www.flickr.com

Syair CINTA

November 22nd, 2015

Syair CINTA

Aku menyetel lagu di kamar dengan merenung. Menjadikan kedua lenganku sebagai bantal, merekah bibir ku tersenyum sendiri, pikiran dan jiwaku menerawang jauh ke belakang.  Suatu yang patut untuk ku kenang, akan kisah masa lalu.

I’m not an actor I’m not a star / and I don’t even have my own car /But I’m hoping so much you’ll stay / that you will love me anyway. Titel lagu “The Actor “ dari  Michael Learns to Rock.

/***

Aku tertarik lagi jauh ke belakang. Ini kisah keluarga kami.

Sejak kecil, aku melihat pertengkaran kedua orang tua yang meributkan masalah uang. Kehidupan keluarga yang sepeti roda berputar, yang katanya kadang di atas, juga sering menjadi berat saat  berada dibawah. Kehidupan yang dulu kami rasakan cukup baik dan bercukupan menjadi terpuruk ke bawah, menjadi serba pas dan bahkan bisa dikatakan kekurangan.

Usiaku terlalu dini untuk menikmati masa jaya ayah-ibu, yang katanya, katanya yang berarti bukan pengalaman ku melainkan informasi di sampaikan kepada ku demikian. Di saat aku dilahirkan, keluarga kami memiliki mobil,  dengan rumah yang lumayan mewah, ada supir pribadi, tukang kebun yang merapikan taman halaman rumah, pembantu rumah tangga,  bahkan hadirnya baby sitter khusus bagi ku. Kondisi dan situasi sebuah tanda kemakmuran. Aku belum cukup besar merasakan semua kemewahan itu.

Keadaan yang aku rasakan kini, aku hidup di tengah keluarga yang bersahaja nan sederhana, di pemukiman yang padat, kemana-mana naik angkot atau bis kota, rumah yang tergolong kecil – sempit, kadang musti berjalan kaki untuk menghemat, demikian halnya uang bulanan sekolah yang sering dibayarkan terlambat. Segala suatu yang aku inginkan, tidak  mudah aku dapatkan.  Tidak ada makan siang yang gratis istilah kerennya, atau pipis aja harus bayar. Ayah mendidik ku dengan keras, menjelaskan arti bahwa makna uang. Sebuah pengalaman ayah yang menyedihkan karena kebangkrutan dan penipuan bisnis.

Aku mengenang.

Ibu yang harus menjual dan membuat makanan ringan, kue basah, kue kering, menjajakan dari satu toko ke toko lainnya.  Ibu kadang di tengah malamnya masih sibuk membuat kue.  Ayah bekerja jauh di luar kota. Semua berjuang untuk memberi nafkah kepada keluarga dan memberikan masa depan yang lebih baik bagi aku anaknya semata tunggal. Pertengkaran akan uang,  dan permasalahan akan uang, lagi – lagi uang. Membuat aku gelisah, akankah uang selalu ada dalam situasi dan dapat dengan mudah menjadikan telunjuk mengarah kepada keributan ataukah berujung kebahagian.  Koin dengan dua sisinya, bergambar atau angka. Sama-sama melengkapi dan menjadikan uang itu berarti ganda seakan sebilah  mata pisau bermata dua.

Berkedip mata. Pernahkan aku melihat ayah-ibu bahagia. Aku melihatnya kerut lelah, mata yang sayup, badan yang letih dan kurus,  membungkuk, kesibukan demi kesibukan bagi mengejar hasrat, demi menggejar pundi-pundi uang. Aku yakin, mereka berusaha bangkit untuk menaikan derajat keluarga dimata saudara – handai taulan, di mata teman, dan di mata masyarakat, yang kadarnya saat ini terukur dengan  timbangan materi berupa keberhasilan yang fana, yang tidak perlu tahu prosesnya, hanya hasilnya harus berupa kelimpahan akan kemewahan atas kekayaan. Agar derajat kami terangkat, agar dagu ini bisa mendongak naik ke atas. Membuat kebanggaan .

Tujuan itu ingin di gapai, tetapi entah kenapa, ada suatu titik balik.

Aku melihatnya menjadi suatu keajaiban yang nyata akan hikmah dibalik cobaan.

Aku tidak ingat pastinya perubahan, hanya saat itu ibu sakit berat. Terkena Stroke.

Ayah bekerja jauh dari keluarga. Biasanya satu minggu sekali kami bisa berkumpul. Aku masih di sekolah dasar . Ayah bertanggungjawab atas bahtera keluarga.

Saat aku pulang sekolah. Banyak sekali tetangga yang datang memenuhi rumah kami.

Aku masuk ke kamar ibu. “Ibu, bangun bu…”

Ibu terlihat pucat dan tampak tertidur, aku pun menangis. Ibu masih terdiam.

Tetangga, membawa ibu ke rumah sakit.

Jaman itu, belum ada Handphone.   Membutuhkan waktu untuk mengkontak ayah.

Kabar cepat sampai. Ayah pun pulang, langsung menuju rumah sakit di mana ibu di rawat. Selama satu minggu, ibu di rawat di Rumah Sakit. Biaya berobat yang tidaklah murah, menghabiskan uang tabungan. Aku hanya mampu menangis.

Sejak saat itu, ayah menunggu ibu di rumah. Membantu penyembuhan atas sakit stroke ibu.

Ternyata, banyak tetangga yang mengulurkan tangan untuk meringakan penderitaan kami. Bantuan mereka sangat berarti banyak, secara moril maupun materil . Tidak selalu berupa uang, yang ala kadarnya tapi amat kami butuhkan, seperti bahan makanan dari hasil tani dan ternak, sehingga kami dapat makan hari ini. Tidak memikirkan esok makan apa? Esok dipikirkan nanti saja.

Itulah membuat ayah-ibu berubah. Menjadi melek batin bahwa uang dan kekayaan akan tidak ada artinya,  menjadi sirna, akan hilang,  jika tidak menjaga kesehatan. Makna kebersamaan juga prioritas.

Ibu akhirnya sembuh dari sakitnya.

Ayah menjadi sering berkumpul bersama kami, awalnya terpaksa karena menemani ibu yang sakit. Ayah pun akhirnya berhenti dari pekerjaannya.  Saat itu lah perubahan nasib kami .

Berawal mula, mulai dari titik nol.

Bakat ayah sebagai penulis, kemudian tersalurkan. Memakai mesin tik tua, mengalir cerita ayah untuk di terbitkan.  Tulisan ayah diterima penerbit mendatangkan royalty.  Memakainya sebagai modal usaha. Kecil-kecilan membuka kios penjualan Koran, Tabloid , dan  Majalah. Menjadikan nafas nafkah kami.

Sinar kebahagian terbentuk bak pelangi.

Ayah – ibu tidak lagi bertengkar masalah uang. Menjadi lebih bijaksana, dan mesra. “ Kehidupan hanya sekali, jangan dibuat susah.” Ujar ayah sekali waktu.

Cobaan akan cinta mereka telah dimenangkan terhadap gemerlap dan gemerincingnya uang. Mereka telah membuktikan akan kata setia, di antara suka maupun duka. Janji suci pernikahan.

Sehingga yang ada di pikiran ku, aku segera dewasa untuk dapat meringankan beban ayah-ibu.  Aku ingin segera lewati, cepat dewasa, ayo cepat lah dewasa.

Walaupun aku tergolong tidak terlalu cerdas. Aku bisa sekolah sampai lulus perguruan tinggi, mendapatkan sekolah yang masih tetap diupayakan pembiayaannya oleh ayah-ibu. Aku pun tahu diri, ikut membantu dengan memberikan tambahan les privat dan kerja sampingan. Keringat mereka ditambah dengan keringat ku. Menjadi daya dorong menuju harapan,  pendidikan yang baik akan memperbaiki nasib kami kelak. Cita-cita keluarga, ada di pundak ku.

