat oleh mu.

Langkah selanjutnya, kini aku di rumah mu, berada di ruang tamu, ada hadapan mu.  Kita saling bercengkrama. Hubungan kita pun berlanjut mesra.

Perjuangan mendekati mu, melalui perjuangan melawan kelemahan ekonomi keluarga dan diri ku sendiri yang merasa dunia iniapakah akan  ada gadis yang tidak tertarik materi. Apalagi di Jakarta sebagai kota metropolitan yang germerlap.. Melawan malu, karena aku hanya berasal dari keluarga biasa saja, keluarga sederhana,  bahkan cukup bersahaja.  Yang hanya punya C-I-N-T-A.

“Aku sayang kamu,” kataku terucap lirih.  Menggapai tanganmu, dan berlutut dihadapan mu. Memandang mu menunggu jawaban.

Kamu tersipu, aku pun seperti Romeo . Ada rona bahagia yang aku dapatkan dari pancaran wajah mu.

Kita pun  pacaran.  Kehidupan ku pun bergulir maju, roda yang di bawah seakan menerobos rintangan, mulai bergerak.  Pacaran itu ternyata itu, dua hati menyatu.

Untuk menuju hal yang lebih serius.

Saat aku melamarmu.

Aku memang sudah punya penghasilan sendiri. Yang pasti akan berjuang demi cinta kita. Idealisme indahnya.

Orang tuamu tersenyum, menghargai akan tekad dara mudaku. Aku tidak dipandang hina, pemuda sederhana yang mungkin tergolong cukup naïf. Melamar gadis, mengandalkan hanya dari gaji yang belum seberapa.

Tapi, restu yang tidak memandang derajat. Tidak juga terlalu melihat materi, U-A-N-G.

Kepercayaan itu mahal, dan aku wajib memegang kepercayaan yang telah diberikan orangtua istri ku, sebagai pertanggungjawaban. “Aku akan membahagiakan , istri ku dan keluarga “ Pekik batin ku keras.

/***

“Papa. Ayo cepetan sudah di tunggu .”

Adanya panggilan, memalingkah aku kembali ke dunia  saat ini.

Suatu teriakan dari  luar pintu kamar ku, dan tak lama di susul langkah riang si kembar lari mendekati dan menerkam ku seperti anak kucing yang manja, julukan alias “Upin – Upin “,  kecil ku mendekap aku riang.  Aku tertarwa-ria. Dan pastinya istri ku, Ibu si kembar ini, akan datang menghampiri dan juga meramaikan suasana riang ini. Betul ‘kan!  Membuat Kejutan, di hari jadi kami yang ke sepuluh.  Aku gendong my prince and my princess, dan rangkulan erat kepada istri. “Ayo, sayang.”  dan kami pun mendaratkan ciuman cinta kepada anak – anak kami. Buah cinta kasih kami.

Acara hari jadi. Kami akan merayakannya di rumah saja. Secara sederhana.

Dihadiri juga oleh kedua orang tua kami.

Kebahagian kami rasakan, bukan karena uang. Kami telah mengenal bahwa kekayaan yang ada sebenarnya adalah kebahagiaan.

Di ruang keluarga.

Syair lagu The Beatles mengalun sayup dari kamar ku masih terdengar : Say you don’t need no diamond ring and I’ll be satisfied /  Tell me that you want the kind of thing that money just can’t buy / I don’t care too much for money, money can’t buy me love

Berbaur dengan melodi lagu cinta sepanjang masa : Endless Love dari penyanyi Diana Ross. Syairnya.

My love / There’s only you in my life / The only thing that’s right / My first love / You’re every breath that I take / You’re every step I make / And I / I want to share / All my love with you / No one else will do / … Oooooooh / And love / I’ll be that fool for you / I’m sure / You know I don’t mind / Whooooa, you know I don’t mind / And yes / You’ll be the only one / ‘Cos no one can’t deny / This love I have inside / And I’ll give it all to you / My love /My endless love

Jendela rumah kami yang terang, dan alunan lagu yang terdengar.

Ada mata dan telinga yang juga mengetahui.

Seakan rumah kami adalah panggung sandiwara, dan tokoh ceritanya di sorot lampu panggung. Semua memperhatikan. Rumah kami yang tidak terlalu mencolok, tampak biasa, standar, sama , seragam dengan rumah di sekitar kami. Komplek yang mempunyai aturan deretan rumah yang setipe. Tidak tampak kemewahan yang mencolok berbeda, kendaraan pun sejuta umat. Bahkan banyak tetangga yang lebih hebat, dengan kemewahan kendaraan kelas Eropa, bahkan garasinya sendiri tidak muat menampung kendaraan yang dimiliki.

Ada sepasang mata melihat, sepasang telinga mendengar.

Dari kaca jendela seberang rumah.

