www.flickr.com

Jiwa Ragaku tuh di Motor #safetyfirst

October 31st, 2015 | by Richardus Sendjaja |

Jiwa Raga Ku tuh di Motor

Motor ku. Aku panggil mesra dengan nama Honda. Itu panggilan sayang ku, secara sengaja memang sama dengan merk motor yang tertulis jelas di STNK.  Identitas nya tercantum juga  nama ku sebagai si empunya yang sah secara hukum.  Tersenyum.  Motor lama yang sudah kupakai sejak jaman masih anak SMP dulu.

Wah, kalau ingat jaman SMP dulu, —hehehe —, aku sudah punya kartu SIM (baca: Surat Ijin Mengemudi).  Kok bisa? Ya  bisalah. Gampang itu tidak susah, dan mudah dalam membuatnya. Aku tinggal datang dan foto saja. Nah, pasti dibenak semua bertanya masalah usia yang belum cukup untuk mendapatan kartu SIM , lantas bagaimana?  Lagi-lagi hal ini masalah kecil, usia tinggal manipulasi saja alias ditambah agar cukup usia.  Semudah itu? Jelas, tidak mudah kalau tidak ada pelicinnya? Apaan tuh? Oli! Ha Ha Ha — Olala, ya uang lah.

Peace. Rehat sejenak sebelum melanjutkan. Ini cerita Fiksi. Sehingga apabila ada kejadian, tempat dan tokoh cerita yang kebetulan sama dengan kondisi realitasnya, adalah karena suatu kebetulan yang tidak di sengaja. Pastinya bukan cerita beneran. Suer-er –wer.

Gaya banget, dapat dari mana uang itu, ‘khan masih belum punya penghasilan, lagi-lagi kok yang kayak gini musti dijelasin sih. Uang Bokap-Nyokap dong.  Merekalah yang berjasa,  yang bayarin pembuatan SIM sehingga aku bisa naik motor ke sekolah.  Sebenarnya juga ngak terlalu butuh SIM, tapi ini katanya untuk lebih aman aja. Lagian SIM juga tidak seberapa mahal.  Jika nantinya kena tilang, malahan bisa lebih mahal.

Mereka mendukung? Jelas iya lah. Kalau tidak mana mungkin dibayarin uang pelicinnya untuk membuat SIM segala. Bokap-Nyokap sibuk. Bokap pekerja kantoran,  sehingga tidak bisa antar lagi aku ke sekolah. Nyokap sih tidak kerja,  tapi aku ogah di antar Nyokap. Malu-malu in aja dong,  nanti di bilang anak mami.

Dengan memakai motor, menjadi lebih praktis sekaligus dapat  menghemat biaya. Coba hitung hitung,   mainkan pencetan kalkulatornya. Menggunakan motor  versus  naik angkot  sebagai sarana transportasi akan lebih produktif.  Walaupun  naik motor memang agak kurang olah raga jantung, jika dibandingkan dengan angkot  — sebab menunggu angkot tiba,  dengan rasa suka cita setelah di tunggu akhirnya datang juga, untuk mendapatkan tempat duduk .

Ingat teriakan ini :  “ Ayo rapat 4 – 6” kadang teriakan supir merangkap kondektur untuk menjadikan penumpang seperti ikan sarden dalam kaleng, berdesakan dan adu pinggul agar semakin merapat bisa tak leluasa bernafas. Ups, di pagi hari agak mendingan, karena para penumpangnya baru saja mandi dan wangi.