Lulus kuliah.  Mencari kerja, dan menghasilkan pendapatan sendiri. Sungguh suatu yang menyenangkan. Aku bisa meringakan beban dan membantu kehidupan keluarga.   Meraih impian.

Pacaran.

Aku tidak berpikir dulu ke sana.

Senyum getir, malu. Minder tepatnya.

Aku tidak punya pakaian bagus, motor pun aku tidak punya. Sudah berani mendekati gadis, bahkan hendak memacarinya. Gadis ku, pujaan hati ku.

Masih PDKT, Pen-De-Kat-an. Aku hanya berani melirik dan melihatnya dari jauh. Itupun sudah membuatku bahagia.

Syair lagu : Inikan Cinta oleh ME mengalun sayup . Inikah namanya cinta / Inikah cinta / Cinta pada jumpa pertama / Inikah rasanya cinta / Inikah cinta / Terasa bahagia saat jumpa / Dengan dirinya

Kembali alam ku, menerawang menembus ruang jaman.

Ketika …

Malu aku malu.

Saat itu kita masih muda belia, masih lugu dan polos.

Mengingat saat pertama berjumpa, tidak sengaja.  Aku mengenal mu, dan sering memperhatikan. Hanya saat itu belum ada keberanian untuk mendekati.

Saat aku melihat siluet tubuh mu, aromamu tercium wangi.

Hasrat pria ku hanya sederhana, keberanian yang naïf. Saat itu modalku hanya cinta. Aku belum dalam taraf   di bilang mapan, kaya. Tajir istilahnya.  Mengenal mu, mengairahkan suatu niat tulus. Aku pun tidak mau main-main. Pastilah menuju ke bahtera kebersamaan, pernikahan yang sakral. Padahal pacaran saja belum terjadi.

Aku memulai mendekati, saat ketika itu hujan gerimis. Kami menunggu di halte bis yang sama. Berteduh dari jatuhan air hujan.  Suasana mendukung, entah dari mana munculnya sebuah keberanian . Aku menyapa mu. “Hai.”

Senyum manisnya, dengan matanya yang bening menatap ku ramah. Ge-er nih!. Kami pun  bersalaman unuk saling kenal pada awal perjumpaan kami. Tangan halusnya masih terasa hangat ku kenang.

Tangan itu halus, dan sejak itu selalu ku kenang.

Itulah yang kenangan terindah.

Saat sentuhan cinta datang, saat perkenalan kita pertama.

“Apakah aku boleh main ke rumah mu  ?” Pertanyaan ini bukan saat di awal pertemuan. Saya awal jumpa pertama, lidah ini masih keluh,  hanya mampu mengatakan “ Hai ” saja.  Mugkin ini pertemuan yang berikutnya, sebab aku sering tanpa kerjaan, sengaja menanti di halte hanya untuk sekedar melihat mu . Menunggu di halte yang sama. Untung-untungan.  Luapan hati untuk mencari tahu, sebuah pertanyaan sederhana sebagai pembuka gerbang hati.

“Boleh,” Jawabmu singkat memperbolehkan. Aku pun diberikan alamat oleh mu.

Langkah selanjutnya, kini aku di rumah mu, berada di ruang tamu, ada hadapan mu.  Kita saling bercengkrama. Hubungan kita pun berlanjut mesra.

Perjuangan mendekati mu, melalui perjuangan melawan kelemahan ekonomi keluarga dan diri ku sendiri yang merasa dunia iniapakah akan  ada gadis yang tidak tertarik materi. Apalagi di Jakarta sebagai kota metropolitan yang germerlap.. Melawan malu, karena aku hanya berasal dari keluarga biasa saja, keluarga sederhana,  bahkan cukup bersahaja.  Yang hanya punya C-I-N-T-A.

“Aku sayang kamu,” kataku terucap lirih.  Menggapai tanganmu, dan berlutut dihadapan mu. Memandang mu menunggu jawaban.

Kamu tersipu, aku pun seperti Romeo . Ada rona bahagia yang aku dapatkan dari pancaran wajah mu.

Kita pun  pacaran.  Kehidupan ku pun bergulir maju, roda yang di bawah seakan menerobos rintangan, mulai bergerak.  Pacaran itu ternyata itu, dua hati menyatu.

Untuk menuju hal yang lebih serius.

Saat aku melamarmu.

Aku memang sudah punya penghasilan sendiri. Yang pasti akan berjuang demi cinta kita. Idealisme indahnya.

Orang tuamu tersenyum, menghargai akan tekad dara mudaku. Aku tidak dipandang hina, pemuda sederhana yang mungkin tergolong cukup naïf. Melamar gadis, mengandalkan hanya dari gaji yang belum seberapa.

Tapi, restu yang tidak memandang derajat. Tidak juga terlalu melihat materi, U-A-N-G.

Kepercayaan itu mahal, dan aku wajib memegang kepercayaan yang telah diberikan orangtua istri ku, sebagai pertanggungjawaban. “Aku akan membahagiakan , istri ku dan keluarga “ Pekik batin ku keras.

/***

“Papa. Ayo cepetan sudah di tunggu .”

Adanya panggilan, memalingkah aku kembali ke dunia  saat ini.

Suatu teriakan dari  luar pintu kamar ku, dan tak lama di susul langkah riang si kembar lari mendekati dan menerkam ku seperti anak kucing yang manja, julukan alias “Upin – Upin “,  kecil ku mendekap aku riang.  Aku tertarwa-ria. Dan pastinya istri ku, Ibu si kembar ini, akan datang menghampiri dan juga meramaikan suasana riang ini. Betul ‘kan!  Membuat Kejutan, di hari jadi kami yang ke sepuluh.  Aku gendong my prince and my princess, dan rangkulan erat kepada istri. “Ayo, sayang.”  dan kami pun mendaratkan ciuman cinta kepada anak – anak kami. Buah cinta kasih kami.

Acara hari jadi. Kami akan merayakannya di rumah saja. Secara sederhana.

Dihadiri juga oleh kedua orang tua kami.

Kebahagian kami rasakan, bukan karena uang. Kami telah mengenal bahwa kekayaan yang ada sebenarnya adalah kebahagiaan.

Di ruang keluarga.

Syair lagu The Beatles mengalun sayup dari kamar ku masih terdengar : Say you don’t need no diamond ring and I’ll be satisfied /  Tell me that you want the kind of thing that money just can’t buy / I don’t care too much for money, money can’t buy me love

Berbaur dengan melodi lagu cinta sepanjang masa : Endless Love dari penyanyi Diana Ross. Syairnya.

My love / There’s only you in my life / The only thing that’s right / My first love / You’re every breath that I take / You’re every step I make / And I / I want to share / All my love with you / No one else will do / … Oooooooh / And love / I’ll be that fool for you / I’m sure / You know I don’t mind / Whooooa, you know I don’t mind / And yes / You’ll be the only one / ‘Cos no one can’t deny / This love I have inside / And I’ll give it all to you / My love /My endless love

Jendela rumah kami yang terang, dan alunan lagu yang terdengar.

Ada mata dan telinga yang juga mengetahui.

Seakan rumah kami adalah panggung sandiwara, dan tokoh ceritanya di sorot lampu panggung. Semua memperhatikan. Rumah kami yang tidak terlalu mencolok, tampak biasa, standar, sama , seragam dengan rumah di sekitar kami. Komplek yang mempunyai aturan deretan rumah yang setipe. Tidak tampak kemewahan yang mencolok berbeda, kendaraan pun sejuta umat. Bahkan banyak tetangga yang lebih hebat, dengan kemewahan kendaraan kelas Eropa, bahkan garasinya sendiri tidak muat menampung kendaraan yang dimiliki.

Ada sepasang mata melihat, sepasang telinga mendengar.

Dari kaca jendela seberang rumah.