Aku tentunya tidak menyadarinya bahwa aku menjadi tokoh yang menjadi perhatian, Tidak hanya aku, keluarga ku, istri dan anak-anak ku juga.

Syair lagu terdengar.

Dia dari balik tirai ruang tamunya, yang melihat kami, juga menyetel lagu dengan syair yang aku pun suka. Ya.  Aku pun suka lagu itu. Papa Rock N Roll – The Dance Company.  Papa memang harus begini / sering bikin sakit hati / papa gak pulang beibeh / papa gak bawa uang beibeh.

Dia, juga aku kenal sejak kecil. Berasal dari keluarga sederhana. Kami saling mengenal. Dan dia juga telah menjadi seorang yang sukses.

Ditambah istrinya, pun dari kalangan cukup berada.

Kali ini lampu panggung menyorot rumah tokoh si Dia.

Hanya rumah besar itu sepi, kemana istri nya? Kemana juga anak-anaknya.

Kalau urusan ini, pernah aku tanyakan kepadanya langsung, sehingga menjauhkan dari gossip ataupun fitnah.

“ Kawan, aku lihat rumah kau sepi sekarang. Maaf, kalau aku lancang bertannya. Kemana anak dan istri kau?”  Tanya ku kala itu.

Sebelum jawaban keluar dari mulut kawanku, aku mendengar satu tarikan nafas, satu helaan, dan kerutan di dahinya, guratan matanya yang sayu.  “Anak istri pergi meninggalkan ku. “ Terdiam sebentar, suaranya tampak lirih,” ini salah ku. Aku terlalu sibuk mengejar karir. Istri aku sering kesepian. Padahal aku bekerja keras juga untuk mereka .” Helaan nafas kembali terdengar, tampak berat, tampak lirih ucapan berikutnya, “ kami pun menjadi sering bertengkar, dan terus bertengkat hebat apabila membicarakan suatu hal yang kecil.” Terdiam. “Aku melihat kamu bahagia kawan.” Dia menepuk bahuku dan kemudian pergi meninggalkanku.

Apakah aku juga bahagia.? Ah, kita bernasip sama kawan.

Aku pun demikian. Kami  — aku dan istri — juga sering bertengkar.

Merenung.

Ucapan dan cerita pun kala itu lah yang menyelamatkan ku.

Aku bangkit dari kesalahan.

Kamu telah mengalaminya, aku tidak ingin mengalaminya hal itu.

Kami pun ingin membantu mu Kawan.

Kami sudah menyiapkan suatu kejutan untukmu, kawan.

Kami telah menelpon istri dan anak-anak mu. Mereka hadir di tengah acara kami.

Menunggu kamu, kawan untuk bergabung.

Mari perbaiki kesalahan.

Kita bekerja untuk keluarga, sehingga kalau keluarga menjadi korban. Tentunya bertentangan dengan tujuan kita.

Lagu The Dance Company masih terdengar. Syairnya   mama please, please don’t be angry / papa sibuk … / papa gak pulang beibeh / papa gak bawa uang beibeh

Terlihat kembali, istri dan anak kawan ku hadir. Ada pelukan mesra mereka. Berkumpul bahagia.

Aku pun bahagia.

Tepuk pundak ternyata ringan. Seperti daun yang terbang, dimana ada angin, karena ringannya, menempel satu pundak, terbang ke pundak yang lain.

Pundak yang tersentuh, membisikan makna.

Kini!  Bukan di panggung cerita, sorot lampu menyoroti bukan kepada tokoh cerita.

Kini? Seluruh arena tampak menyala terang.

Kadang, kita juga yang menjadi tokohnya.

Sekembaliya kami, dari  rumah kawan ku.

Aku kembali pusing. Saat menikah memang sebaiknya mempunyai CINTA, namun untuk mempertahankan CINTA sebaiknya mempunyai UANG.  Menghitung berapa biaya bagi suatu pernikahan?  Aku tidak tahu berapa jumlahnya, sebab sampai saat ini aku masih mengeluarkan biaya bagi pernikahan kami.

Ada banyak biaya yang harus aku bayarkan atas acara hari jadi kami.

Ternyata Cinta tetap butuh uang.

Hanya uang memang bukanlah segalanya.

/***

Sebagai pengenalan penutup, lebih baik daripada tidak sama sekali.

Kami adalah sepasang suami istri.   Nama ku Ryo. Pasangan hidup ku, istri ku, panggilannya Tyas. Memiliki anak kembar yang berusia 9 tahun.

Mengalun lagu band legendaries The Beatles.  Can’t buy me love, every body tells me so.  / Can’t buy me love, no no no no, no. / Say you don’t need no diamond ring and I’ll be satisfied / Tell me that you want the kind of thing that money just can’t buy / I don’t care too much for money, money can’t buy me love / …

 

….***/ tamat /***…

 

Sorry, comments for this entry are closed at this time.

View Richardus Sendjaja's profile on LinkedIn