Amat sangat diperlukan kecepatan  langkah. Tidak cukup langkah saja.   Lari – berlari mengejar.  Ayo untuk lebih cepat agar bisa  mendekati pintu angkot. Di otak tetap di tanamkan, agar tidak lengah serta menjadi waspada, waspadalah!.  Ingat selalu pesan ini saat naik angkot di kala banyak penumpang yang berebut naik. Tangan tetap memegang dompet erat-erat,  sebab jangan sampai nanti dompet yang ada di kantong bisa hilang akibat kelincahan pekerja terampil yang sudah mulai beraksi. Keahlian  tangan,  copot, eh cepot, ‘ gaya alay yang sedang latah’:  Copet yang istilah bule di sebut  ‘Pickpocket’.  Deskripsi tadi kondisi di saat pagi hari berbarengan dengan waktu anak sekolah dan waktu anak (baca: orang) kantoran kerja. Sangat ramai.

Itu cerita tahun 80-an (kesannya tua banget nih, lebih tepatnya tahun 80 an akhir lah. Ketawa dong —  sepertinya tetap tidak membikin aku tampak lebih muda).  Aku duduk di kelas SMP tingkat 2. Anak SMP apa anak kuliah, pakai tingkat segala. Maksudku, aku di kelas lantai 2 gedung SMP. Hehehe…

Kebayang kan, saat ini berapa usia Bokap-Nyokap? Eit, bukan itu pertanyaannya. Jadinya  berapa kira-kira usia motor  Honda yang telah sekian lama bersamaku?  Ada pilihan ganda sebagai berikut:

A. 1 Minggu     ,  B. 1 Bulan, C. 1 Tahun, D. Lebih dari 25 tahun.

Bingung. Ada pilihan bantuan. Pilihan Fifty Fifty : Coret A dan C.  Jadi jawabannya sisa B dan D.

Pergunakan analisa sedikit : Pilihan  D. Lebih dari > 25 tahun.

Toiiingg! Kembali dari bayangan lalu ke masa kini.

Kondisi Honda masih awet, karena aku cerewet akan perawatannya. Tapi kadang Honda agak sensi kalau lagi sakit “busi”, juga jika kena banjir di Jakarta. Seperti manusia, sakit demam dan flu, resep sederhananya perlu istirahat dan perawatan rutin di bengkel.

Pesan sponsor dan sekilas promosi . Untungnya biaya perawatan dan spare part Honda lumayan hemat, lengkap dan banyak pelayanan tempat servisnya.  Semakin mantap pula dengan dukungan pelayanan yang cepat dan ramah. Motor memang Honda jagonya.

Aku amat sayang dengan motorku , di usiaku saat ini (mohon maaf ya, aku ngak mau sebut berapa usiaku, malu rek).  Yang perlu diketahui usia Honda yang  kini sudah  bersama kehidupanku sekitar lebih dari seperempat abad.

Motor kesayanganku itu sudah aku duduki dan aku jajah sejak kelas SMP, lanjut  SMA, Kuliah, Pacaran, saat sering mondar-mandir  ke kantor pos mengirimkan lamaran pekerjaan, lontang – lantung ke sana-kemari ,  kemudian  bekerja,  menikah,  dan  diduduki juga oleh my wife,  pas punya anak di  duduki  juga dan diompolin oleh Juniorku. Beban beratku yang semakin tambun, ditambah lagi beban dari istri dan Junior. Tetapi masih tetap untung. Apa untungnya ? Untungnya adalah  istriku berat badannya saat pacaran sampai sudah punya satu anak masih tetap langsing .  Kini usia anakku ‘Junior’  sudah beranjak remaja sudah tidak mau lagi bertigaan dalam satu  motor seakan memberikan nafas lega bagi Honda. Mengurangi beban. Berbeda saat Junior masih kecil dulu,   ketika Junior masih bisa ‘nyempil duduknya, antara aku dan istriku. Walapun sebenarnya, dan sejujurnya, dan sebagainya, justru malahan menjadi penghalang kemesraan dulu.  Flash back di saat pacaran,  saat itu —- menerawang jauh ke masa lampau — ada pelukan mesra dan lingkaran tangan di perutku, menjadi hangat dengan cinta dan sayang, kini dan selamanya nanti, pelukan my darling.