Aku tentunya tidak menyadarinya bahwa aku menjadi tokoh yang menjadi perhatian, Tidak hanya aku, keluarga ku, istri dan anak-anak ku juga.

Syair lagu terdengar.

Dia dari balik tirai ruang tamunya, yang melihat kami, juga menyetel lagu dengan syair yang aku pun suka. Ya.  Aku pun suka lagu itu. Papa Rock N Roll – The Dance Company.  Papa memang harus begini / sering bikin sakit hati / papa gak pulang beibeh / papa gak bawa uang beibeh.

Dia, juga aku kenal sejak kecil. Berasal dari keluarga sederhana. Kami saling mengenal. Dan dia juga telah menjadi seorang yang sukses.

Ditambah istrinya, pun dari kalangan cukup berada.

Kali ini lampu panggung menyorot rumah tokoh si Dia.

Hanya rumah besar itu sepi, kemana istri nya? Kemana juga anak-anaknya.

Kalau urusan ini, pernah aku tanyakan kepadanya langsung, sehingga menjauhkan dari gossip ataupun fitnah.

“ Kawan, aku lihat rumah kau sepi sekarang. Maaf, kalau aku lancang bertannya. Kemana anak dan istri kau?”  Tanya ku kala itu.

Sebelum jawaban keluar dari mulut kawanku, aku mendengar satu tarikan nafas, satu helaan, dan kerutan di dahinya, guratan matanya yang sayu.  “Anak istri pergi meninggalkan ku. “ Terdiam sebentar, suaranya tampak lirih,” ini salah ku. Aku terlalu sibuk mengejar karir. Istri aku sering kesepian. Padahal aku bekerja keras juga untuk mereka .” Helaan nafas kembali terdengar, tampak berat, tampak lirih ucapan berikutnya, “ kami pun menjadi sering bertengkar, dan terus bertengkat hebat apabila membicarakan suatu hal yang kecil.” Terdiam. “Aku melihat kamu bahagia kawan.” Dia menepuk bahuku dan kemudian pergi meninggalkanku.

Apakah aku juga bahagia.? Ah, kita bernasip sama kawan.

Aku pun demikian. Kami  — aku dan istri — juga sering bertengkar.

Merenung.

Ucapan dan cerita pun kala itu lah yang menyelamatkan ku.

Aku bangkit dari kesalahan.

Kamu telah mengalaminya, aku tidak ingin mengalaminya hal itu.

Kami pun ingin membantu mu Kawan.

Kami sudah menyiapkan suatu kejutan untukmu, kawan.

Kami telah menelpon istri dan anak-anak mu. Mereka hadir di tengah acara kami.

Menunggu kamu, kawan untuk bergabung.

Mari perbaiki kesalahan.

Kita bekerja untuk keluarga, sehingga kalau keluarga menjadi korban. Tentunya bertentangan dengan tujuan kita.

Lagu The Dance Company masih terdengar. Syairnya   mama please, please don’t be angry / papa sibuk … / papa gak pulang beibeh / papa gak bawa uang beibeh

Terlihat kembali, istri dan anak kawan ku hadir. Ada pelukan mesra mereka. Berkumpul bahagia.

Aku pun bahagia.

Tepuk pundak ternyata ringan. Seperti daun yang terbang, dimana ada angin, karena ringannya, menempel satu pundak, terbang ke pundak yang lain.

Pundak yang tersentuh, membisikan makna.

Kini!  Bukan di panggung cerita, sorot lampu menyoroti bukan kepada tokoh cerita.

Kini? Seluruh arena tampak menyala terang.

Kadang, kita juga yang menjadi tokohnya.

Sekembaliya kami, dari  rumah kawan ku.

Aku kembali pusing. Saat menikah memang sebaiknya mempunyai CINTA, namun untuk mempertahankan CINTA sebaiknya mempunyai UANG.  Menghitung berapa biaya bagi suatu pernikahan?  Aku tidak tahu berapa jumlahnya, sebab sampai saat ini aku masih mengeluarkan biaya bagi pernikahan kami.

Ada banyak biaya yang harus aku bayarkan atas acara hari jadi kami.

Ternyata Cinta tetap butuh uang.

Hanya uang memang bukanlah segalanya.

/***

Sebagai pengenalan penutup, lebih baik daripada tidak sama sekali.

Kami adalah sepasang suami istri.   Nama ku Ryo. Pasangan hidup ku, istri ku, panggilannya Tyas. Memiliki anak kembar yang berusia 9 tahun.

Mengalun lagu band legendaries The Beatles.  Can’t buy me love, every body tells me so.  / Can’t buy me love, no no no no, no. / Say you don’t need no diamond ring and I’ll be satisfied / Tell me that you want the kind of thing that money just can’t buy / I don’t care too much for money, money can’t buy me love / …

….***/ tamat /***…

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Pilih Mana: Cinta Atau Uang?” #KeputusanCerdas yang diselenggarakan oleh www.cekaja.com danNulisbuku.com

Jiwa Ragaku tuh di Motor #safetyfirst

October 31st, 2015

Jiwa Raga Ku tuh di Motor

Motor ku. Aku panggil mesra dengan nama Honda. Itu panggilan sayang ku, secara sengaja memang sama dengan merk motor yang tertulis jelas di STNK.  Identitas nya tercantum juga  nama ku sebagai si empunya yang sah secara hukum.  Tersenyum.  Motor lama yang sudah kupakai sejak jaman masih anak SMP dulu.

Wah, kalau ingat jaman SMP dulu, —hehehe —, aku sudah punya kartu SIM (baca: Surat Ijin Mengemudi).  Kok bisa? Ya  bisalah. Gampang itu tidak susah, dan mudah dalam membuatnya. Aku tinggal datang dan foto saja. Nah, pasti dibenak semua bertanya masalah usia yang belum cukup untuk mendapatan kartu SIM , lantas bagaimana?  Lagi-lagi hal ini masalah kecil, usia tinggal manipulasi saja alias ditambah agar cukup usia.  Semudah itu? Jelas, tidak mudah kalau tidak ada pelicinnya? Apaan tuh? Oli! Ha Ha Ha — Olala, ya uang lah.

Peace. Rehat sejenak sebelum melanjutkan. Ini cerita Fiksi. Sehingga apabila ada kejadian, tempat dan tokoh cerita yang kebetulan sama dengan kondisi realitasnya, adalah karena suatu kebetulan yang tidak di sengaja. Pastinya bukan cerita beneran. Suer-er –wer.

Gaya banget, dapat dari mana uang itu, ‘khan masih belum punya penghasilan, lagi-lagi kok yang kayak gini musti dijelasin sih. Uang Bokap-Nyokap dong.  Merekalah yang berjasa,  yang bayarin pembuatan SIM sehingga aku bisa naik motor ke sekolah.  Sebenarnya juga ngak terlalu butuh SIM, tapi ini katanya untuk lebih aman aja. Lagian SIM juga tidak seberapa mahal.  Jika nantinya kena tilang, malahan bisa lebih mahal.

Mereka mendukung? Jelas iya lah. Kalau tidak mana mungkin dibayarin uang pelicinnya untuk membuat SIM segala. Bokap-Nyokap sibuk. Bokap pekerja kantoran,  sehingga tidak bisa antar lagi aku ke sekolah. Nyokap sih tidak kerja,  tapi aku ogah di antar Nyokap. Malu-malu in aja dong,  nanti di bilang anak mami.

Dengan memakai motor, menjadi lebih praktis sekaligus dapat  menghemat biaya. Coba hitung hitung,   mainkan pencetan kalkulatornya. Menggunakan motor  versus  naik angkot  sebagai sarana transportasi akan lebih produktif.  Walaupun  naik motor memang agak kurang olah raga jantung, jika dibandingkan dengan angkot  — sebab menunggu angkot tiba,  dengan rasa suka cita setelah di tunggu akhirnya datang juga, untuk mendapatkan tempat duduk .

