www.flickr.com

Ketika kita menerima sesuatu yang buruk, ingatlah saat ketika kita menerima yang baik

September 1st, 2011 | by Richardus Sendjaja |

Athusr Ashe adalah petenis kulit hitam dari Amerika yg memenangkan 3 gelas juara.

Grand Slam : US Open (1968)

Australia Open (1970) dan Wimbledon (1975)

Pada tahun 1979 ia terkena serangan jantung yg mengharuskan menjalani operasi bypass. Setelah 2 kali operasi, bukannya sembuh ia malah harus menghadapi kenyataan pahit, terinfeksi HIV melalui tranfusi darah yang ia terima

Seorang penggemarnya menulis surat kepadanya “Mengapa Tuhan memilihmu untuk menderita penyakit itu?”

Ashe menjawab, “Didunia ini ada 50 juta org yg ingin bermain tenis. Diantara 5 juta org yang bisa belajar bermain tenis, 500 ribu org belajar menjadi pemain tenis profesional. 50 ribu datang kearena untuk bertanding. 5 ribu mencapai turnamen Grandslam, 50 org berhasil sampai ke Wimbledon dan 4 orang berlaga di semifinal. Dan hanya 2 org yang berlaga di final.

Ketika saya menjadi juara dan mengangkat trofi Wimbledon, saya tidak pernah bertanya kepada Tuhan : “Mengapa saya?” Jadi ketika sekarang saya dalam kesakitan, tidak seharusnya juga saya bertanya kepada Tuhan : “Mengapa saya?”

Renungan   

Sadar atau tidak, kerap kali kita hanya merasa hanya pantas menerima hal-hal baik dalam hidup ini : kesuksesan, karier yang mulus, kebahagiaan dan kesehatan. Ketika yang kita terima justru sebaliknya : penyakit, kesulitan, penderitaan dan kegagalan, seringkali kita menganggap Tuhan tidak adil. Sehingga kita merasa berhak untuk menggugat Tuhan.

Tetapi tidak demikian. Ashe berbeda dengan kebanyakan orang.

Itulah cerminan hidup beriman :

tetap teguh dalam pengharapan,

walau ada beban hidup yang menekan

Ketika menerima sesuatu yang buruk,

ingatlah saat-saat ketika kita menerima yang baik.

 

 

 

Sorry, comments for this entry are closed at this time.

View Richardus Sendjaja's profile on LinkedIn