Kasihanilah Honda. Jika Honda bisa ngomong dan berteriak “ Aku lelah dan capek, badanmu semakin berat, tambah beban istri dan anakku lagi. Jangan tambahkan beban dalam hidupku lagi. Cukup sudah, ku rasakan ¯¯¯(Dendang penyanyi Glenn Fredly). Biarlah yang muda muda menggantikan tugas berat ku, beli Honda lagi dong. Masa terus-terusan naik motor“.  Itu sedikit banyak tebakan kalimat Honda yang akan meluncur keluar apabila dapat bicara.   Waktu lebih dari seperempat abad , bukan semakin ringan membawa beban melainkan justru semakin menanggung beban berat , ya sebabnya selain di duduki oleh aku, ditambah bobot istri dan kala Junior kecil pun ikut.

Honda merupakan saksi hidupku. Iya dong. Kalau ngak hidup mesinnya ngak bisa jalan, dan ngak bisa bawa sejak aku  bujangan  ‘ Begini nasib menjadi  bujangan ¯¯¯’ (Mengingatkan akan lagu Koes plus) — Saksi hidup, saat aku  pacaran ,  jalan sama mantan pacar  (saiki dadi bojo ku), saat dia memeluk dan melingkarkan tangannya di bagian perut untuk berpengangan erat , “ Ojo sampe jatuh ya dik. Pegang yang rapat dan erat.,” ucapanku kala itu .

Eng-eng- brem-brem-eeeng. Deru mesin motor di gas. Begitulah bunyi mesin motor menderu. Kayaknya ngak mirip aslinya.

Agak sedikit meloncat, suatu trik yang membuat semakin eratnya pelukan dan kehangatan menghampiri daku. Aku tersenyum riang-ria.  Bonus tambahannya, saat badan matan pacar  menempel erat memberikan kehangatan yang indah dan manis

Hem, hem, ehm. Suasana itu…

Toiiingg! Toiiingg!

Aku kemudian mengambil ember air, menambahkan sedikit sabun, dan melanjutkan mencuci Honda, dengan siraman air dari selang . Mengelap dengan lembut. Menyiramnya dengan  air sabun, agar menjadi wangi, sekaligus membersihkan debu-debut jalanan yang menempel kotor di Honda. Mengelap kembali dengan kain kanebo,  melanjutkan memakai kain kering, menggeringkan, dan agar menjadi kinclong mengoleskan ‘Wax’. Menggosoknya lagi.  Apik, dan semakin gagah Honda ini.  Rutinitas memandikan Honda menjadi relaksasi dan olahraga tersendiri yang menyenangkan serta menenangkan jiwa ragaku. Aku seperti memandikan diri sendiri. Menikmati sekali. Sekaligus irit daripada mencucikan di tempat laundry ‘cucian’ motor.

Seakan aku dapat berkaca pada body warna hitamnya yang memantulkan gambaran muka diriku dengan jelas.

Sama gagah dan gantengnya dengan si empunya, memuji diri juga baik untuk memberikan penghargaan, hanya memang kali ini, ada rambut putih yang sudah terlihat. Perlu di wax juga rambut ini, agar awet muda lagi.

“Sebentar lagi, Honda siap untuk menjalankan tugas .”

Berbarengan dengan kalimat Junior, “Papi, Aku siap.”

Aku melihat Junior.  Hanya memakai sandal jepit, celana  jeans belel, kaos santai aja. Nampak santai dan rapi. Tampilan sih tidak ada yang salah.  Junior memang mau pergi main ke rumah temannya atau mau ke pacarnya. Entahlah.  Hanya ada yang kurang gimana gitu, ayo, mana ekspresinya…!

Dia mirip aku saat seusianya.  Aku seakan berkaca. Alisku kemudian berkerut, “ My honey, anak kita mau jalan naik motor kok,  kurang di jaga keamanannya sekaligus keselamatannya. “ Aku menegur istri ku.