Ingat teriakan ini :  “ Ayo rapat 4 – 6” kadang teriakan supir merangkap kondektur untuk menjadikan penumpang seperti ikan sarden dalam kaleng, berdesakan dan adu pinggul agar semakin merapat bisa tak leluasa bernafas. Ups, di pagi hari agak mendingan, karena para penumpangnya baru saja mandi dan wangi.

Amat sangat diperlukan kecepatan  langkah. Tidak cukup langkah saja.   Lari – berlari mengejar.  Ayo untuk lebih cepat agar bisa  mendekati pintu angkot. Di otak tetap di tanamkan, agar tidak lengah serta menjadi waspada, waspadalah!.  Ingat selalu pesan ini saat naik angkot di kala banyak penumpang yang berebut naik. Tangan tetap memegang dompet erat-erat,  sebab jangan sampai nanti dompet yang ada di kantong bisa hilang akibat kelincahan pekerja terampil yang sudah mulai beraksi. Keahlian  tangan,  copot, eh cepot, ‘ gaya alay yang sedang latah’:  Copet yang istilah bule di sebut  ‘Pickpocket’.  Deskripsi tadi kondisi di saat pagi hari berbarengan dengan waktu anak sekolah dan waktu anak (baca: orang) kantoran kerja. Sangat ramai.

Itu cerita tahun 80-an (kesannya tua banget nih, lebih tepatnya tahun 80 an akhir lah. Ketawa dong —  sepertinya tetap tidak membikin aku tampak lebih muda).  Aku duduk di kelas SMP tingkat 2. Anak SMP apa anak kuliah, pakai tingkat segala. Maksudku, aku di kelas lantai 2 gedung SMP. Hehehe…

Kebayang kan, saat ini berapa usia Bokap-Nyokap? Eit, bukan itu pertanyaannya. Jadinya  berapa kira-kira usia motor  Honda yang telah sekian lama bersamaku?  Ada pilihan ganda sebagai berikut:

A. 1 Minggu     ,  B. 1 Bulan, C. 1 Tahun, D. Lebih dari 25 tahun.

Bingung. Ada pilihan bantuan. Pilihan Fifty Fifty : Coret A dan C.  Jadi jawabannya sisa B dan D.

Pergunakan analisa sedikit : Pilihan  D. Lebih dari > 25 tahun.

Toiiingg! Kembali dari bayangan lalu ke masa kini.

Kondisi Honda masih awet, karena aku cerewet akan perawatannya. Tapi kadang Honda agak sensi kalau lagi sakit “busi”, juga jika kena banjir di Jakarta. Seperti manusia, sakit demam dan flu, resep sederhananya perlu istirahat dan perawatan rutin di bengkel.

Pesan sponsor dan sekilas promosi . Untungnya biaya perawatan dan spare part Honda lumayan hemat, lengkap dan banyak pelayanan tempat servisnya.  Semakin mantap pula dengan dukungan pelayanan yang cepat dan ramah. Motor memang Honda jagonya.

Aku amat sayang dengan motorku , di usiaku saat ini (mohon maaf ya, aku ngak mau sebut berapa usiaku, malu rek).  Yang perlu diketahui usia Honda yang  kini sudah  bersama kehidupanku sekitar lebih dari seperempat abad.

Motor kesayanganku itu sudah aku duduki dan aku jajah sejak kelas SMP, lanjut  SMA, Kuliah, Pacaran, saat sering mondar-mandir  ke kantor pos mengirimkan lamaran pekerjaan, lontang – lantung ke sana-kemari ,  kemudian  bekerja,  menikah,  dan  diduduki juga oleh my wife,  pas punya anak di  duduki  juga dan diompolin oleh Juniorku. Beban beratku yang semakin tambun, ditambah lagi beban dari istri dan Junior. Tetapi masih tetap untung. Apa untungnya ? Untungnya adalah  istriku berat badannya saat pacaran sampai sudah punya satu anak masih tetap langsing .  Kini usia anakku ‘Junior’  sudah beranjak remaja sudah tidak mau lagi bertigaan dalam satu  motor seakan memberikan nafas lega bagi Honda. Mengurangi beban. Berbeda saat Junior masih kecil dulu,   ketika Junior masih bisa ‘nyempil duduknya, antara aku dan istriku. Walapun sebenarnya, dan sejujurnya, dan sebagainya, justru malahan menjadi penghalang kemesraan dulu.  Flash back di saat pacaran,  saat itu —- menerawang jauh ke masa lampau — ada pelukan mesra dan lingkaran tangan di perutku, menjadi hangat dengan cinta dan sayang, kini dan selamanya nanti, pelukan my darling.

Kasihanilah Honda. Jika Honda bisa ngomong dan berteriak “ Aku lelah dan capek, badanmu semakin berat, tambah beban istri dan anakku lagi. Jangan tambahkan beban dalam hidupku lagi. Cukup sudah, ku rasakan ¯¯¯(Dendang penyanyi Glenn Fredly). Biarlah yang muda muda menggantikan tugas berat ku, beli Honda lagi dong. Masa terus-terusan naik motor“.  Itu sedikit banyak tebakan kalimat Honda yang akan meluncur keluar apabila dapat bicara.   Waktu lebih dari seperempat abad , bukan semakin ringan membawa beban melainkan justru semakin menanggung beban berat , ya sebabnya selain di duduki oleh aku, ditambah bobot istri dan kala Junior kecil pun ikut.

Honda merupakan saksi hidupku. Iya dong. Kalau ngak hidup mesinnya ngak bisa jalan, dan ngak bisa bawa sejak aku  bujangan  ‘ Begini nasib menjadi  bujangan ¯¯¯’ (Mengingatkan akan lagu Koes plus) — Saksi hidup, saat aku  pacaran ,  jalan sama mantan pacar  (saiki dadi bojo ku), saat dia memeluk dan melingkarkan tangannya di bagian perut untuk berpengangan erat , “ Ojo sampe jatuh ya dik. Pegang yang rapat dan erat.,” ucapanku kala itu .

Eng-eng- brem-brem-eeeng. Deru mesin motor di gas. Begitulah bunyi mesin motor menderu. Kayaknya ngak mirip aslinya.

Agak sedikit meloncat, suatu trik yang membuat semakin eratnya pelukan dan kehangatan menghampiri daku. Aku tersenyum riang-ria.  Bonus tambahannya, saat badan matan pacar  menempel erat memberikan kehangatan yang indah dan manis

Hem, hem, ehm. Suasana itu…

Toiiingg! Toiiingg!

Aku kemudian mengambil ember air, menambahkan sedikit sabun, dan melanjutkan mencuci Honda, dengan siraman air dari selang . Mengelap dengan lembut. Menyiramnya dengan  air sabun, agar menjadi wangi, sekaligus membersihkan debu-debut jalanan yang menempel kotor di Honda. Mengelap kembali dengan kain kanebo,  melanjutkan memakai kain kering, menggeringkan, dan agar menjadi kinclong mengoleskan ‘Wax’. Menggosoknya lagi.  Apik, dan semakin gagah Honda ini.  Rutinitas memandikan Honda menjadi relaksasi dan olahraga tersendiri yang menyenangkan serta menenangkan jiwa ragaku. Aku seperti memandikan diri sendiri. Menikmati sekali. Sekaligus irit daripada mencucikan di tempat laundry ‘cucian’ motor.

Seakan aku dapat berkaca pada body warna hitamnya yang memantulkan gambaran muka diriku dengan jelas.

Sama gagah dan gantengnya dengan si empunya, memuji diri juga baik untuk memberikan penghargaan, hanya memang kali ini, ada rambut putih yang sudah terlihat. Perlu di wax juga rambut ini, agar awet muda lagi.

“Sebentar lagi, Honda siap untuk menjalankan tugas .”

Berbarengan dengan kalimat Junior, “Papi, Aku siap.”

