www.flickr.com

Uang Seribu dan Seratus Ribu

April 1st, 2011 | by Richardus Sendjaja |

Uang seratus ribu dan seratus ribu sama-sama terbuat dari kertas, sama-sama dicetak dan diedarkan oleh dan dari Bank Indonesia. Pada saat bersamaan mereka keluar dan berpisah dari Bank dan beredar dimasyarakat.

Empat ( 4)  bulan kemudian mereka bertemu secara tidak sengaja didalam dompet seorang pemuda.

Kemudian terjadilah percakapan yang seratus ribu bertanya kepada yang seribu “kenapa badan kamu begitu lusuh, kotor dan bau amis …? dijawablah olehnya “karena aku begitu keluar dari bank langsung ditangan orang2 bawahan dari tukang becak, tukang sayur, penjual ikan dan ditangan pengemis”

Lalu seribu bertanya balik pada seratus ribu “kenapa kamu kelihatan begitu baru, rapi dan masih bersih? dijawabnya; “karena begitu aku keluar dari Bank, langsung disambut perempuan cantik dan beredarnyapun direstaurant mahal, di mall dan juga dihotel-hotel berbintang serta keberadaanku selalu dijaga dan jarang keluar dari dompet”

Lalu seribu bertanya lagi “pernahkah engkau mampir di tempat ibadah? dijawablah “belum pernah”

Seribupun berkata lagi ; “ketahuilah walaupun keadaanku seperti ini adanya, setiap jum’at atau minggu aku selalu mampir di mesjid2 atau digereja dan ditangan anak2 yatim, bahkah aku selalu bersyukur kepada Tuhan. Aku tidak dipandang manusia  bukan sebuah nilai tapi yang dipandang adalah sebuah manfaat ……”

Akhirnya  menangislah uang seratus ribu karena merasa besar, hebat, tinggi tapi tidak begitu bermanfaat selama ini.

Renungan

Jadi …….

bukan seberapa besar penghasilan kita, tapi seberapa bermanfaat penghasilan kita itu. Karena kekayaan bukanlah untuk kesombongan.

Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang selalu mensyukuri anugerah  dan memberkati yang lain.

Kita diberkati  untuk memberkati.

 

 

Sorry, comments for this entry are closed at this time.

View Richardus Sendjaja's profile on LinkedIn