Aku dulu saat mau naik  motor, udah berlagak gaya macam pembalap.  Memakai jaket, pelindung dada,  sepatu boot, sarung tangan, dan juga pastinya memakai helm. Helm yang belabel SNI,  label sertifikasi Standard Nasional Indonesia.  Kepala sendiri kok dianggap remeh. Gunakan selalu Helm SNI.  Lengkap semuanya.  Hal itu untuk keamanan dan keselamatan bagi si pengendara motor.

Aku melirik Bokap.  Bokap sedang membaca Koran  .  Duduknya santai.  Bokap juga menatapku, dia juga tersenyum penuh arti.  Membaca sorotan matanya, aku masih  mengenali  sorot matanya yang penuh perhatian dan menggoda nakal.

Bokap bangkit berdiri.

Bokap masuk ke dalam rumah.

Keluar dengan seperangkat alat keamanan dalam bersepeda motor.

Busyet. Perlengkapan itu, lagi-lagi mengingatkan memory melodi  lama.  Antara lain : Jaket, pelindung dada, sepatu boot, dan tak lupa helm. “Junior, ini…,“ sambil menyerahkan : Helm  berlabel SNI untuk melindungi kepala, jaket untuk melindungi badan dari angin dan juga memberikan kehangatan , pelindung dada agar tidak masuk angin, Sarung tangan bagi kenyamanan mencengkram gas dan rem di kemudi, dan sepatu boot untuk menjaga kaki yang baik adalah menutupi jari-jemari kaki saat bersepeda motor. Baik juga memakai celana panjang. Bokap juga menjelaskan singkat, padat dan tegas akan guna dan fungsinya perlengkapan aman bersepeda motor,  “ Junior wajib memakainya bagi keamanan dan keselamatan selama bersepeda motor di jalan raya!“

Bokap kemudian justru memandang aku, dan kembali berkata-kata dengan amat lancarnya.

“Kami selaku orangtua, cemas saat kamu berpegian naik motor.  Kami juga merasakan seperti yang kamu kini rasakan.  Kekhawatiran nanti terjadi apa-apa.  Khawatir banget.  Khawatir kamu  terjatuh.  Celaka,  dan terjadi ada apa-apa.”  Bokap Menghela nafas. “ Ingat waktu kamu belajar sepeda,” senyumnya mulai merekah, “ kamu kami perlengkapi sepeti ini juga. Bahkan kami tambahkan pelindung lutut kaki, dan pelindung siku. Kamu persis kayak robot. Ha Ha Ha.” Suatu tawa yang lepas.

Melanjutkan . “Itu lah sayangnya orangtua kepada anak. Tapi ada satu kesalahan kami dulu,  jangan menjadi contoh  dan ditiru. Kamu dulu kami biarkan belum cukup umur untuk naik motor. Kalau diingat masa lalu itu —  kami keliru sekali melangkah,  salah besar telah membiarkan dan mengijinkan kamu yang belum cukup umur mengendarai Motor“

“ Kamu kurang matang dalam emosi sebab usia yang belum cukup dewasa. Bikin jantung orangtuamu ini deg-degan, dagdigdug kayak bunyi beduk, bahkan mau melorot jantung ini rasanya ke kaki saat lama menunggu kamu pulang sekolah, apalagi mendengar berita ada anak sekolah yang jatuh dan celaka dari motornya. “ Stop ambil nafas. “Kamu…” Penekanan lanjutannya setelah menunjuk dahi ku, “ Bapak biarkan naik motor karena kami sibuk. Keadaan kita saat dulu jangan dijadikan alasan untuk membenarkan suatu kesalahan. Dan baguslah, kamu tidak mengulang kesalahan yang sama. Itu namanya manusia punya akal- budi, mampu belajar dari pengalaman…”

Melanjutkan, nyerocosnya.  Biasalah Bokap,  sedang melancarkan jurus wedang jahe (baca: wejangan) yang hangat, “ Kamu sekarang udah jadi orang tua juga, jadi merasakan, sekarang mengajarkan anak naik motor, gimana rasanya, khawatir kan? Rasa khawatirnya itu yah, seperti ini rasanya.”