Aku melihat Junior.  Hanya memakai sandal jepit, celana  jeans belel, kaos santai aja. Nampak santai dan rapi. Tampilan sih tidak ada yang salah.  Junior memang mau pergi main ke rumah temannya atau mau ke pacarnya. Entahlah.  Hanya ada yang kurang gimana gitu, ayo, mana ekspresinya…!

Dia mirip aku saat seusianya.  Aku seakan berkaca. Alisku kemudian berkerut, “ My honey, anak kita mau jalan naik motor kok,  kurang di jaga keamanannya sekaligus keselamatannya. “ Aku menegur istri ku.

Aku dulu saat mau naik  motor, udah berlagak gaya macam pembalap.  Memakai jaket, pelindung dada,  sepatu boot, sarung tangan, dan juga pastinya memakai helm. Helm yang belabel SNI,  label sertifikasi Standard Nasional Indonesia.  Kepala sendiri kok dianggap remeh. Gunakan selalu Helm SNI.  Lengkap semuanya.  Hal itu untuk keamanan dan keselamatan bagi si pengendara motor.

Aku melirik Bokap.  Bokap sedang membaca Koran  .  Duduknya santai.  Bokap juga menatapku, dia juga tersenyum penuh arti.  Membaca sorotan matanya, aku masih  mengenali  sorot matanya yang penuh perhatian dan menggoda nakal.

Bokap bangkit berdiri.

Bokap masuk ke dalam rumah.

Keluar dengan seperangkat alat keamanan dalam bersepeda motor.

Busyet. Perlengkapan itu, lagi-lagi mengingatkan memory melodi  lama.  Antara lain : Jaket, pelindung dada, sepatu boot, dan tak lupa helm. “Junior, ini…,“ sambil menyerahkan : Helm  berlabel SNI untuk melindungi kepala, jaket untuk melindungi badan dari angin dan juga memberikan kehangatan , pelindung dada agar tidak masuk angin, Sarung tangan bagi kenyamanan mencengkram gas dan rem di kemudi, dan sepatu boot untuk menjaga kaki yang baik adalah menutupi jari-jemari kaki saat bersepeda motor. Baik juga memakai celana panjang. Bokap juga menjelaskan singkat, padat dan tegas akan guna dan fungsinya perlengkapan aman bersepeda motor,  “ Junior wajib memakainya bagi keamanan dan keselamatan selama bersepeda motor di jalan raya!“

Bokap kemudian justru memandang aku, dan kembali berkata-kata dengan amat lancarnya.

“Kami selaku orangtua, cemas saat kamu berpegian naik motor.  Kami juga merasakan seperti yang kamu kini rasakan.  Kekhawatiran nanti terjadi apa-apa.  Khawatir banget.  Khawatir kamu  terjatuh.  Celaka,  dan terjadi ada apa-apa.”  Bokap Menghela nafas. “ Ingat waktu kamu belajar sepeda,” senyumnya mulai merekah, “ kamu kami perlengkapi sepeti ini juga. Bahkan kami tambahkan pelindung lutut kaki, dan pelindung siku. Kamu persis kayak robot. Ha Ha Ha.” Suatu tawa yang lepas.

Melanjutkan . “Itu lah sayangnya orangtua kepada anak. Tapi ada satu kesalahan kami dulu,  jangan menjadi contoh  dan ditiru. Kamu dulu kami biarkan belum cukup umur untuk naik motor. Kalau diingat masa lalu itu —  kami keliru sekali melangkah,  salah besar telah membiarkan dan mengijinkan kamu yang belum cukup umur mengendarai Motor“

“ Kamu kurang matang dalam emosi sebab usia yang belum cukup dewasa. Bikin jantung orangtuamu ini deg-degan, dagdigdug kayak bunyi beduk, bahkan mau melorot jantung ini rasanya ke kaki saat lama menunggu kamu pulang sekolah, apalagi mendengar berita ada anak sekolah yang jatuh dan celaka dari motornya. “ Stop ambil nafas. “Kamu…” Penekanan lanjutannya setelah menunjuk dahi ku, “ Bapak biarkan naik motor karena kami sibuk. Keadaan kita saat dulu jangan dijadikan alasan untuk membenarkan suatu kesalahan. Dan baguslah, kamu tidak mengulang kesalahan yang sama. Itu namanya manusia punya akal- budi, mampu belajar dari pengalaman…”

Melanjutkan, nyerocosnya.  Biasalah Bokap,  sedang melancarkan jurus wedang jahe (baca: wejangan) yang hangat, “ Kamu sekarang udah jadi orang tua juga, jadi merasakan, sekarang mengajarkan anak naik motor, gimana rasanya, khawatir kan? Rasa khawatirnya itu yah, seperti ini rasanya.”

Tambahan pelajaran berharga dari  Bokap.

“Tapi perlu di ingat, jangan sampai kita lupa bahwa kekhawatiran yang berlebihan juga tidak baik. Tidak bisa membuat anak menjadi mandiri. Kita selaku orang tua, justru wajib memberi contoh yang benar, memberikan pemahaman dan pelatihan akan keselamatan  bersepeda motor,  dan juga menanamkan disiplin,  mematuhi rambu-rambu latu lintas .  Selamat bagi diri sendiri dan juga selamat bagi orang lain. Sebab di jalan raya adalah milik bersama, yang perlu kita jaga ketertibannya.”

Selama Bokap bicara, hati ini bergetar- cetar, seakan menusuk masuk ke kalbu terdalam . “Yah, rasa ini, rasa ini kah yang dirasakan orang tua, Bokap-Nyokap  dulu.  Khawatir, dan takut, ada apa-apa. Deg-deg an. Dagdigdug kayak bunyi bedug. Byar pet jantungan “

Itu lah yang selalu aku tunda, waktu yang terus aku ulur, alasan demi alasan.

Junior marah, kenapa selalu di larang, sementara anak seusianya sudah pada bisa naik motor sendiri. Junior menjadi merajuk, cemberut, membujuk rayu dengan sejuta cara. Tujuannya agar aku mau mengajarkan naik motor, dan akhirnya apabila sudah bisa,  aku nantinya akan rela meminjamkan Honda kesayangan ku ini untuk dipakai ke sekolah,  jalan-jalan, main  bersama teman-temannya, jemput – antar pacarnya. Akan jugakah dipakai kebut-kebutan, ugal-ugalan di jalan raya karena jiwa mudanya. Kebayang dan membayangkan. Hal perbuatan tersebut persis plek, persis sama, dengan aku ! Aduh, tepok jidat! Menggelus dada. Menghela nafas.

Junior bisa naik motor, aku gurunya yang mengajarkan. Pengalaman naik Honda selama lebih seperempat abad, rasanya aku menjadi cukup pakar dan jago.  Aku tidak hanya mengajarkan cara menyetir motor, tetapi juga mengenal seluk likuk motor. Tak lupa akan hal teerpenting adalah perihal keamanan dan keselamatan si pengendaranya.  Aku tetap berpegang prinsip, tidak akan mempekenankan Junior mengendarai motor di jalan raya selama belum memiliki SIM. Belajar motor pun aku selalu awasi, dampingi,  saat kami berlatih di sekitar komplek.

Junior, kini cukup umur. Dan mempunyai SIM yang sah. Tidak seperti aku dulu. Harapan kami : Apa  yang telah kami tanamkan baik, kelak akan membuahkan hasil yang baik.

Kini aku melihat Junior, sudah lengkap dengan perlengkapannya bersepeda motor.

Junior memposisikan duduk di Honda, motor . Tampak gagah.

Tapi lagi-lagi ada yang kurang sreg di hati.

Aku langsung meminta Junior turun, karena sebelum naik motor sebaiknya melakukan beberapa ritual penting. Pasti lah: Berdoa dulu bagi keselamatan di jalan.