Tambahan pelajaran berharga dari  Bokap.

“Tapi perlu di ingat, jangan sampai kita lupa bahwa kekhawatiran yang berlebihan juga tidak baik. Tidak bisa membuat anak menjadi mandiri. Kita selaku orang tua, justru wajib memberi contoh yang benar, memberikan pemahaman dan pelatihan akan keselamatan  bersepeda motor,  dan juga menanamkan disiplin,  mematuhi rambu-rambu latu lintas .  Selamat bagi diri sendiri dan juga selamat bagi orang lain. Sebab di jalan raya adalah milik bersama, yang perlu kita jaga ketertibannya.”

Selama Bokap bicara, hati ini bergetar- cetar, seakan menusuk masuk ke kalbu terdalam . “Yah, rasa ini, rasa ini kah yang dirasakan orang tua, Bokap-Nyokap  dulu.  Khawatir, dan takut, ada apa-apa. Deg-deg an. Dagdigdug kayak bunyi bedug. Byar pet jantungan “

Itu lah yang selalu aku tunda, waktu yang terus aku ulur, alasan demi alasan.

Junior marah, kenapa selalu di larang, sementara anak seusianya sudah pada bisa naik motor sendiri. Junior menjadi merajuk, cemberut, membujuk rayu dengan sejuta cara. Tujuannya agar aku mau mengajarkan naik motor, dan akhirnya apabila sudah bisa,  aku nantinya akan rela meminjamkan Honda kesayangan ku ini untuk dipakai ke sekolah,  jalan-jalan, main  bersama teman-temannya, jemput – antar pacarnya. Akan jugakah dipakai kebut-kebutan, ugal-ugalan di jalan raya karena jiwa mudanya. Kebayang dan membayangkan. Hal perbuatan tersebut persis plek, persis sama, dengan aku ! Aduh, tepok jidat! Menggelus dada. Menghela nafas.

Junior bisa naik motor, aku gurunya yang mengajarkan. Pengalaman naik Honda selama lebih seperempat abad, rasanya aku menjadi cukup pakar dan jago.  Aku tidak hanya mengajarkan cara menyetir motor, tetapi juga mengenal seluk likuk motor. Tak lupa akan hal teerpenting adalah perihal keamanan dan keselamatan si pengendaranya.  Aku tetap berpegang prinsip, tidak akan mempekenankan Junior mengendarai motor di jalan raya selama belum memiliki SIM. Belajar motor pun aku selalu awasi, dampingi,  saat kami berlatih di sekitar komplek.

Junior, kini cukup umur. Dan mempunyai SIM yang sah. Tidak seperti aku dulu. Harapan kami : Apa  yang telah kami tanamkan baik, kelak akan membuahkan hasil yang baik.

Kini aku melihat Junior, sudah lengkap dengan perlengkapannya bersepeda motor.

Junior memposisikan duduk di Honda, motor . Tampak gagah.

Tapi lagi-lagi ada yang kurang sreg di hati.

Aku langsung meminta Junior turun, karena sebelum naik motor sebaiknya melakukan beberapa ritual penting. Pasti lah: Berdoa dulu bagi keselamatan di jalan.

Setelah melek mata sehabis berdoa. Wajib nih untuk memeriksa tangki bensin, — hehehe—,  jangan sampai kosong kehabisan bensin.  Jika nanti terjadi mogok di tengah jalan akibat motor sudah tidak mampu bergerak sama sekali.

Motor dalam kondisi mati Suri.

Disarankan segera mencari penjual air kelapa, dan dipersilahkan dapat ditambah es batu supaya menjadi lebih segar, serta bagi kenikmatan lanjutan,  silahkan ditambah dengan pemanis gula maupun sirup.  Semua tadi dibutuhkan sebagai tambahan daya dorong mencari pom bensin terdekat.  Karena kesegaran tadi dibutuhkan setelah capek mendorong motor, menjadi dahaga.  Haus!. Capek deh dorong motor .

Kemudian ada apa lagi yang perlu diperhatikan dan sekaligus di periksa? Pasti periksa ban.  Ban adalah roda kehidupan berjalannya motor, jadi roda harus bulat, supaya bisa menggelinding. Tentu itu adalah mengenai bentuk ban yang bulat, yang perlu di awasi justru, jangan sampai ban kurang ajar. Artinya bannya kekurangan angin. Kempes, atau kurang padat berisi.

Pemeriksaan dilanjutkan ke badan lebih enaknya menyebut sebagai ‘body’ motor.

Body motor yang penting juga di periksa adalah bagian lampu. Apakah lampu motor dapat menerangi jalan yang akan kita lalui? Lampu bulat putih yang di depan, apakah akan menyala? Yup. Menyala. Tes berhasil.

Apakah lampu belakang juga  mampu memberikan tanda – tanda? Tanda bahwa motor akan bergerak ke kanan kalau mau belok ke kanan ada lampu belakang kanan yang akan memberikan tanda;  belok ke kiri ada juga lampu kiri yang memberikan tanda. Umumnya lampu tanda belok kanan-kiri itu berwarna kuning,  akan menyala dan berkelap-kelip.

Teori yang jelas dan tidak ribet , juga telah di ketahui secara luas.

Permasalahannya hanya tidak konsisten dan komitmen dilakukan. Ingat, ini juga bagi keamanan dan keselamatan bersepeda motor.

Hasil pemeriksaan langsung on the spot, cek  body motor Honda. Semua aman. Semua dalam kondisi “Pancen Oye.”

Aku suruh Junior turun lagi.

Kasihan juga, naik-turun Honda.

Junior seperti alat peraga nampaknya.

Aku minta keluarkan dompetnya.

Gaya seperti Polantas, “Mohon KTP, SIM dan STNK  untuk di perlihatkan?”.

“Siap!”, Junior memberikan KTP,  juga SIM barunya, serta STNK motornya.

Aku menerima KTP, SIM dan STNK. Memandangi  foto SIM, dan melirik wajah Junior. Miriplah. Pasti sama. Melihat masa berlakunya SIM. Aman. Masih panjang.  Giliran STNK, periksa teliti nomor plat motor, dan bandingkan dengan STNK. Aman. Sama persis, Pasti sama.

Semua siap dan lengkap. Aman dan terkendali. 86!.

Dari tadi, Bokap dan Nyokap, my beautiful wife, melihat aku.

Aku tidak sadar, kalau aku diperhatikan dari tadi oleh banyak mata.

Mereka berteriak bareng , “ Aduh segitunya amat sih.”

Aku tersenyum, begini rasanya sudah ada ikatan batin antara aku dengan Honda. Aku takut ada apa-apa dengan Honda.  Khawatir  nanti mengalami kerusakan atau kehilangan Honda, karena aku telah mengenal Honda lebih lama dari my lovely wife. Aku sudah mendudukinya sekian lama.

“Ikhlas, demi anak.”  My lovely and beautiful wife menghampiri aku.

“Duh, seharusnya kamu juga ikut sedih, my love. Itu juga motor kenangan kita bersama.” Mimik mukaku tampak susah, tampak luyuh, dan sedih.

Istriku yang sudah semakin dekat, dan tiba-tiba ada yang terasa hangat, bulir bulir air yang jatuh dari kelopak mata sudah mengalir di pipiku. Ternyata aku cengeng nih.  Seorang laki-laki menangis. Melankolis. Tangan istriku mengusap air mata yang terlanjur jatuh ke pipi. “Jangan sedih dong, itu Honda ‘kan tidak di jual. Dan hanya dipakai sama anak kita.” Keluar kata-kata yang menghibur.