Setelah melek mata sehabis berdoa. Wajib nih untuk memeriksa tangki bensin, — hehehe—,  jangan sampai kosong kehabisan bensin.  Jika nanti terjadi mogok di tengah jalan akibat motor sudah tidak mampu bergerak sama sekali.

Motor dalam kondisi mati Suri.

Disarankan segera mencari penjual air kelapa, dan dipersilahkan dapat ditambah es batu supaya menjadi lebih segar, serta bagi kenikmatan lanjutan,  silahkan ditambah dengan pemanis gula maupun sirup.  Semua tadi dibutuhkan sebagai tambahan daya dorong mencari pom bensin terdekat.  Karena kesegaran tadi dibutuhkan setelah capek mendorong motor, menjadi dahaga.  Haus!. Capek deh dorong motor .

Kemudian ada apa lagi yang perlu diperhatikan dan sekaligus di periksa? Pasti periksa ban.  Ban adalah roda kehidupan berjalannya motor, jadi roda harus bulat, supaya bisa menggelinding. Tentu itu adalah mengenai bentuk ban yang bulat, yang perlu di awasi justru, jangan sampai ban kurang ajar. Artinya bannya kekurangan angin. Kempes, atau kurang padat berisi.

Pemeriksaan dilanjutkan ke badan lebih enaknya menyebut sebagai ‘body’ motor.

Body motor yang penting juga di periksa adalah bagian lampu. Apakah lampu motor dapat menerangi jalan yang akan kita lalui? Lampu bulat putih yang di depan, apakah akan menyala? Yup. Menyala. Tes berhasil.

Apakah lampu belakang juga  mampu memberikan tanda – tanda? Tanda bahwa motor akan bergerak ke kanan kalau mau belok ke kanan ada lampu belakang kanan yang akan memberikan tanda;  belok ke kiri ada juga lampu kiri yang memberikan tanda. Umumnya lampu tanda belok kanan-kiri itu berwarna kuning,  akan menyala dan berkelap-kelip.

Teori yang jelas dan tidak ribet , juga telah di ketahui secara luas.

Permasalahannya hanya tidak konsisten dan komitmen dilakukan. Ingat, ini juga bagi keamanan dan keselamatan bersepeda motor.

Hasil pemeriksaan langsung on the spot, cek  body motor Honda. Semua aman. Semua dalam kondisi “Pancen Oye.”

Aku suruh Junior turun lagi.

Kasihan juga, naik-turun Honda.

Junior seperti alat peraga nampaknya.

Aku minta keluarkan dompetnya.

Gaya seperti Polantas, “Mohon KTP, SIM dan STNK  untuk di perlihatkan?”.

“Siap!”, Junior memberikan KTP,  juga SIM barunya, serta STNK motornya.

Aku menerima KTP, SIM dan STNK. Memandangi  foto SIM, dan melirik wajah Junior. Miriplah. Pasti sama. Melihat masa berlakunya SIM. Aman. Masih panjang.  Giliran STNK, periksa teliti nomor plat motor, dan bandingkan dengan STNK. Aman. Sama persis, Pasti sama.

Semua siap dan lengkap. Aman dan terkendali. 86!.

Dari tadi, Bokap dan Nyokap, my beautiful wife, melihat aku.

Aku tidak sadar, kalau aku diperhatikan dari tadi oleh banyak mata.

Mereka berteriak bareng , “ Aduh segitunya amat sih.”

Aku tersenyum, begini rasanya sudah ada ikatan batin antara aku dengan Honda. Aku takut ada apa-apa dengan Honda.  Khawatir  nanti mengalami kerusakan atau kehilangan Honda, karena aku telah mengenal Honda lebih lama dari my lovely wife. Aku sudah mendudukinya sekian lama.

“Ikhlas, demi anak.”  My lovely and beautiful wife menghampiri aku.

“Duh, seharusnya kamu juga ikut sedih, my love. Itu juga motor kenangan kita bersama.” Mimik mukaku tampak susah, tampak luyuh, dan sedih.

Istriku yang sudah semakin dekat, dan tiba-tiba ada yang terasa hangat, bulir bulir air yang jatuh dari kelopak mata sudah mengalir di pipiku. Ternyata aku cengeng nih.  Seorang laki-laki menangis. Melankolis. Tangan istriku mengusap air mata yang terlanjur jatuh ke pipi. “Jangan sedih dong, itu Honda ‘kan tidak di jual. Dan hanya dipakai sama anak kita.” Keluar kata-kata yang menghibur.

Aku pun kemudian memeluk istriku.

Junior menghampiri kami.

Tingki wingki. Kami berpelukan.

Mesra sekali. So Sweet.

Sesaat kemudian aku menatap tajam Junior. Jari tangan ku menunjukan angka 2 (baca: peace) . “Junior ini angka berapa?” Tanyaku.

“Dua.” Jawabnya singkat.

Aha. Artinya dari sorotan matanya yang jernih dan jawabanya yang benar, dapat disimpulkan Junior dalam kondisi fit, prima dan penuh kesadaran. Mampu mengendarai motor dengan aman, tertib dan selamat di jalan.

“Klik.” Terdengar bunyi helm terkunci.

Junior kemudian mengemudikan Honda keluar pagar rumah.

Sekeluarnya Junior, tampak keheningan sejenak. Kami semua seperti kehabisan kata-kata, tampak termanggu, tercenung.

Diam.

Pelan suara langkahku, memecah kesunyian.

Aku membuka pintu garasi, dan mengeluarkan Honda lainnya.

Bokap-Nyokap, istriku melongo.

Aku mengeluarkan Honda mobil.

Suprise!” teriak ku.

Sekarang aku yang menang.

Aku memperlihatkan kunci mobil kepada istriku.

My sweet heart, sepertinya sekarang kita musti menduduki mobil saja. Kita jalan-jalan yuk.”

Bokap dan Nyokap, sudah ada di dalam mobil. Mereka duduk manis di kursi barisan kedua.

Sementara istriku juga  duduk di sebelah kiriku. Aku yang pegang kendali – setir.

Ternyata ada yang hilang, naik mobil memang nyaman dan tidak kehujanan, maupun kepanasan. Ada AC, sejuk.  Kehilangan sesuatu banget (Lagu Sesuatu — Syahrini).  Yaitu satu pelukan erat yang melingkari pinggang dan perutku, dan dekapan hangat .

Aku percayakan Honda kepada Junior. Tapi, itu hanya sementara. Aku akan belikan motor yang lebih baru, karena Honda adalah sekali lagi jiwa dan ragaku. Biarlah Junior nanti memiliki kenangan indah dengan motor yang akan menjadi miliknya, serta akan juga menjadi jiwa raganya kelak. Histori nya.

Psst. Sebenarnya aku tetap tidak rela kalau Honda dipakai oleh siapapun. Mempunyai sejarah yang melekat di jiwaku. Menyatu di ragaku, terutama saat aku menduduki Honda.

Kata-kataku selalu mesra kepada istri, apakah aku tidak ingat kepada nama istri sendiri yah?! .

My love, my darling, my honey, my wife, my sweet heart….

Pletak.

Kepalaku dijitak.

“Oi, kita ini naik mobil bukan naik motor, ayo! Helmnya di lepas dong…”

Jitakan Bokap tidak seberapa sakit karena memang kepalaku terlindung dengan helm.  Padahal aku mau meniru F1, di mobil aja pakai Helm.  Senyum kecut. LoL.

JJJ  JJJ

***

Bokap-Nyokap =  Bapak dan Ibu.

Saiki dadi bojo ku = Sekarang menjadi pasangan hidupku.

My love, my darling, my honey, my wife, my sweet heart, my beautiful wife, my lovely wife = lihat kamus dong.