Aku pun kemudian memeluk istriku.

Junior menghampiri kami.

Tingki wingki. Kami berpelukan.

Mesra sekali. So Sweet.

Sesaat kemudian aku menatap tajam Junior. Jari tangan ku menunjukan angka 2 (baca: peace) . “Junior ini angka berapa?” Tanyaku.

“Dua.” Jawabnya singkat.

Aha. Artinya dari sorotan matanya yang jernih dan jawabanya yang benar, dapat disimpulkan Junior dalam kondisi fit, prima dan penuh kesadaran. Mampu mengendarai motor dengan aman, tertib dan selamat di jalan.

“Klik.” Terdengar bunyi helm terkunci.

Junior kemudian mengemudikan Honda keluar pagar rumah.

Sekeluarnya Junior, tampak keheningan sejenak. Kami semua seperti kehabisan kata-kata, tampak termanggu, tercenung.

Diam.

Pelan suara langkahku, memecah kesunyian.

Aku membuka pintu garasi, dan mengeluarkan Honda lainnya.

Bokap-Nyokap, istriku melongo.

Aku mengeluarkan Honda mobil.

Suprise!” teriak ku.

Sekarang aku yang menang.

Aku memperlihatkan kunci mobil kepada istriku.

My sweet heart, sepertinya sekarang kita musti menduduki mobil saja. Kita jalan-jalan yuk.”

Bokap dan Nyokap, sudah ada di dalam mobil. Mereka duduk manis di kursi barisan kedua.

Sementara istriku juga  duduk di sebelah kiriku. Aku yang pegang kendali – setir.

Ternyata ada yang hilang, naik mobil memang nyaman dan tidak kehujanan, maupun kepanasan. Ada AC, sejuk.  Kehilangan sesuatu banget (Lagu Sesuatu — Syahrini).  Yaitu satu pelukan erat yang melingkari pinggang dan perutku, dan dekapan hangat .

Aku percayakan Honda kepada Junior. Tapi, itu hanya sementara. Aku akan belikan motor yang lebih baru, karena Honda adalah sekali lagi jiwa dan ragaku. Biarlah Junior nanti memiliki kenangan indah dengan motor yang akan menjadi miliknya, serta akan juga menjadi jiwa raganya kelak. Histori nya.

Psst. Sebenarnya aku tetap tidak rela kalau Honda dipakai oleh siapapun. Mempunyai sejarah yang melekat di jiwaku. Menyatu di ragaku, terutama saat aku menduduki Honda.

Kata-kataku selalu mesra kepada istri, apakah aku tidak ingat kepada nama istri sendiri yah?! .

My love, my darling, my honey, my wife, my sweet heart….

Pletak.

Kepalaku dijitak.

“Oi, kita ini naik mobil bukan naik motor, ayo! Helmnya di lepas dong…”

Jitakan Bokap tidak seberapa sakit karena memang kepalaku terlindung dengan helm.  Padahal aku mau meniru F1, di mobil aja pakai Helm.  Senyum kecut. LoL.

JJJ  JJJ

***

Bokap-Nyokap =  Bapak dan Ibu.

Saiki dadi bojo ku = Sekarang menjadi pasangan hidupku.

My love, my darling, my honey, my wife, my sweet heart, my beautiful wife, my lovely wife = lihat kamus dong.

RICHARDUS SENDJAJA

Penulis  pernah tinggal di beberapa kota besar  di Indonesia dan hobi travel.  Senang menulis  dan ada yang berhasil di terima oleh penerbit, yaitu  cerpen fiksi  dimuat di harian Sinar Harapan / Suara Pembaharuan berjudul “ Blank Spot”,  artikel non fiksi perihal perbankan pernah di muat pada majalah manajemen.  Menulis buku dan diterbitkan oleh Elex media,  berjudul “ Penggelitik Diri”.

Post a Comment

View Richardus Sendjaja's profile on LinkedIn