RICHARDUS SENDJAJA

Penulis  pernah tinggal di beberapa kota besar  di Indonesia dan hobi travel.  Senang menulis  dan ada yang berhasil di terima oleh penerbit, yaitu  cerpen fiksi  dimuat di harian Sinar Harapan / Suara Pembaharuan berjudul “ Blank Spot”,  artikel non fiksi perihal perbankan pernah di muat pada majalah manajemen.  Menulis buku dan diterbitkan oleh Elex media,  berjudul “ Penggelitik Diri”.

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen ‘Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan.’ #SafetyFirst Diselenggarakan oleh Yayasan Astra-Hoda Motor dan Nulisbuku.com.

Tetaplah Berbuat Baik

June 1st, 2012

Mengapa kita harus berbuat baik?

Bagaimana kita seharusnya berbuat baik?

Bila engkau baik hati, bisa saja orang lain menuduhmu punya pamrih:

tapi bagaimanapun, berbaik hatilah.

Bila engkau jujur dan terbuka, mungkin saja orang lain akan menipumu;

tapi bagaimanapun , jujur dan terbukalah.

 Bila engkau mendapat ketenangan dan kebahagiaan, mungkin saja orang lain jadi iri;

tapi bagaimanapun, berbahagialah.

 Bila engkau sukes, engkau akan mendapat beberapa teman palsu, dan beberapa sahabat sejati; tapi bagaimanapun jadilah sukses.

 Apapun yang engkau bangun selama bertahun-tahun bisa jadi akan dihancurkan orang lain hanya dalam 1 malam; tapi bagaimanapun , bangunlah dan teruslah berkarya.

 Kebaikan yang engkau lakukan hari ini, mungkin saja besok sudah dilupakan orang;

tapi bagaimanapun teruslah berbuat baik.

 Kita harus melakukan apa yang baik bagi semua orang.

 Renungan

Berikan yang terbaik dari dirimu sebaik-baik yang dapat engkau lakukan.

Kita harus melakukan apa yang baik bagi semua orang.

Engkau akan tahu bahwa ini adalah urusan antara engkau dan Tuhanmu.

Bukan urusan antara engkau dan mereka.

Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik.

Krn apabila sudah datang waktunya kita akan menuai,

jika kita tidak menjadi lemah.

Selama masih ada kesempatan bagi kita,

marilah kita berbuat baik kepada semua orang.

 

TETAP SEMANGAT DAN JADILAH NO. 1

 

 

 

Kodok Tuli

December 1st, 2011

Sekelompok kodok sedang berjalan-jalan melintasi hutan.   

Malangnya dua diantara kodok tersebut jatuh kedalam sebuah lubang.

Kodok-kodok yang lain  mengelilingi lubang tersebut.

Ketika melihat betapa dalamnya lubang tersebut, mereka berkata pada ke 2 kodok tersebut bahwa mereka lebih baik mati.

Ke 2 kodok tersebut tidak memperdulikan komentar-komentar itu dan mencoba melompat keluar dari lubang itu dengan segala kemampuan yang ada. Kodok yang lainnya tetap mengatakan agar mereka berhenti melompat dan lebih baik mati.

Akhirnya, salah satu dari kodok yang ada dilubang itu mendengarkan kata-kata kodok yang lain dan menyerah. Dia terjatuh dan mati. Sedang kodok yang satunya tetap melanjutkan untuk melompat. Sekali lagi kerumunan kodok tersebut berteriak padanya agar berhenti berusaha dan mati saja. Dia bahkan berusaha lebih kencang dan akhirnya berhasil.

Dengan lompatan yang kencang, dia berhasil sampai diatas.

Kodok lainnya takjud dengan semangat kodok yang satu ini dan bertanya “apa kau tidak mendengar teriakan kami?” Lalu kodok itu dengan dengan membaca gerakan bibir kodok yang lain menjelaskan bahwa ia tuli.

Akhirnya mereka sadar bahwa saat ini dibawah tadi mereka telah memberikan semangat kepada kodok tersebut.

Kata-kata positif  yang diberikan pada seseorang yang sedang “jatuh”

dapat membuat orang  tersebut  bangkit dan membantu mereka dalam menjalani hari-hari.

Sebaliknya , kata-kata buruk yang diberikan pada seseorang yang sedang jatuh dapat membunuh mereka.

Suarakan kata-kata kehidupan kepada mereka yang sedang menjauh dari jalur hidupnya. Kadang2 sulit dimengerti bahwa “kata-kata kehidupan ” itu dapat membuat kita berpikir dan melangkah jauh dari yang kita perkirakan.

Semua orang dapat mengeluarkan “kata-kata kehidupan” untuk membuat rekan/ teman atau bahkan kepada yang tidak kenal sekalipun untuk membuatnya bangkit dari keputus-asaannya, kejatuhannya, kemalangannya.

Sungguh indah apabila kita dapat meluangkan waktu kita untuk

memberikan spirit bagi mereka yang putus asa dan jatuh.

 

Bersatu adalah Kekuatan

November 1st, 2011

Alkisah disebuah kerajaan yang subur makmur, raja dicintai rakyatnya karena memerintah dengan bijaksana, sehingga rakyat hidup aman dan sejahtera.  Raja banyak mempunyai putra dan putri, namun sayang sejak kecil mereka tidak pernah akur. Dari bertengkat mulut hingga beradu fisik sering terjadi diantara mereka. Raja sangat gelisah dan tidak tenang memikirkan ketidakakuran anak-anaknya. Bila tercerai berai krn tidak akur bagaimana jika harus bertempur melawan musuh, begitu pikir sang raja.

Berbagai upaya telah dilakukan untuk memberi pengertian kepada anak-anaknya agar jangan hanya memikirkan diri sendiri. Raja sangat menginginkan mereka akur sehingga bisa bahu membahu jika menghadapi serangan dari luar, serta agar bisa memberi contoh rakyatnya hidup rukun di negeri sendiri.

Suatu hari, saat berkumpul dimeja makan, sebelum acara makan dimulai, raja memerintahkan kepada mereka “Anakku, ambillah sebatang sumpit didepan kalian dan coba patahkan.” Walaupun  heran dengan dengan perintah sang ayah, mereka segera mematuhinya dan mematahkan sumpit itu dengan mudah.   Kemudian raja meminta sumpit tambahan kepada pelayan. “Sekarang patahkan sepasang sumpit didepan kalian itu.” Kembali mereka dengan senang hati memamerkan kekuatan fisik masing-masing dan segera patahlah sepasang sumpit tersebut.

Raja kemudian kembali meminta sumpit tambahan dan memerintahkan anak-anaknya mematahkan sumpit yang kali ini ada 3batang.   Dengan susah payah ada yang berhasil mematahkan, namun ada juga yang akhirnya menyerah. Salah seorang dari mereka lantas bertanya: “Ayah, mengapa kami harus mematahkan sumpit-sumpit ini dari satu batang hingga 3 batang. Untuk apa semua ini. ?”

“Pertanyaan bagus anakku. Sumpit-sumpit adalah sebuah perlambang kekuatan.  Jika satu batang mudah dipatahkan, maka jika beberapa batang sumpit disatukan, tidak akan mudah utk dipatahkan. Sama seperti kalian. Bila mau bersatu, maka tidak akan ada pihak luar atau musuh yg akan mengalahkan kita. Tapi bila kekuatan kita tercerai berai, maka musuh akan mudah mengalahkan kita. Ayah ingin kalian bersatu, bersama-sama membangun negara dan rakyat negeri ini. Jika kita mampu menjaga kekompakan  dan memberi contoh kepada seluruh rakyat negeri ini, maka kerajaan kita pasti akan tetap sejahtera dan semakin makmur ,jelas sang raja.  Anak-anakku usia ayah sudah lanjut. Kini saatnya ayah titipkan kerajaan ini ke tangan kalian semua.   Ayah percaya kalian akan mampu menyelesaikan masalah di negeri ini bila kalian bersatu. “

BERSATU ADALAH KEKUATAN .

Renungan ……

Untuk membangun komunitas baik keluarga, perusahaan, pemerintah ataupun komunitas2 lainnya,mutlak diperlukan semangat kekompakan, kebersamaan dan persatuan. Tanpa kekompakan akan mudah retak rapuh dan tercerai berai. Adanya persatuan yg dibangun berlandaskan pengertian dan kepercayaan antar pribadi akan memunculkan kekuatan sinergi yg solid dan mantap.

Dengan modal tersebut sebuah komunitas akan bisa berkembang menuju keberhasilah yang mengagumkan.

 

 

Monyet vs Angin

October 1st, 2011

Suatu ketika terjadihalah taruhan antara monyet dan angin. Monyet berkata sesumbar bahwa angin tidak akan sanggup menjatuhkan dirinya dari atar pohon.

Karena merasa ditantang sekaligus penasaran anginpun setuju. Tanpa banyak cakap angin segera mengeluarkan seluruh kekuatannyanya untuk meniup monyet agar  segera terhempas ke tanah. Tapi aneh, semakin kuat angin bertiup, semakin erat pula monyet berpegangan pada pohon. Angin kelelahan, sejauh ini ia gagal. Sedangkan  lawannya di monyet berteriak kegirangan sambil berjingkrak-jingkrak mengejek.

Untunglah angin tidak menyerah. Ia memutuskan untuk mengubah strategi  penyerangan. Jika tadi ia menggunakan kekerasan kini anginpun bertiup sepoi-sepoi . Karena merasa akan segera memenangkan pertandingan monyetpun lengah. Ia tidakmenyadari penyerangan diam-diam yang dilakukan oleh lawan. Tidak lama kemudian kelopak matanya mulai terasa berat. Rupanya angin sepoi-sepoi ini telah membuat ia mengantuk. Beberapa saat berlalu hingga rasa kantuk tak tertahan lagi olehnya, dan akhirnya ….. gubraaakkk !!!!!

Si monyetpun tersungkur , jatuh ditanah. 

Renungan

Dari kisah diatas hikmah yang bisa kita ambil adalah :

Kadang-kadang kita diuji dengan kesusahan…. dicoba dengan penderitaan didera.

Kita kuat bahkan lebih kuat dari sebelumnya.

tapi jika kita diuji dengan

Kenikmatan……

Kesenangan …..

Kelimpahan….

Jangan sampai kita terlena ….. kita harus tetap hati-hati.

 

 

 

 

 

 

 

Ketika kita menerima sesuatu yang buruk, ingatlah saat ketika kita menerima yang baik

September 1st, 2011

Athusr Ashe adalah petenis kulit hitam dari Amerika yg memenangkan 3 gelas juara.

Grand Slam : US Open (1968)

Australia Open (1970) dan Wimbledon (1975)

Pada tahun 1979 ia terkena serangan jantung yg mengharuskan menjalani operasi bypass. Setelah 2 kali operasi, bukannya sembuh ia malah harus menghadapi kenyataan pahit, terinfeksi HIV melalui tranfusi darah yang ia terima

Seorang penggemarnya menulis surat kepadanya “Mengapa Tuhan memilihmu untuk menderita penyakit itu?”

Ashe menjawab, “Didunia ini ada 50 juta org yg ingin bermain tenis. Diantara 5 juta org yang bisa belajar bermain tenis, 500 ribu org belajar menjadi pemain tenis profesional. 50 ribu datang kearena untuk bertanding. 5 ribu mencapai turnamen Grandslam, 50 org berhasil sampai ke Wimbledon dan 4 orang berlaga di semifinal. Dan hanya 2 org yang berlaga di final.

Ketika saya menjadi juara dan mengangkat trofi Wimbledon, saya tidak pernah bertanya kepada Tuhan : “Mengapa saya?” Jadi ketika sekarang saya dalam kesakitan, tidak seharusnya juga saya bertanya kepada Tuhan : “Mengapa saya?”

Renungan   

Sadar atau tidak, kerap kali kita hanya merasa hanya pantas menerima hal-hal baik dalam hidup ini : kesuksesan, karier yang mulus, kebahagiaan dan kesehatan. Ketika yang kita terima justru sebaliknya : penyakit, kesulitan, penderitaan dan kegagalan, seringkali kita menganggap Tuhan tidak adil. Sehingga kita merasa berhak untuk menggugat Tuhan.

Tetapi tidak demikian. Ashe berbeda dengan kebanyakan orang.

Itulah cerminan hidup beriman :

tetap teguh dalam pengharapan,

walau ada beban hidup yang menekan

Ketika menerima sesuatu yang buruk,

ingatlah saat-saat ketika kita menerima yang baik.

 

 

 

Penyebab Kurang Baiknya…

August 1st, 2011

Apa yang menjadi penyebab  …..

Apa yang menjadi penyebab kurang baiknya hubungan (perteman, kekasih, orang tua-anak,

atasan-bawahan, saudara)?

Kurang baiknya komunikasi menjadi salah satu penyebabnya.

Ketika salah satu pihak hanya mau didengarkan, tanpa mau mendengarkan,

hanya mau menggunakan mulut tanpa mau menggunakan telinga,

hanya mau dimengerti tanpa mau dimengerti.

Bangunlah komunikasi yang baik dengan lebih banyak mendengar,

lebih banyak mengerti, lebih banyak gunakan telinga.

Renungan

Bagaimana komunikasi kita dengan Tuhan?

Ketika kita berdoa dan merasa Tuhan tidak menjawab doa kita,

apa  itu berarti hubungan kita dengan Tuhan kurang baik?

Kalau kita memutus doa kita berarti

sudah terjadi hubungan yang kurang baik dengan Tuhan .

(Karena dengan terus berdoa, kita menjaga komunikasi  yang baik dengan Tuhan)

Percayalah Tuhan akan selalu mendengarkan doa kita dan akan mengabulkannya

dengan cara NYA.

Semoga Tuhan kabulkan segala doa permohonan kita pada hari ini.

 

Tuhan Ubah Diri Kita Dahulu

July 1st, 2011

Ketika kita berdoa minta Tuhan ubah hidup kita, dan

ternyata ketika kita bangun dipagi hari, Matahari tetap terbit di timur,

siang hari orang-orang yang kita temui tidak ada yang berubah,

kita tetap menemui masalah setiap harinya.

 Lalu apa yang berubah?

Ternyata yang Tuhan ubah adalah diri kita sendiri.

Tuhan ubah pemahaman dan cara pandang kita terhadap dunia dan

kehidupan secara keseluruhan.

Bersyukurlah untuk itu, bahwa yang Tuhan ubah adalah diri kita terlebih dahulu.

 

Angry and Smile

May 1st, 2011

Biarlah kamu marah, tetapi jangan berbuat dosa berkata-katalah dalam hatimu ditempat tidurmu,tetapi tetaplah diam. Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat.

Korek api mempunyai kepala tapi tidak mempunyai otak, oleh karena itu setiap kali ada gesekan kecil, sang korek api langsung terbakar. Kita mempunyai kepala & juga otak; jadi kita tidak perlu kebakaran jenggot hanya karena gesekan kecil. Jadi dgn menggunakan otak kita dapat mengurangi stress.  

Renungan

Tahukah kita bahwa untuk setiap detik yg diluangkan dalam bentuk kemarahan maka satu menit kebahagian telah terbuang. Mari belajar untuk mengendalikan diri, karna ketika kita bekerja dgn  emosi yg stabil, kita dapat menyingkapi kehidupan dgn lebih arif dan bijaksana.

Semua yg dimulai dgn rasa marah akan berakhir dgn rasa malu dan menyesal..

Apakah bisa dgn hasil maksimal bila kita bekerja dengan cemberut?

Cobalah ganti cemberut kita dengan senyum , pasti hasilnya akan berbeda…..

S……… see

M ……. miracle

I………. in

L …….. life

E……… everyday

 

View Richardus Sendjaja's profile on LinkedIn